26

photo-1504288041952-91e61c2ebc6e

Sebelum saya menulis postingan ini, saya membaca postingan beberapa tahun yang lalu yang saya tulis setelah hari ulang tahun saya. Ya, postingan ‘wajib’ yang selalu saya tulis dalam rangka memperingati bertambahnya umur saya. Sewaktu membaca postingan tahunan dengan angka 25 di judulnya, saya terkejut. Itu berarti saya akan menulis postingan dengan angka 26 di judulnya. Seriusan nih saya sudah 26 tahun?!

Jujur, saya nggak menanti-nanti hari ulang tahun saya. Saat hari itu tiba, ya biasa saja. Kejadiannya ketebak. Ucapan selamat ulang tahun pertama saya datang dari suami saya di jam 3 pagi. Berikutnya, ucapan datang dari Papi jam 6 pagi. Ya, sudah ketebak juga. Ucapan selamat ulang tahun lainnya datang dalam bentuk teks yang dikirimkan lewat WhatsApp, LINE, atau direct message di Instagram.

Seiring bertambahnya usia, mengucapkan selamat ulang tahun di jam 12 malam nampaknya sesuatu yang nggak penting-penting amat karena yaaa ngapain juga gitu ngantuk, mendingan tidur kan ya. Ucapan yang diterima juga semakin sedikit. Hanya orang-orang terdekat yang memang ingat hari ulang tahun saya ditambah segelintir orang yang diingatkan oleh notifikasi di social media saya.

Kalau ditanya mau kado apa, hmm beneran nggak tahu mau kado apa. Kehadiran Gia sudah lebih dari cukup sebagai kado di umur ke-26 ini. Sejak ada Gia juga saya lebih jarang ingin beli ini itu untuk diri sendiri. Rasanya setiap punya uang lebih, saya ingin belanjakan untuk keperluan Gia saja, entah baju atau sepatu baru. Kayaknya memang semakin bertambah umur, semakin merasa kado itu bukan suatu kewajiban. Tapi ya kalau ada yang maksa mau kasih kado sih saya terima dengan senang hati.

Di umur 26 ini saya hanya inginkan adalah sehat selalu, rezekinya selalu dilancarkan oleh Allah, keluarganya selalu dilindungi oleh Allah, semakin terasah kedewasaannya, bisa menjadi ibu yang baik untuk Gia, dan di-amin-kan setiap doanya.

Amin.

aaa

Advertisements

Becoming Mother

liv-bruce-361672

Pertama, saya nggak pernah kebayang bakal jadi seorang ibu. Bisa main sama anak kecil saja sudah suatu achievement buat saya. Ehm, ralat sedikit. Bisa ngerasa nggak awkward sama anak kecil saja sudah suatu prestasi buat saya. Makanya, saya masih nggak nyangka kalau dalam waktu dekat ini saya akan menjadi ibu. Punya anak yang lahir dari rahim saya sendiri.

Kedua, saya takut melahirkan. Saya sudah baca-baca blog orang, bertanya pada para ibu di kantor, dan mendengar cerita dari teman-teman tentang melahirkan baik secara normal maupun c-section. Waktu itu saya sudah tahu dari jauh-jauh hari, sekitar hamil 6 bulan. Pada saat itu, semuanya terdengar menyeramkan. Sekarang tambah horor lagi kedengarannya. Nggak ada satu pun cerita mereka yang menggambarkan betapa mudahnya melewati proses persalinan. Walaupun di ujung cerita, 99% dari mereka mengatakan hal yang sama: it’s not something traumatic, every woman in this world have passed it successfully, so you can do it! 

Tapi sejujur-jujurnya, jauh dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah rindu dengan anak saya. Sebelum ia terbentuk dengan sempurna, saat baru saja saya dinyatakan akan memiliki seorang anak, saya sudah jatuh cinta dengannya. Saya ingin cepat-cepat bisa memeluk, mencium, merawat anak saya. Pemikiran ini selalu berhasil membuat ketakutan-ketakutan saya hilang; proses melahirkan khususnya normal, takut akan merasa awkward dengan anak, dan bagaimana merawatnya nanti.

Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, saya selalu berdoa agar saya dan anak bayi diberikan keselamatan dan kemudahan ketika melalui proses persalinan. Saya berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi bertemu dengan anak bayi. Mungkin nanti saya bukanlah seorang ibu yang sempurna untuk anak saya, tapi saya berjanji akan merawat, mendidik, membesarkan anak saya dengan penuh perjuangan agar ia kelak menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Minggu ini saya memasuki 38 minggu usia kehamilan. Kalau ditanya, bagaimana perasaan saya, jawabannya insya Allah saya siap untuk bertemu anak saya. See you soon, kiddo luv.

(Photo credit: Liv Bruce from unsplash.com)

aaa

A Little Reminder

SunshineThroughLeaves

Pagi ini saya naik taksi ke kantor. Seperti biasa di perjalanan saya malas ngobrol dengan bapak supirnya. Tapi kebetulan saya dapat bapak supir yang cukup talkative sehingga saya harus merespon setiap perkataannya, entah dengan kalimat yang bernada setuju atau sekedar ketawa kecil. Ketika saya meminta bapak supir untuk membelokkan mobil ke jalan pintas, tiba-tiba beliau bilang, “Saya jadi ingat anak saya kalau lihat neng hamil gede gitu.” Dan percakapan pun menjadi menarik yang akhirnya menggugah hati dan tangan saya untuk menulis post ini.

Bapak supir yang bernama Pak Tohid itu bercerita bahwa anak perempuannya baru saja melahirkan lima hari yang lalu. Beliau teringat akan betapa kesakitan anaknya ketika diantar naik mobil dan harus melewati banyak polisi tidur. Ketika mereka sampai ke bidan, ternyata anak perempuannya dirujuk ke rumah sakit untuk operasi caesar karena posisi bayinya yang sungsang sehingga bidan tidak berani mengambil tindakan. Keluarga Pak Tohid sangat bingung saat itu karena ternyata biayanya sangat mahal yaitu 18 juta, sedangkan uang yang sudah disiapkan hanya 2 juta untuk biaya bidan. Kebingungan tidak berhenti sampai situ, ternyata bayinya lahir prematur sehingga harus disinar sehingga membutuhkan biaya tambahan 3 juta untuk inkubator.

Pak Tohid sangat kelimpungan. Beliau dan istrinya mencari dana bantuan mulai dari saudara, tetangga, mesjid, sampai ke perusahaan taksi tempat beliau bekerja. Alhamdulillah dengan bantuan BPJS dan beberapa pihak, sudah terkumpul beberapa pundi-pundi rupiah untuk biaya rumah sakit anaknya. Namun, biaya masih kurang sekitar 900 ribu lagi yang mana harus dilunasi hari ini juga agar anak dan cucunya bisa segera pulang.

Semua ini Pak Tohid jalani dengan penuh perjuangan dengan lebih giat mencari penumpang demi dapat melunasi biaya yang sangat banyak dan dadakan itu.

“Ya mau gimana lagi neng. Namanya anak ya saya harus berjuang. Mana suaminya tuh udah meninggal waktu hamil 7 bulan. Meninggalnya ketabrak busway.”

Di momen tersebut, saya terenyuh. Saya tidak sanggup membayangkan lebih jauh betapa beratnya menjadi anak perempuan Pak Tohid atau menjadi Pak Tohid-nya sendiri. Pasti berat. Dan saya langsung mengingat akan apa yang telah Allah berikan kepada saya dan keluarga saya sampai saat ini; nikmatnya sehat wal’afiat, kedua orang tua saya yang sangat menyayangi saya, asuransi dari kantor suami untuk biaya rumah sakit, dan yang terpenting adalah keutuhan personil keluarga kami dengan sehat tanpa kurang apapun. Alhamdulillahirabbil’alamin.

Pagi ini saya diingatkan untuk selalu bersyukur dan membantu sesama. Semoga hari ini Pak Tohid dapat banyak pesanan taksi sehingga dapat kembali ke rumah bersama anak dan cucunya. Amin ya Allah.

aaa