Trisemester Ketiga Kehamilan

20171102_074009-01
USG 4D Anak Bayi

Wah nggak kerasa saya sudah masuk ke trisemester ketiga. Saat saya menulis ini, usia kandungan saya sudah 33 minggu. It means, insya Allah I’ll meet my baby in approximately 7 weeks (or less)!

Sebelum trisemester tiga ini berakhir, saya mau berbagi pengalaman yang saya rasakan mulai dari minggu ke-25 sampai sekarang. Intinya sih sekarang saya baru mengerti kenapa menjadi ibu itu begitu istimewanya sampai Rasululah meninggikan derajat ‘ibu’ sampai tiga kali di atas ‘ayah’.

Kaki semakin bengkak dan seperti ditusuk-tusuk
Kalau di trisemester kedua kaki saya baru keliatan bengkak-bengkak lucu, ternyata hal itu sudah nggak lucu lagi sekarang. Semakin bertambahnya berat badan, semakin bengkak kaki karena menopang beban. Saya sampai harus beli sepatu dengan ukuran tiga kali lebih besar. Karena kaki bengkak itu lah saya sekarang mengalami kesulitan ketika sholat terutama posisi duduk diantara dua sujud. Kaki saya benar-benar sudah nggak bisa ditekuk lagi karena sakitnya minta ampun. Akhirnya sekarang kalau bisa sholatnya duduk saja haha.

Ternyata nggak sampai disitu saja. Makin lama kaki saya rasanya seperti ditusuk-tusuk. Awalnya hanya pagi saja setelah bangun tidur. Lama-lama kok jadi setiap saat, sampai tarik-buang nafas kadang terasa sakitnya hiks. Sekarang kalau mau tidur juga jadi susah karena kaki dan telapak kaki rasanya seperti ditusuk terus. Dokter saya menyarankan untuk meminum Biolectra Magnesium untuk mengurangi rasa sakit. Semoga berhasil deh nanti.

Keluar cairan dari payudara
Hal ini baru saya alami ketika memasuki usia kehamilan 25 minggu. Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan baju tidur saya yang selalu ada noda-noda kecil yang agak lengket di daerah payudara. Sampai suatu hari saya melihat sendiri ada cairan kental berwarna putih kekuningan pekat keluar dari payudara kiri saya. Dari payudara kanan saya juga pernah keluar cairan, kadang berwarna putih kadang bening. Sebelum keluarnya cairan, puting rasanya seperti digigit semut dan payudara rasanya kencang. Bisa dibayangkan ya rasanya gimana, lumayan lah ya rasanya.

Setelah saya cari tahu, kemungkinan cairan tersebut adalah kolostrum, yaitu cairan bernutrisi tinggi yang diproduksi payudara sebelum ASI dibentuk. Keluarnya kolostrum dari payudara saat hamil adalah hal yang normal. Biasanya kolostrum keluar pada ibu hamil di usia kehamilan 20 mingguan. Hal ini membuat saya tenang dan senang karena kemungkinan payudara sedang memproduksi ASI dan semoga selalu bisa memenuhi kebutuhan anak bayi kelak.

Mules atau kontraksi?
Di bulan ke-delapan ini saya sering merasa mules. Kalau kata orang dan beberapa artikel yang saya baca sih sudah mulai kontraksi. Ada yang bilang kalau kontraksi ini adalah kontraksi palsu atau Braxton Hicks karena frekuensinya nggak teratur dan nyerinya belum sampai ke pinggang seperti kontraksi asli. Rasa mulesnya tuh seperti ada yang muter-muter di dalam, perut terasa kencang, dan mirip dengan sakit perut ketika haid. Kadang mulesnya nggak begitu sakit, malah lucu geli-geli dari atas ke bawah gitu. Tapi kebanyakan sih mulesnya agak terasa sakit. Apalagi kalau lagi lewat polisi tidur atau lobang di jalan, wah mantap!

Ngos-ngosan dan berkeringat
Semakin besar perut, semakin pendek nafasnya. Rasanya engap banget sehingga sering ngos-ngosan. Duduk saja bisa ngos-ngosan lho kalau posisinya nggak tegak sempurna. Kalau jalan dengan jarak yang cukup jauh dan naik turun tangga sudah pasti ngos-ngosannya parah.

Keringat juga masih sering mengucur dengan deras sehingga kemana-mana saya harus bawa kipas kalau nggak di ruangan ber-AC. Kalau masuk ke mobil, fan AC pasti minimal tiga bar biar nggak gerah. Kadang juga di ruangan AC saya bisa merasa gerah kalau fan-nya kecil. Yang ajaib adalah saya bisa berkeringat seperti orang habis olahraga berat setelah membersihkan tempat tidur dan menyapu kamar berukuran kecil.

Kulit sekitar paha gatal
Seperti kebanyakan ibu hamil, saya juga merasa gatal pada perut yang membesar. Tapi mungkin berkat lotion yang saya pakai setiap habis mandi di perut, jadinya saya jarang menggaruk perut. Kecuali saya memakai celana bahan tertentu, kadang nggak kuat sama gatalnya jadinya saya garuk sedikit. Alhamdulillah nggak ada stretchmark di perut saya.

