7 Perlengkapan Bayi Kembar Newborn Terpenting

Nggak kerasa usia kehamilan saya sudah 28 minggu lebih. Itu berarti sekitar dua bulan lagi Insya Allah saya akan bertemu twinnies.

Sedikit update kondisi kehamilan, sekarang perut saya benar-benar bulat dan besar. Bayi yang makin besar di dalam menekan ke semua arah; atas dan bawah. Menekan atas membuat tulang rusuk saya perih dan sering sesak nafas. Menekan bawah membuat tulang selangkangan saya sakit sehingga agak susah berjalan.

Karena kondisi yang semakin ‘weak‘ ini, saya memutuskan harus segera mempersiapkan barang-barang untuk twinnies. Kalau nunggu kehamilan bulan ke-8 kayaknya sih saya nggak sanggup ya. Jadi mendingan sekarang di saat saya masih mampu jalan-jalan walau memang sudah gampang capek.

Tahun lalu, saat menyambut kelahiran anak pertama, banyak banget barang yang dibeli dan ternyata beberapa barang malah nggak terpakai sama sekali. Jadi, menyambut bayi kedua dan ketiga ini, saya lebih selektif dalam menyusun daftar belanjaan. Untuk memudahkan, saya akan mengelompokkan barang-barang sesuai dengan kategori peruntukannya. Berikut barang-barang yang dibutuhkan untuk menyambut kehadiran twinnies.

(1) Perlengkapan pakaian bayi

  • Baju lengan pendek (12 pcs)
  • Baju lengan panjang (12 pcs)
  • Celana pendek (12 pcs)
  • Celana panjang (12 pcs)
  • Baju tidur kaki tertutup (12 pcs)
  • Sarung tangan + kaki (8 pasang)
  • Kaos kaki (8 pasang)
  • Set baju pergi (6 set)

    Tips: Berdasarkan pengalaman, bayi itu cepet banget tumbuhnya. Jadi kalau mau beli pakaian bayi sebaiknya sedikit saja dan beli beberapa potong yang ukurannya lebih besar dari umurnya. Jadi kalau bisa di-mix antara pakaian ukuran 0-3 bulan dengan 3-6 bulan. Hal seperti ini berulang mengikuti umur dan ukuran badan anak.

(2) Perlengkapan mandi

  • Bak mandi (1 pc)
  • Waslap (4 pcs)
  • Handuk (4 pcs)
  • Perlak/ alas anti air (1 pc)
  • Diapers (2 packs)
  • Tissue basah (4 pcs)
  • Sabun & Shampoo 2in1 (1 pc)
  • Lotion bayi (1 pc)
  • Kasa alkohol Alkafil (2 packs)

    Tips: Saya menyarankan untuk membeli diapers dan bukan popok kain. Alasannya sih karena saya ingin yang simpel dan mengurangi tumpukan cucian. Demi menjaga kewarasan saat mengurus bayi, sebaiknya sih pakai disposable diapers. Tinggal kita pilih saja merk apa yang cocok dengan kulit anak kita. Jangan lupa untuk beli kasa alkohol untuk membersihkan tali pusar. Kalau saya pilih yang merk Alkafil, banyak di jual di apotik dan toko bayi. 

(3) Perlengkapan tidur

  • Box bayi berkelambu (2 pcs)
  • Selimut (2 pcs)
  • Set bantal dan guling (2 set)
  • Alas kain (6 pcs)

    Tips: Box bayi sebenarnya pilihan. Ada juga yang lebih prefer dengan kasur. Karena pengalaman buruk pernah menaruh bayi di kasur pada siang hari dan jatuh, saya pilih box berkelambu yang aman untuk tidur siangnya. Kalau malam tetap tidur bersama saya di kasur. Alas kain juga penting supaya kasur nggak cepat kotor. Jangan lupa pilih alas kain yang lembut dan gampang menyerap keringat.

(4) Perlengkapan menyusui

  • Botol dot bayi (4 pcs)
  • Breast pump (1 pc)
  • Botol pumping (2 pcs)
  • Sterilizer/ panci khusus rebus botol (1 pc)
  • Breastmilk storage (1 pack)
  • Bantal menyusui (1 pc)
  • Cover menyusui (2 pcs)

    Tips: Walaupun nantinya akan direct breastfeeding dan saya sudah nggak bekerja, tapi saya tetap beli botol dot bayi untuk jaga-jaga. Menurut pengalaman teman-teman yang punya anak kembar, menyusui anak kembar sekaligus sangat melelahkan. Ada kalanya bayi satu menyusui langsung dan yang satunya lagi diberikan susu dalam botol dot. Jadi saya tetap siap sedia botol dot beserta seperangkat alat pumping-nya. 

