My Early Pregnancy Story

20170525211113_IMG_0063-01

Seperti wanita yang sudah menikah lainnya, saya juga ingin diberikan keturunan. Di awal pernikahan, saya dan suami sebenarnya nggak berencana untuk cepat-cepat punya anak. Kita punya prinsip ‘go with the flow‘ aja, ya se-dikasihnya aja kapan. Sampai suatu hari banyak banget teman-teman yang nge-post di social media tentang kehamilan mereka yang membuat saya iri (astaghfirullah!) dan bertanya-tanya ‘Kapan ya gue dikasih? Padahal nikahnya deketan deh perasaan.’ Tapi sebenarnya dalam hati saya juga masih mempertanyakan diri sendiri tentang kesiapan punya anak.

Sampai suatu saat di bulan ke-7 pernikahan kami, saya tiba-tiba pengen banget punya anak. Hampir setiap hari saya rewel banget WhatsApp ke suami pengen punya anak hahaha. Suami nanggepinnya cuma ‘ya semoga aja ya, aamiin.’ Dalam hati saya berdoa supaya di bulan April itu saya nggak ‘dapet’.

Emang dasar nggak sabar, baru juga telat 3 hari dari hari ‘dapet’, saya langsung pengen tes pakai test pack. Kebetulan jadwal ‘dapet’ saya teratur, pasti 28 hari, jadinya kalau telat 3 hari gitu, ya pasti ada sesuatu nggak sih? Waktu itu saya sih berdoa aja sambil nggak terlalu berharap banyak, soalnya takut kecewa. Karena sebelumnya pernah tes and it was just a false alarm. Di apartemen kebetulan ada 1 test pack nganggur yang pernah dibeli dari beberapa bulan sebelumnya. Ya udah deh rencananya mau dipake besok paginya karena katanya urin pertama di pagi hari mengandung hCG paling tinggi, intinya mah paling bagus dan lebih akurat.

Hari itu saya kebangun karena kebelet pipis. Karena kayaknya sudah subuh, saya bawa deh test pack-nya sekalian ke toilet buat tes. Sambil setengah sadar, saya pipis dan melakukan prosedur tes. Nunggu sebentar, tiba-tiba… 2 garis! Reaksi pertama saya cuma ‘Oh.’ Mungkin karena ngantuk juga kali ya. Setelah bersih-bersih, saya ke kamar dan ngecek hp. Laaaaah? Ternyata belom pagi sodara sodara. Masih jam 11 malem! Hahahahahaha.

Hasil test pack-nya saya taroh di meja makan, berharap suami liat waktu dia sahur. Menjelang subuh, saya dibangunin suami sambil ketawa-ketawa bahagia karena hasilnya positif. Tapi karena dia nggak terlalu percaya, hari itu kita berencana untuk beli test pack lagi. Sorenya kita beli 2 test pack dengan merk yang berbeda dan sepulangnya saya langsung tes dan hasilnya tetap 2 garis! Alhamdulillah.

Besoknya kita ke dokter kandungan. Berdasarkan hasil blogwalking dan tanya-tanya dengan beberapa teman yang sudah duluan hamil, akhirnya saya memutuskan untuk ke dokter perempuan saja karena alasan kenyamanan. Kebetulan rumah sakit yang bagus, dekat dengan tempat tinggal, dan ter-cover asuransi kantor suami pastinya, adalah RS Siloam Kebon Jeruk. Jadinya kami ke RS Siloam Kebon Jeruk dan ketemu dengan Dr. Maria Ratna Andijani, Sp.OG.

Karena usia kandungan saya baru 4 minggu, jadi harus di-USG transvaginal. Waktu itu belum kelihatan apa-apa. Kata dokter sedang tahap penebalan dinding rahim dan alhamdulillah waktu disorot ke kanan di kiri rahim nggak ada kista dan penyakit lainnya. Dokter menyarankan untuk datang 2 minggu lagi sejak hari itu sambil memberikan resep vitamin dan obat-obatan yang harus diminum. Waktu itu saya dan suami juga akan traveling dengan jarak yang jauh. Agak deg-degan juga sih tapi atas izin dokter dan petuahnya untuk meningkatkan dosis obat penguat kandungan, alhamdulillah perjalanan aman terkendali sampai kembali ke rumah.

Cerita kontrol kandungan berikutnya beserta pengalaman yang saya rasakan di kehamilan trisemester awal ini akan saya tulis di post selanjutnya ya. Ciao!

aaa

Advertisements