Yang parah adalah mulai dari (maaf) pantat sampai paha bagian bawah. Wah yang namanya guratan stretchmark udah banyak banget. Awalnya memang nggak gatal, tapi belakangan gatalnya parah. Sebisa mungkin saya menahan diri untuk nggak garuk bagian gatalnya karena kalau digaruk pasti PR saya semakin banyak setelah melahirkan nanti.

Tulang rusuk kiri sakit
Selama hamil saya selalu tidur miring ke kiri. Di trisemester kedua, hal tersebut nyaman sekali. Kalau tidur miring ke kanan malah jadinya sakit tulang rusuknya. Nah, semenjak trisemester ketiga dengan perut yang semakin bulat ke depan dan posisi anak bayi yang kepalanya sudah turun, tidur miring ke kiri sama menyiksanya dengan tidur miring ke kanan. Tulang rusuk kiri sakit sekali. Rasanya tuh kayak perih dan panas di dalam. Menurut dokter, karena posisi bayi yang sudah memutar ke bawah dan kakinya ke atas, maka tulang rusuk serasa ditendang anak bayi.

Tidur dan bangun tidur nggak nyaman
Ternyata yang saya baca di blog orang-orang tentang tidur yang nggak nyaman di saat hamil tua terjadi juga pada saya. Sekarang kalau mau tidur ribet banget. Pertama, harus menyiapkan formasi bantal dan guling yang tepat. Kedua, naik ke tempat tidur yang penuh perjuangan karena tulang selangkangan semakin hari semakin sakit. Ketiga, memutar badan ke posisi tidur yang benar. Keempat, secara perlahan merebahkan badan ke tempat tidur dan langsung miring ke kiri. Kelima, tidur dengan posisi itu sampai pagi. Perlu diketahui kalau tidur miring ke kiri tanpa gerak sampai pagi itu pegelnya super dahsyat. Kaki pegel, badan pegel.

Kalau ritual bangun tidurnya juga lumayan ribet. Pertama melek dulu dong ya. Kedua, ancang-ancang untuk mendorong badan ke atas untuk bangun. Ketiga, mendorong badan ke atas untuk bangun. Keempat, memutar kaki dan badan ke pinggir tempat tidur untuk bersiap turun dari tempat tidur. Nah, dari empat proses ini yang super sakit adalah proses ketiga dan keempat. Mendorong badan untuk bangun sekarang rasanya berat banget karena perutnya sudah besar plus tulang rusuk kiri yang perih itu terasa sakit. Memutar kaki juga sama sakitnya karena tulang selangkangan yang semakin renggang.

Sering buang air kecil
Selama hamil saya mencoba untuk banyak minum air putih supaya nggak dehidrasi. Karena sering minum, saya jadi sering bolak-balik toilet untuk buang air kecil. Hal ini bagus sih sebenarnya. Cuma ya rasanya capek aja setiap 10 menit sekali harus ke toilet. Ini semua karena posisi anak bayi yang sudah di bawah sehingga tekanan di kandung kemih semakin meningkat. Nggak apa-apa deh yang penting anak bayi nggak kehausan di dalam sana.

Jari tangan kaku
Hal ini baru saya alami sekitar 2 minggu lalu. Jari tangan saya kaku semua tepat saat bangun tidur. Seperti biasa saya coba cari tahu di forum-forum ibu hamil dan ternyata saya nggak sendirian. Jari tangan kaku ternyata wajar terjadi di bulan ke-8 menuju ke-9. Penyebabnya adalah penimbunan cairan di dalam tubuh yang berlebih, melonjaknya berat badan, dan mengkonsumsi makanan yang asin. Tapi susah sih bagi saya untuk mengurangi makanan asin huhu gimana ya.

 

Seperti itu lah hal-hal yang saya alami selama 33 minggu hamil ini. Semoga selalu diberi kesabaran menghadapi gejala-gejala yang nggak enak tersebut. Yang penting sih anak bayi selalu dalam keadaan sehat di dalam sana. Nggak apa-apa deh saya menderita kesakitan yang penting anak saya tumbuh kembangnya baik. Ibu-ibu banget yah? Hehehe.

aaa

Advertisements

Trisemester Kedua Kehamilan

20170812_103500
Hasil USG anak bayi sampai 20 Minggu

Tulisan ini dibuat ketika usia kandungan saya sekitar 20 minggu. Sebenarnya belum bisa dibilang lulus melewati trisemester kedua, tapi nggak apa-apa lah ya, soalnya saya sudah nggak sabar mau nulis pengalaman sampai sejauh ini.