(5) Perlengkapan kesehatan

  • Thermometer (1 pc)
  • Gunting kuku (1 pc)
  • Kain kasa (1 pack)
  • Minyak telon (1 pc)
  • Sisir bayi (1 pc)

    Tips: Pilih thermometer digital yang ditempelkan ke telinga untuk mengukur suhu. Alasannya simpel sih nggak harus buka baju untuk mengukur suhu di ketiak. Lagipula lebih steril yang model ditempelkan di telinga karena ada disposable covernya juga supaya tetap bersih. Untuk minyak telon harus siap sedia karena berguna banget di kala anak sedang batuk pilek. Tapi jangan setiap habis mandi dipakein minyak telon ya, nggak bagus untuk kulitnya. Jadi seperlunya saja. 

(6) Perlengkapan berpergian

  • Stroller twins (1 pc)
  • Alas stroller (2 pcs)
  • Tas bayi/ diaper bag (1 pc)
  • Gendongan tipe SSC (1 pc)

    Tips: Sebenarnya ini opsional aja ya. Kalau saya pribadi tetap akan beli stroller dan gendongan yang tipe SSC (Soft Structures Carrier). Menurut saya pribadi, keuntungan stroller bisa digunakan untuk menjemur bayi sekalian jalan-jalan. Nggak pegel juga kalau pakai stroller. Sedangkan gendongan SSC untuk menggendong bayi (secara bergantian pastinya) di kala menangis dan nggak pegel juga pakai itu. Untuk tas bayi, sebaiknya satu saja tapi yang agak besar untuk menampung semua barang-barang twinnies. 

(7) Perlengkapan untuk ibu

  • Pembalut nifas (2 packs)
  • Bra menyusui (6 pcs)
  • Korset (3 pcs)

    Tips: Selain mempersiapkan barang untuk bayi, barang-barang untuk ibunya nggak kalah penting untuk dipersiapkan di tas emergency. Untuk bra menyusui sebaiknya pilih 2 size lebih besar dari biasanya karena saat menyusui payudara cenderung lebih besar daripada ukuran normal. Dan pengalaman pribadi, korset ini penting banget ya. Terutama 40 hari setelah melahirkan agar dipakai setiap hari supaya rahim cepat kembali ke ukuran normal dan perut juga nggak bergelambir. 


Jumlah barang yang saya tuliskan di atas adalah estimasi untuk anak kembar ya. Jadi kalau untuk satu anak mungkin bisa disesuaikan. Kalau ada barang yang terlewat mungkin bisa dishare di kolom komentar ya hehe. Semoga bermanfaat ya.

Happy shopping and nesting!

aaa

Advertisements

Review Tissue Basah Bayi

Slide2

Setelah Gia lahir, tissue basah atau baby wipes jadi most wanted item di dalam tas. Kemana pun Gia pergi, tissue basah harus selalu ada. Ya iya lah, kalau nggak, gimana ganti popoknya. Oh iya, saya memang masih pakai tissue basah sebagai media untuk acara ganti popok karena saya belum berani dan belum ngerti banget gimana caranya nyebokin bayi pakai air di toilet. Mungkin nanti kalau Gia udah bisa berdiri dan jalan kali ya.

Oke, balik ke topik dari postingan ini. Saya akan bahas tissue basah yang pernah dipakai Gia. Tadinya saya pikir semua merk tissue basah sama saja; tissue yang sudah basah dalam kemasan dan dipergunakan untuk ganti popok atau lap ini itu. Tapi ternyata merk satu dan lainnya beda. Di postingan ini saya akan bahas perbedaan beberapa merk tissue basah khususnya yang for baby wipes yang pernah saya coba ya.

Slide1

  1. MamyPoko Baby Care Wipes Regular
    Ini adalah merk tissue basah pertama yang saya coba. Bisa dibilang saya sering juga beli merk ini karena setiap ke rak bagian tissue basah bayi, merk ini selalu tersedia dalam 1 bundle buy-1-get-1 dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 17,500/ bundle. Insting mamak-mamak saya pastinya pilih yang modelan kayak gitu dong biar hemat hehe.

