Cerita Melahirkan

20171211_113023-01

Alhamdulillah hari Sabtu, 9 Desember 2017 kemarin telah lahir anak pertama saya dan suami yang kami beri nama Gianni Amirandria Susilo, atau yang akan selalu kami panggil Gia. Di postingan kali ini saya mau cerita tentang hari bersejarah itu, dimana saya akhirnya merasakan juga yang namanya melahirkan.

Dimulai jam 7 pagi, saya bangun tidur dan ternyata suami sudah nggak ada di tempat tidur. Saya bangun dari tempat tidur perlahan dan BLESSS! tiba-tiba saya kayak pipis banyak banget sampai netes ke lantai. Pipisnya keluar dengan sendirinya dan memang nggak tertahankan. Setelah saya cek, cairan yang barusan keluar itu nggak berbau dan warnanya bening. Pikiran saya waktu itu, ‘wah jangan-jangan ini air ketuban’. Tapi saya juga teringat seorang teman yang bilang kalau air ketuban itu baunya kayak pemutih pakaian.

Saya sempat ragu tapi entah kenapa mulai yakin dan sedikit takut kalau itu adalah air ketuban beneran. Saya langsung menelpon suami yang ternyata sedang lari pagi sekitar 1,5 km dari rumah dan meminta suami untuk segera pulang. Sementara itu saya langsung mandi dan dandan. Untungnya beberapa hari sebelumnya saya dan suami sudah menyiapkan tas darurat untuk saya, bayi, dan suami, jaga-jaga kalau sudah harus ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit sekitar jam 8 pagi dan kami langsung ke bagian kebidanan. Setelah menceritakan soal pipis tadi pagi, seorang suster menyuruh saya untuk tes kontraksi dengan CTG. 30 menit kemudian, hasil CTG keluar dan ternyata kontraksinya masih 15 menit sekali. Kebetulan banget tiba-tiba dokter kandungan saya, Dr. Maria, ada di tempat. Langsung deh minta tolong Dr. Maria untuk cek ini itu. Ternyata setelah dicek pembukaan, saya sudah pembukaan 1 menuju 2! Saya sudah nggak boleh pulang dan suami akhirnya mengurus untuk kamar rawat inapnya.

Dokter bilang akan dilihat perkembangannya dalam waktu 2 sampai 3 jam ke depan. Kalau pembukaannya belum nambah juga, disarankan untuk induksi saja. Karena dari awal saya ingin lahiran normal, saya pun jalan-jalan di sekitar rumah sakit supaya pembukaannya cepat bertambah. Saya juga diberikan obat supaya semua kotoran saya keluar. Kan nggak lucu ya kalau pas lahiran pupnya ikutan keluar.

Usaha saya untuk jalan kaki bolak-balik sana sini nggak membuahkan hasil. Setelah 3 jam dan dicek pembukaan lagi, ternyata belum bertambah pembukaannya. Akhirnya saya kembali jalan kaki bolak-balik sana sini dan rasanya seneng banget waktu pipis dan menemukan bercak darah. Saya semakin semangat untuk jalan-jalan lagi dan berharap supaya perut segera mules dan pembukaan bertambah.

Tapi ternyata setelah 6 jam sejak dinyatakan sudah pembukaan pertama itu, saya masih stuck di pembukaan yang sama. Memang nggak ada kontraksi yang kata orang-orang mules banget sampai pengen pup sih. Kontraksi yang saya rasakan masih sekedar perut yang mengeras dan mules biasa saja (saya bisa nulis gini setelah merasakan mules yang lebih dahsyat hahaha). Suster sudah menyarankan untuk induksi saja. Keputusan sebenarnya ada di tangan saya, apakah saya mau menunggu kontraksi alami saja atau induksi supaya cepat pembukaannya.