    MamyPoko Baby Care Wipes tersedia dalam dua kemasan; yang isi 80 sheets dan 52 sheets. Yang biasanya bundle buy-1-get-1 itu yang isi 52 sheets. Walaupun jumlah lembaran tissuenya terdengar ganjil (kenapa nggak digenapin jadi 60 gitu ya hehe), tapi jumlah ini terbilang cukup. Kalau ditaroh di tas nggak terlalu makan tempat dan bisa bertahan sekitar 4-5 hari.

    Variannya juga ada dua; fragrance dan non-fragrance. Kalau saya sih lebih milih yang non-fragrance karena takut Gia iritasi. Walaupun sebenarnya MamyPoko mengklaim nggak ada alkohol dan kandungannya air murni di tissuenya, tapi tetap prefer yang non-fragrance.  Kadang butuh juga sih ya yang fragrance, soalnya itu lumayan jadi penyelamat hidung dikala membersihkan pup.

    Tissuenya sendiri, ketika dipakaikan ke kulit Gia juga basahnya juga pas. Efeknya nggak yang basah banget kayak abis pakai 3 lembar tissue sekaligus gitu. Ketebalan tissuenya nggak begitu tebal sih tapi nggak tipis juga. Lembaran tissuenya disusunnya juga bagus, jadinya ngambil perlembar gampang dan nggak ngebundle dengan lembaran lainnya. Tissue ini kalau ditinggal terbuka di suhu ruangan juga nggak gampang kering.

    Overall: ★★★★☆

  2. Mitu Baby
    “Ambil Mitu, ambil Mitu, Mitu lagi, Mitu lagi, ambil Mitu.”

    You sing, you lose (and it’s a prove that you’re old enough) hahaha. Saking seringnya denger jingle iklan itu, sampai sekarang tertanam di otak kalau tissue basah ya Mitu. Sejak ada Gia, saya makin sering ketemu sama si Mitu ini.

    Kalau dulu saya taunya Mitu cuma ada yang model tabung dan ditarik ke atas kalau mau ambil tissuenya. Tapi ternyata ada kemasan travel pack yang lebih praktis. Dan Mitu ini banyaaak banget ya rangkaian produknya; ada yang Antiseptic, Fresh & Clean, Changing Diaper, dan New Baby Sensitive. Kalau saya seringnya ambil yang Changing Diaper warna pink dan biru yang memang khusus untuk ganti popok.

    Isinya ada 50 lembar tissue basah yang wangi banget; ada wangi chamomile (kemasan pink) dan chysanthemum (kemasan biru). Tekstur tissuenya lebih berserat, terlihat tipis, dan kalau dipegang basahnya juga pas. Saat dipakaikan ke permukaan kulit Gia terasa pas basahnya dan langsung mengangkat semua kotoran. Kalau pakai Mitu tapi harus ingat untuk segera menutup kembali kemasannya karena gampang banget kering kalau dibiarkan terbuka di suhu ruangan.

    Secara harga, Mitu memang agak pricey. Untuk bundle buy-1-get-1 di harga Rp 21,500 dan untuk satuannya Rp 12,500. Walaupun agak mahal sedikit, tapi saya biasanya memilih Mitu kalau nggak ada merk lain yang lebih murah (baca: MamyPoko) dan bagusnya, Mitu ini gampang banget ditemukan di supermarket manapun.

    Overall: ★★★☆☆

  3. Paseo Baby Wipes
    Saya beberapa kali nyoba pakai merk ini karena waktu itu nggak ada merk lain lagi. Paseo Baby Wipes ini nggak di semua tempat ada. Yang saya sering lihat sih di supermarket yang middle to large aja adanya. Kalau yang semacam minimarket gitu kadang suka nggak ada.

    Merk Paseo juga pasti udah pada tau kan ya. Kayaknya kalau tissue ya ingetnya Paseo. Tapi kalau yang tissue basah, saya baru tau waktu udah punya bayi. Sama seperti MamyPoko, Paseo ini juga isinya tanggung banget, 52 lembar. Paseo cuma punya 1 varian tissue basah yang memang khusus untuk bayi.

    Beda merk, beda juga spesifikasi tissuenya. Paseo Baby Wipes ini lebih tebal daripada yang lain dan kalau dipegang basah banget. Literally basah sampai bisa keluar tetesan airnya kalau diperas. Kalau diaplikasikan ke kulit, beneran basah banget dan kadang sampai ada busa sabunnya. Jadi rasanya kalau pakai Paseo Baby Wipes, bersih banget acara ganti popok karena tissuenya kayak udah ada sabunnya.

    Paseo Baby Wipes ini ada versi bundle buy-1-get-1 juga, tapi saya nggak pernah nemu sih. Jadi selalu beli satuan yang mana harganya Rp 19,000. Agak lumayan yaa harganya. Tapi kalau dari spesifikasi tissuenya yang bebas alkohol, ada kandungan chamomile, lidah buaya, dan vitamin E yang lembut dan nggak bikin iritasi kulit, cukup oke lah.

    Overall: ★★★★☆

  4. Pigeon Baby Wipes
    Waktu saya datang ke counter Pigeon, saya iseng nyobain beli tissue basahnya karena kebetulan lagi abis juga di diaper bag-nya Gia. Pigeon Baby Wipes punya lima produk yang berbeda-beda tergantung fungsinya; Baby Wipes Chamomile Scented, Baby Wipes Chamomile, Baby Wipes Moisturizing Cloth, Hand and Mouth Wet Tissue, dan Wipes Anti Bacterial. Waktu itu saya belinya yang Wipes Anti Bacterial isi 20 lembar yang kemasannya imut-imut kecil gampang diselipin di diaper bag.

    Walaupun kemasannya imut, ternyata tissuenya cukup lebar, jadi saya biasanya pakai 1 lembar tissue udah cukup banget buat ganti popok Gia. Walaupun menurut saya agak ganggu sih setiap lembaran tissuenya dilipat, jadinya agak kurang praktis kalau buru-buru mau pakai karena harus dibuka dulu lipatan tissuenya.

    Tingkat kebasahan tissuenya sedang sih menurut saya. Kalau dipakaikan ke kulit basahnya pas dan nggak begitu cepat kering. Dan untuk ketebalannya juga pas, nggak terlalu tebal dan nggak terlalu tipis. Tapi saya tetap pakai minimal 2 lembar kalau mau ganti popok Gia pakai Pigeon Baby Wipes ini.

    Kalau soal harga, Pigeon kayaknya paling mahal diantara yang lain. Untuk yang isi 20 lembar saja harganya Rp 16,500. Jadi, kalau saya kadang-kadang aja deh beli merk ini kalau nemu dan perlu banget beli. Soalnya nggak di semua supermarket menjual produk ini.

    Overall: ★★★☆☆

  5. Cussons Baby Wipes
    Tissue basah merk ini kayaknya paling banyak variannya deh. Kalau di rak supermarket pasti banyak banget Cussons Baby Wipes warna-warni bertebaran; warna kuning (Protect Care Antibacterial Wipes), ungu (Fresh & Nourish Baby Wipes), hijau (Naturally Refreshing Baby Wipes), krem (Sensitive Baby Wipes), biru (Mild & Gentle Baby Wipes), dan pink (Soft & Smooth Baby Wipes).

    Karena terbiasa ambil tissue basah yang warna pink, jadi lah saya belinya yang Soft & Smooth Baby Wipes. Pertama kali dibuka langsung ada semerbak wangi bunga, jadi nyaman di hidung saat membersihkan kotoran. Tissuenya lumayan tebal dan kalau diusapkan ke kulit basahnya pas. Kandungan almond oil di tissuenya juga yang bikin tissuenya lembuuut banget.

    Cussons Baby Wipes yang saya beli biasanya yang isi 50 lembar. Harga satuannya Rp 19,500, hmm a bit pricey ya. Tapi oke lah kalau kepepet harus beli.

    Overall: ★★★☆☆

Nah itu dia review tissue basah ala saya. Jadi sebenernya tiap merk itu punya spesifikasi tissue masing-masing dengan harga yang berbeda-beda juga hehe. Kalau saya pribadi sih tetep pilih yang nggak terlalu mahal dengan kualitas yang oke. Karena kan untuk ganti popok bayi masa sih kita kasih yang nggak bagus hehe. Semoga bermanfaat ya review-an saya kali ini.

aaa

Persiapan MPASI Gia

Slide1

(Diposting oleh Ibu di usia Gia yang ke 8,5 bulan akibat mood naik turun dan aktivitas yang menguras waktu dan tenaga)

Time flies. Tiba-tiba Gia sudah 6 bulan dan itu lah saatnya Gia dan Ibu mulai belajar lagi. Gia belajar makan, sementara Ibu belajar memasak. Untuk saya yang bisa dibilang nggak bisa masak, fase ini menjadi sebuah tantangan. Makanya sebelum Gia 6 bulan, saya banyak mencari tahu serba serbi MPASI supaya bisa maksimal menjalani masa-masa MPASI dengan baik, benar, dan yang pastinya happy for the both side.