Saya sempat WhatsApp beberapa teman dan juga browsing mengenai induksi. Beberapa dari teman-teman saya nggak pernah merasakan induksi dan nggak menyarankan untuk induksi. Karena yang saya dan mereka tahu, induksi itu katanya sakit banget. Tapi mengingat sudah 6 jam lamanya masih gitu-gitu saja, ya sudah lah akhirnya saya bertekad untuk induksi saja dengan syarat mencoba untuk berjalan keliling rumah sakit lagi selama 1 jam.

Akhirnya tiba lah saatnya untuk diinduksi. Suster mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang bersalin yang ternyata adalah kamar pasien. Saya pikir ruangannya akan horor seperti ruang operasi yang mana nggak boleh banyak orang yang masuk. Nyatanya yang menemani saya ada 3 orang; suami, Ibu saya, dan kakak ipar saya.

Dengan bermodal pasrah, saya tiduran di tempat tidur sambil menunggu suster mencari pembuluh darah untuk diinfus cairan induksinya. Eh tiba-tiba saja saya mendadak mules banget sampai ke tulang belakang, padahal infusnya belum masuk. Itu rasanya beneran sakit sakit banget satu badan. Setelah itu yang saya ingat adalah betapa sakitnya kontraksi yang makin menjadi-jadi plus cek pembukaan yang makin terasa sakit.

Entah jam berapa itu, tiba-tiba saya sudah pembukaan 4. Setelah itu kontraksi makin sakit dan saya cuma bisa minta tolong suami supaya terus di samping saya. Rasanya kesel banget waktu suami berdiri sebentar untuk mengambilkan saya minum dan waktu bilang ‘tarik nafas, buang’ terus menerus, padahal niatnya menyemangati ya haha maaf ya sayang.

Perasaan waktu berjalan lama banget dan saya hampir menyerah saking sakitnya. Dengan sotoynya saya minta ke suster untuk pakai ILA saja dan rasanya mau caesar saja. Tapi suster bilang nggak boleh dan terus menyemangati sampai tiba-tiba saya sudah pembukaan 9. Rasanya beneran pengen ngeden dan mules banget tapi nggak boleh. Itu rasanya kesel banget sih. Dan sedikit lega waktu susternya bilang sudah boleh latihan ngeden. Ya, latihan doang. Ngeden benerannya nanti masih nunggu dokter yang ternyata masih beberapa kilometer dari rumah sakit.

Dan ternyata ngeden itu nggak gampang saudara-saudara. Susternya sempat nanya apakah saya pernah ikut senam hamil atau nggak. Karena nggak pernah sama sekali, akhirnya saya otodidak belajar nafas disitu dibantu suster. Ternyata ngeden melahirkan itu nggak boleh merem, bukan ngeden di leher, dan nggak boleh bersuara apalagi teriak-teriak. Ngeden harus fokus mendorong bayi yang ada di vagina. Nah loh bingung nggak sih?

Saya mulai sedikit lega waktu suster bilang kalau kepala bayinya sudah mulai kelihatan. Tapi lagi-lagi saya belum boleh ngeden terlalu keras. Sampai akhirnya Dr. Maria datang terburu-buru dan entah apa yang dia lakukan di bawah sana, saya sudah nggak kerasa sakitnya. Saya hanya ingin ngeden dan mengeluarkan bayi ini secepatnya. Rasanya seneng banget waktu dokter menyuruh saya untuk ngeden dan tiba-tiba…

BLARRRRR!

Jam 18:40, bayi perempuan itu akhirnya lahir. Rasanya seperti ada yang keluar dengan cepat, pecah, basah, dan yang pasti lega banget. Disitu saya langsung nangis, apalagi waktu denger bayinya nangis dan diletakkan di atas dada saya. Alhamdulillah…

Akhirnya saya merasakan juga yang namanya melahirkan. Sekarang saya tahu, melahirkan itu memang perjuangan antara hidup dan mati, menyakitkan tapi nggak bikin trauma. Jadi, untuk para calon ibu yang mau melahirkan, selamat berjuang dan nggak usah takut. Insya Allah dengan doa, dukungan dari keluarga, dan semangat untuk bertemu adek bayi, proses melahirkan akan terlewati dengan selamat dan lancar. Aaamiin.

aaa

Advertisements

Becoming Mother

liv-bruce-361672

Pertama, saya nggak pernah kebayang bakal jadi seorang ibu. Bisa main sama anak kecil saja sudah suatu achievement buat saya. Ehm, ralat sedikit. Bisa ngerasa nggak awkward sama anak kecil saja sudah suatu prestasi buat saya. Makanya, saya masih nggak nyangka kalau dalam waktu dekat ini saya akan menjadi ibu. Punya anak yang lahir dari rahim saya sendiri.

Kedua, saya takut melahirkan. Saya sudah baca-baca blog orang, bertanya pada para ibu di kantor, dan mendengar cerita dari teman-teman tentang melahirkan baik secara normal maupun c-section. Waktu itu saya sudah tahu dari jauh-jauh hari, sekitar hamil 6 bulan. Pada saat itu, semuanya terdengar menyeramkan. Sekarang tambah horor lagi kedengarannya. Nggak ada satu pun cerita mereka yang menggambarkan betapa mudahnya melewati proses persalinan. Walaupun di ujung cerita, 99% dari mereka mengatakan hal yang sama: it’s not something traumatic, every woman in this world have passed it successfully, so you can do it! 

Tapi sejujur-jujurnya, jauh dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah rindu dengan anak saya. Sebelum ia terbentuk dengan sempurna, saat baru saja saya dinyatakan akan memiliki seorang anak, saya sudah jatuh cinta dengannya. Saya ingin cepat-cepat bisa memeluk, mencium, merawat anak saya. Pemikiran ini selalu berhasil membuat ketakutan-ketakutan saya hilang; proses melahirkan khususnya normal, takut akan merasa awkward dengan anak, dan bagaimana merawatnya nanti.

Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, saya selalu berdoa agar saya dan anak bayi diberikan keselamatan dan kemudahan ketika melalui proses persalinan. Saya berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi bertemu dengan anak bayi. Mungkin nanti saya bukanlah seorang ibu yang sempurna untuk anak saya, tapi saya berjanji akan merawat, mendidik, membesarkan anak saya dengan penuh perjuangan agar ia kelak menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Minggu ini saya memasuki 38 minggu usia kehamilan. Kalau ditanya, bagaimana perasaan saya, jawabannya insya Allah saya siap untuk bertemu anak saya. See you soon, kiddo luv.

(Photo credit: Liv Bruce from unsplash.com)

aaa

Trisemester Ketiga Kehamilan

20171102_074009-01
USG 4D Anak Bayi

Wah nggak kerasa saya sudah masuk ke trisemester ketiga. Saat saya menulis ini, usia kandungan saya sudah 33 minggu. It means, insya Allah I’ll meet my baby in approximately 7 weeks (or less)!

Sebelum trisemester tiga ini berakhir, saya mau berbagi pengalaman yang saya rasakan mulai dari minggu ke-25 sampai sekarang. Intinya sih sekarang saya baru mengerti kenapa menjadi ibu itu begitu istimewanya sampai Rasululah meninggikan derajat ‘ibu’ sampai tiga kali di atas ‘ayah’.

Kaki semakin bengkak dan seperti ditusuk-tusuk
Kalau di trisemester kedua kaki saya baru keliatan bengkak-bengkak lucu, ternyata hal itu sudah nggak lucu lagi sekarang. Semakin bertambahnya berat badan, semakin bengkak kaki karena menopang beban. Saya sampai harus beli sepatu dengan ukuran tiga kali lebih besar. Karena kaki bengkak itu lah saya sekarang mengalami kesulitan ketika sholat terutama posisi duduk diantara dua sujud. Kaki saya benar-benar sudah nggak bisa ditekuk lagi karena sakitnya minta ampun. Akhirnya sekarang kalau bisa sholatnya duduk saja haha.