Nah di postingan ini, saya akan bahas segala sesuatunya sebelum saya memulai MPASI. Pertama, saya mau bahas tentang perlengkapan tempur yang saya siapkan.

Slide2

Yak, kita bahas satu-satu ya perlengkapan apa saja yang saya siapkan jauh-jauh hari sebelum MPASI dimulai.

  1. Alat makan
    Pastinya kalau mau makan ya yang disiapkan pertama kali adalah alat makannya yang terdiri dari piring dan sendok. Kalau garpu belum butuh ya buibu. Dan saya pun belum pernah lihat ada garpu dijual dalam satu set alat makan bayi hehe.

    Kalau saya pribadi pakai Pigeon Feeding Set Mini yang konon menjadi alat makan bayi sejuta umat. Saya juga nggak beli, alhamdulillah dapat dari kado waktu Gia lahir.

    Sedikit mau bahas soal Pigeon Feeding Set Mini nih. Jadi, di dalam set itu akan dapat satu piring lebar, satu piring kecil yang mungkin lebih cocok disebut bowl, sendok panjang, dan sendok yang pendek. Saya sendiri kurang tahu kegunaan sendok panjang pendek ini untuk apa, yang jelas sih saya selalu pakai yang panjang karena lebih enak untuk menyuapi Gia. Piringnya pun lebih sering pakai yang berbentuk bowl karena lebih kecil, gampang dibawa-bawa, makanan lebih banyak tertampung, yaaa intinya ergonomis lah. Harganya juga terjangkau. Kalau lihat di beberapa marketplace, harganya berkisar sekitar Rp 60,000 – Rp 75,000.

  2. Slow cooker
    Jauh sebelum MPASI Gia dimulai, saya sudah disarankan untuk beli slow cooker oleh beberapa teman. Slow cooker yang saya pilih adalah Baby Safe Digital Slow Cooker yang harganya cukup terjangkau. Kapasitasnya nggak beigitu besar, hanya 0,8L. Bedanya dengan slow cooker Baby Safe yang lain adalah timer yang disetting secara digital dan jelas pilihan waktu memasaknya; 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan menghangatkan. Untuk harganya, saya beli bervariasi sekitar Rp 150,000 – Rp 170,000 tergantung penjualnya.

    Dengan slow cooker, proses masak memasak terutama bubur sangat mudah dan cocok untuk ibu bekerja seperti saya. Kalau mau masak bubur, malamnya tinggal memasukkan bahan-bahan ke dalam slow cooker, kasih air, atur lama waktu memasak, udah deh bisa ditinggal tidur semalaman dan paginya bubur sudah jadi. Selain bubur, slow cooker juga berguna untuk membuat kaldu. Sejauh ini saya baru sekali membuat kaldu ikan salmon pakai slow cooker.

  3. Baby food maker
    Karena menu untuk Gia nggak selalu bubur, saya pakai food processor/ food maker. Kebetulan saya dikasih yang merk Baby Safe waktu Gia lahiran kemarin (super thanks Gerombolan luv!). Saya sangat bersyukur sekali dikasih Baby Safe Food Maker ini karena fungsinya bisa kukus dan blender sekaligus. Harganya saya nggak tahu pasti karena kado. Tapi saya googling sih sekitar Rp 450,000 – Rp 500,000.

    Caranya gampang banget. Tinggal cemplungin bahan-bahan yang mau dimasak, terus set mau berapa menit mengkukus, abis itu kalau sudah mateng, tinggal buang air kukusan, tambahkan sedikit air, dan langsung deh blender. Simpel banget kan? Bersihinnya juga gampang karena mata pisau blender bisa dilepas dari wadahnya.

  4. Food container
    Nama simpelnya mungkin wadah penyimpanan tertutup kali ya. Saya pakai merk Claris dengan tiga macam ukuran; 100 ml, 750 ml, dan 1.350 ml. Ukuran paling kecil yaitu 100 ml adalah wadah makan yang saya siapkan untuk berpergian. Biasanya satu tempat ukuran 100 ml untuk sekali Gia makan. Ukuran berikutnya adalah 750 ml yang saya gunakan untuk menyimpan potongan-potongan buah untuk Gia. Bisa juga dipakai untuk menyimpan wadah yang lebih kecil untuk berpergian. Yang ukuran 1.350 ml ini juga bisa dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan dan untuk berpergian.

    Kelebihan menggunakan food container adalah takaran makanan lebih terukur dan praktis dibawa kemana-mana. Untuk fungsi penyimpanan makanan pun juga lebih hemat plastik dan pastinya lebih aman. Kekurangannya hampir nggak ada ya, palingan capek nyuci aja.

  5. Saringan, wajan, dan talenan
    Untuk tiga barang ini, saya khusus beli untuk menyiapkan makanan Gia. Talenan dan wajan sengaja saya beli karena saya nggak mau tercampur dengan bekas masakan rumah dewasa. Alasannya karena biar higienis dan biar baru aja hehe. Pisaunya juga saya beli lagi khusus untuk motong-motong bahan makanannya Gia.Saringan juga wajib punya ya buibu. Terutama di awal MPASI, saringan ini penting banget. Kalau menunya lagi bubur, saya pasti pakai saringan untuk membuat teksturnya jadi lebih halus. Kalau menu kentang biasanya sudah halus karena saya kukus blender. Saringan juga bisa dipakai untuk menyaring buah-buahan supaya lebih halus.
  6. YouTube & WhatsApp
    Menurut saya, selain peralatan yang akan disimpan di dapur, kita juga perlu persiapan tempur lainnya yang nggak kalah penting, yaitu bekal pengetahuan tentang MPASI itu sendiri. Dua media yang selalu jadi andalan saya adalah YouTube dan WhatsApp.

    Sebelum mulai MPASI, saya rajin nonton YouTube dengan keyword MPASI. Mulai dari peralatan apa saja sampai resep semua ada yang share disana. Saya juga nonton mulai dari yang vlognya bagus dan niat sampai yang cuma slideshow foto-foto yang disertai tulisan bejibun.

    Selain itu untuk menambah ilmu lagi, saya ikutan kulwap alias kuliah WhatsApp lewat grup-grup di WhatsApp. Demi menambah teman dan wawasan, saya ikut grup BC (birth club) bulan Desember 2017 yang mana isinya ibu-ibu dengan bayi seumuran Gia semua dan grup MPASI homemade yang isinya sebenernya nggak tentang MPASI juga sih tapi lumayan membantu kalau mau tanya-tanya.

  7. Perlengkapan pendamping: bib/ slabber, dot, kursi makan
    Baru kepikiran pas nulis, jadinya nggak ada di gambar. Tiga hal ini penting juga sih menurut saya. Bib/ slabber/ celemek saya pilih yang bahan karet supaya gampang dibersihkan dari segala macam noda.

    Untuk media air minum saya pilih dot karena hmm Gia udah pinter ngedotnya sih jadi gampang haha. Sebenernya saya mau memperkenalkan dengan sippy cup tapi belum jadi nih. Mungkin di bulan ke 9 saya mulai coba beralih ke sippy cup dan semoga anaknya juga pinter nyedotnya.

    Terakhir, kursi makan. Saya adalah ibu-ibu dengan paham kalau makan itu ya harus duduk tertib di kursi makan. Nggak ada acara digendong atau dibiarin kesana kemari sambil disuapin. Apapun kondisinya, kalau mau makan ya harus duduk di kursi dan boleh pindah dari kursi kalau acara makan sudah selesai. Jadi, kursi makan ini penting buat saya. Yang saya pakai bukan high chair sih, tapi foldable booster seat supaya gampang dibawa kemana-mana.

Kedua, yang akan saya bahas adalah waktu pemberian makan. Jujur, ini juga yang bikin saya sempat galau dalam menentukan waktunya. Soalnya beda-beda sih ya. Ada yang 2x sehari, ada yang 3x sehari, bahkan ada yang 4x sehari terdiri dari 3x makan besar dan 1x snack. Jamnya pun bervariasi, tergantung masing-masing emak aja gimana.