Ternyata nggak sampai disitu saja. Makin lama kaki saya rasanya seperti ditusuk-tusuk. Awalnya hanya pagi saja setelah bangun tidur. Lama-lama kok jadi setiap saat, sampai tarik-buang nafas kadang terasa sakitnya hiks. Sekarang kalau mau tidur juga jadi susah karena kaki dan telapak kaki rasanya seperti ditusuk terus. Dokter saya menyarankan untuk meminum Biolectra Magnesium untuk mengurangi rasa sakit. Semoga berhasil deh nanti.

Keluar cairan dari payudara
Hal ini baru saya alami ketika memasuki usia kehamilan 25 minggu. Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan baju tidur saya yang selalu ada noda-noda kecil yang agak lengket di daerah payudara. Sampai suatu hari saya melihat sendiri ada cairan kental berwarna putih kekuningan pekat keluar dari payudara kiri saya. Dari payudara kanan saya juga pernah keluar cairan, kadang berwarna putih kadang bening. Sebelum keluarnya cairan, puting rasanya seperti digigit semut dan payudara rasanya kencang. Bisa dibayangkan ya rasanya gimana, lumayan lah ya rasanya.

Setelah saya cari tahu, kemungkinan cairan tersebut adalah kolostrum, yaitu cairan bernutrisi tinggi yang diproduksi payudara sebelum ASI dibentuk. Keluarnya kolostrum dari payudara saat hamil adalah hal yang normal. Biasanya kolostrum keluar pada ibu hamil di usia kehamilan 20 mingguan. Hal ini membuat saya tenang dan senang karena kemungkinan payudara sedang memproduksi ASI dan semoga selalu bisa memenuhi kebutuhan anak bayi kelak.

Mules atau kontraksi?
Di bulan ke-delapan ini saya sering merasa mules. Kalau kata orang dan beberapa artikel yang saya baca sih sudah mulai kontraksi. Ada yang bilang kalau kontraksi ini adalah kontraksi palsu atau Braxton Hicks karena frekuensinya nggak teratur dan nyerinya belum sampai ke pinggang seperti kontraksi asli. Rasa mulesnya tuh seperti ada yang muter-muter di dalam, perut terasa kencang, dan mirip dengan sakit perut ketika haid. Kadang mulesnya nggak begitu sakit, malah lucu geli-geli dari atas ke bawah gitu. Tapi kebanyakan sih mulesnya agak terasa sakit. Apalagi kalau lagi lewat polisi tidur atau lobang di jalan, wah mantap!

Ngos-ngosan dan berkeringat
Semakin besar perut, semakin pendek nafasnya. Rasanya engap banget sehingga sering ngos-ngosan. Duduk saja bisa ngos-ngosan lho kalau posisinya nggak tegak sempurna. Kalau jalan dengan jarak yang cukup jauh dan naik turun tangga sudah pasti ngos-ngosannya parah.

Keringat juga masih sering mengucur dengan deras sehingga kemana-mana saya harus bawa kipas kalau nggak di ruangan ber-AC. Kalau masuk ke mobil, fan AC pasti minimal tiga bar biar nggak gerah. Kadang juga di ruangan AC saya bisa merasa gerah kalau fan-nya kecil. Yang ajaib adalah saya bisa berkeringat seperti orang habis olahraga berat setelah membersihkan tempat tidur dan menyapu kamar berukuran kecil.

Kulit sekitar paha gatal
Seperti kebanyakan ibu hamil, saya juga merasa gatal pada perut yang membesar. Tapi mungkin berkat lotion yang saya pakai setiap habis mandi di perut, jadinya saya jarang menggaruk perut. Kecuali saya memakai celana bahan tertentu, kadang nggak kuat sama gatalnya jadinya saya garuk sedikit. Alhamdulillah nggak ada stretchmark di perut saya.

Yang parah adalah mulai dari (maaf) pantat sampai paha bagian bawah. Wah yang namanya guratan stretchmark udah banyak banget. Awalnya memang nggak gatal, tapi belakangan gatalnya parah. Sebisa mungkin saya menahan diri untuk nggak garuk bagian gatalnya karena kalau digaruk pasti PR saya semakin banyak setelah melahirkan nanti.

Tulang rusuk kiri sakit
Selama hamil saya selalu tidur miring ke kiri. Di trisemester kedua, hal tersebut nyaman sekali. Kalau tidur miring ke kanan malah jadinya sakit tulang rusuknya. Nah, semenjak trisemester ketiga dengan perut yang semakin bulat ke depan dan posisi anak bayi yang kepalanya sudah turun, tidur miring ke kiri sama menyiksanya dengan tidur miring ke kanan. Tulang rusuk kiri sakit sekali. Rasanya tuh kayak perih dan panas di dalam. Menurut dokter, karena posisi bayi yang sudah memutar ke bawah dan kakinya ke atas, maka tulang rusuk serasa ditendang anak bayi.

Tidur dan bangun tidur nggak nyaman
Ternyata yang saya baca di blog orang-orang tentang tidur yang nggak nyaman di saat hamil tua terjadi juga pada saya. Sekarang kalau mau tidur ribet banget. Pertama, harus menyiapkan formasi bantal dan guling yang tepat. Kedua, naik ke tempat tidur yang penuh perjuangan karena tulang selangkangan semakin hari semakin sakit. Ketiga, memutar badan ke posisi tidur yang benar. Keempat, secara perlahan merebahkan badan ke tempat tidur dan langsung miring ke kiri. Kelima, tidur dengan posisi itu sampai pagi. Perlu diketahui kalau tidur miring ke kiri tanpa gerak sampai pagi itu pegelnya super dahsyat. Kaki pegel, badan pegel.

Kalau ritual bangun tidurnya juga lumayan ribet. Pertama melek dulu dong ya. Kedua, ancang-ancang untuk mendorong badan ke atas untuk bangun. Ketiga, mendorong badan ke atas untuk bangun. Keempat, memutar kaki dan badan ke pinggir tempat tidur untuk bersiap turun dari tempat tidur. Nah, dari empat proses ini yang super sakit adalah proses ketiga dan keempat. Mendorong badan untuk bangun sekarang rasanya berat banget karena perutnya sudah besar plus tulang rusuk kiri yang perih itu terasa sakit. Memutar kaki juga sama sakitnya karena tulang selangkangan yang semakin renggang.

Sering buang air kecil
Selama hamil saya mencoba untuk banyak minum air putih supaya nggak dehidrasi. Karena sering minum, saya jadi sering bolak-balik toilet untuk buang air kecil. Hal ini bagus sih sebenarnya. Cuma ya rasanya capek aja setiap 10 menit sekali harus ke toilet. Ini semua karena posisi anak bayi yang sudah di bawah sehingga tekanan di kandung kemih semakin meningkat. Nggak apa-apa deh yang penting anak bayi nggak kehausan di dalam sana.

Jari tangan kaku
Hal ini baru saya alami sekitar 2 minggu lalu. Jari tangan saya kaku semua tepat saat bangun tidur. Seperti biasa saya coba cari tahu di forum-forum ibu hamil dan ternyata saya nggak sendirian. Jari tangan kaku ternyata wajar terjadi di bulan ke-8 menuju ke-9. Penyebabnya adalah penimbunan cairan di dalam tubuh yang berlebih, melonjaknya berat badan, dan mengkonsumsi makanan yang asin. Tapi susah sih bagi saya untuk mengurangi makanan asin huhu gimana ya.

 

Seperti itu lah hal-hal yang saya alami selama 33 minggu hamil ini. Semoga selalu diberi kesabaran menghadapi gejala-gejala yang nggak enak tersebut. Yang penting sih anak bayi selalu dalam keadaan sehat di dalam sana. Nggak apa-apa deh saya menderita kesakitan yang penting anak saya tumbuh kembangnya baik. Ibu-ibu banget yah? Hehehe.

aaa