Akhirnya setelah cari tau kesana kemari dan pengalaman praktek langsung, saya akhirnya mendapatkan jadwal yang tepat untuk saya dan Gia, yaitu makan 3x sehari (makan pagi, siang, dan sore). Jamnya juga saya tetapkan jam 08:00, jam 12:00, dan jam 16:00, sesuai dengan jadwal kegiatan Gia.

Ketiga, yang nggak kalah penting adalah teknik pemberian makan. Ngebahas hal ini umumnya mengacu kepada dua opsi: spoon-feeding alias nyuapin anak atau BLW (Baby Lead Weaning) alias biarin anak makan pakai tangannya sendiri. Dan buanyaaak banget perdebatan soal hal ini di kalangan mommies. Tapi saya pribadi sih nggak ambil pusing karena dari awal saya dan suami sudah memutuskan untuk ambil teknik yang tersimpel untuk diaplikasikan: anaknya disuapin aja lah.

Semuanya memang ada plus dan minusnya ya. Tapi setelah baca sana sini dan diskusi, inilah beberapa pertimbangan saya memilih spoon-feeding ketimbang BLW;

  1. Gampang dan praktis
    Walaupun di awal-awal emang susah ya nyuapin bayi karena kan mereka belajar mengunyah dan menelan. Tapi asli, teknik spoon-feeding ini gampang banget dan bisa diaplikasikan oleh siapa saja.
  2. Mengejar ketertinggalan BB
    Berat badan Gia memang nggak kayak bayi-bayi lain yang sudah mencapai bahkan melebihi rata-rata. Gia termasuk bayi yang BB-nya perlu dikejar. Makanya saya pilih spoon-feeding supaya asupan nutrisi yang masuk lebih maksimal.
  3. Lebih rapi
    Sebenarnya mau spoon-feeding atau BLW ya namanya bayi pasti kalau makan ya berantakan. Tapi menurut saya kalau dengan disuapin, sekitar bayi bisa lebih rapi. Kalau ada yang tumpah bisa segera dilap dan jarak makanan yang jatuh nggak begitu jauh-jauh. Karena saya kurang begitu suka sama yang berantakan gitu, jadi poin ini penting juga untuk menjaga kewarasan saya.

Sekali lagi, teknik ini pilihan lho ya. Jadi sebaiknya udah nggak perlu lah debat antar emak-emak karena merasa teknik pilihannya yang terbaik sedunia. Karena pasti setiap anak kan beda-beda ya treatmentnya dan hanya emaknya lah yang paling tau yang terbaik.

Keempat, dan yang terakhir akan saya bahas sedikit adalah menu makanan. Mau cerita sedikit, sebelum MPASI dimulai saya sudah punya gambaran akan memberikan menu apa ke Gia. Tapi kenyataannya waktu praktek, rencana itu gagal semua saking dirasa terlalu idealis haha. Kebetulan waktu Gia mulai MPASI pas banget waktu lagi mudik. Jadi saya nggak sempat masak ini itu. Jadinya kasih yang instan deh. Dan berakhir di tempat sampah dong karena waktu itu kebanyakan dan Gia belum pinter makannya.

Setelah Gia mulai pinter makan, saya sudah mulai menemukan menu makanan apa yang pas untuk Gia. Yang pasti Gia makan 3x sehari. Kadang paginya buah, kadang langsung makanan berat. Kalau siang dan sore pastinya makanan berat. Menunya sendiri beragam, tergantung saya lagi mau pakai blender atau slow cooker. Kalau blender, biasanya bahan pokoknya kentang. Sedangkan slow cooker, pastinya beras putih jadi bahan utamanya. Setiap memasak saya usahakan menunya 4 bintang alias ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur.

Setiap memasak saya nggak lupa selalu kasih lemak tambahan juga. Karena saya menganut paham bayi di bawah 12 bulan nggak makan gula dan garam, yang paling sering saya pakai unsalted butter dan keju untuk menambah rasa gurih juga. Dijamin banget Gia pasti lahap apapaun menu makanannya kalau pakai dua lemak tambahan tersebut.

Sekian dulu cerita tentang per-MPASI-an Gia. Semoga bermanfaat untuk yang membacanya. Ibunya Gia masih perlu banyak belajar nih. Apalagi sebentar lagi Gia udah mau 9 bulan, artinya Gia udah harus perlu dikenalkan dengan tekstur baru yang lebih kasar. It will be more challenging.

aaa