Alhamdulillah berbeda dengan trisemester pertama yang dihiasi oleh mual dan hilangnya nafsu makan, sejak menginjak usia kehamilan 13 minggu, semua itu hilang digantikan dengan hal-hal lainnya seperti:


Berkeringat lebih
Padahal saya selalu mandi 2x sehari dan pakai deodoran setiap habis mandi. Tapi nggak tahu kenapa terkadang keringat mengucur dengan derasnya di daerah-daerah tertentu seperti ketiak dan (maaf) selangkangan. Setelah saya baca-baca beberapa artikel, hal seperti ini umum terjadi pada ibu hamil disebabkan oleh peningkatan hormon progesteron yang memicu terbukanya pembuluh darah kulit, sehingga ibu hamil gampang gerah dan keringat mengalir.

Untungnya keringat lebay ini nggak setiap hari datang. Untuk mengatasinya, tetap rajin mandi 2x setiap hari, memakai deodoran (saya prefer yang bentuknya spray karena lebih cepat kering), selalu ganti pakaian dalam ketika basah, dan selalu sedia kipas.

Tulang selangkangan/ miss V nyeri
Hal ini mulai terjadi di awal trisemester kedua. Tiba-tiba saja dua selangkangan saya sakit sekali. Rasanya nyeri seperti ketarik sampai ke tulang bokong, bahkan kadang sampai tulang belakang. Hal ini menyebabkan saya agak kesusahan dalam mengangkat kaki dan bangun dari posisi tidur. Seperti biasa, saya langsung mencari tahu di internet penyebab sakitnya tulang selangkangan ini. Setelah saya baca-baca, penyebab nyerinya tulang selangkangan/ miss V ini terjadi akibat peningkatan hormon relaxin yang menyebabkan otot dan ligamen melemas dan meregang agar dapat menopang tulang-tulang panggul. Perubahan dan pergeseran pada panggul ini juga dapat menimbulkan nyeri pada selangkangan dikarenakan pertumbuhan janin dalam perut dan pertambahan berat badan.

Saya sempat takut karena di forum-forum yang saya baca, kejadian ini umum dirasakan oleh ibu hamil dengan usia kehamilan 30 minggu keatas. Lah saya minggu belasan sudah merasakan hal ini. Tapi saya nggak terlalu ambil pusing karena setelah mengetahui penyebabnya. Saya selalu berpikiran positif bahwa ini adalah salah satu fase perkembangan janin.

Punggung, perut, dan pinggang super pegal
Kalau duduk terlalu lama, sudah pasti punggung saya sakitnya luarrr biasa. Semakin dibiarkan, sakitnya makin menyebar ke perut dan pinggang yang jadi pegal. Kadang kalau bersin, batuk, dan ketawa, perutnya berasa sakit sekali. Rasanya tuh tegang dan nyeri. Masih sama dengan poin sebelumnya, ternyata berat badan yang bertambah adalah penyebab rasa sakit punggung. Perut yang semakin hari semakin membesar juga memberikan tekanan pada pembuluh darah dan syaraf di bagian punggung. Selain itu produksi hormon relaxin dan pemisahan pada otot juga memperparah rasa nyeri dan sakit pada punggung.

Untuk mengatasinya, saya selalu duduk menggunakan ganjalan bantal di punggung. Walaupun nggak 100% hilang rasa sakitnya, tapi kalau posisi duduknya tegak dan nempel bantal, rasa nyeri punggungnya lumayan berkurang. Selain itu, berjalan-jalan dan stretching juga membuat rasa sakit punggung hilang.

Makan terus, ngemil terus
Alhamdulillah fase 3M (mual, muntah, makan susah) sudah lewat. Sekarang saya malah jadi doyan banget makan. Bawaannya pengen ngunyah terus. Dalam sehari saya bisa makan lebih dari 5 jenis makanan dalam porsi cukup. Akhir-akhir ini saya selalu ingin makan yang pedas dan manis. Dan saya bisa memesan jenis makanan yang sama seminggu atau lebih berturut-turut tanpa rasa bosan atau enek. Yang selalu ingin saya makan adalah sate padang, cokelat dan tahu jeletot. Nggak heran berat saya sekarang naik 14 kg dan terakhir saya kontrol ke dokter, berat badan janinnya melebihi berat badan normal janin di usia kehamilan yang sekarang.

Guratan merah di paha dan betis
Bukan stretchmark, bukan juga varises. Kemarin saya tanyakan hal ini kepada dokter kandungan, dan beliau menjelaskan bahwa hal tersebut normal terjadi pada ibu hamil. Sayangnya saya lupa istilah medisnya apa hehe. Intinya ada semacam guratan kecil-kecil berwarna merah kecoklatan di kulit dengan jumlah yang lumayan banyak terletak di paha, betis, bahkan (maaf) bokong. Rasanya nggak sakit sama sekali. Cuma ya agak ganggu aja penampakannya. Katanya sih karena pertambahan berat badan. Solusi saya sih sering-sering dioleskan lotion saja. Ohya untuk mencegah terjadinya stretchmark yang alhamdulillah belum tampak di perut, saya juga sering mengoleskan lotion di perut dengan harapan nggak akan ada guratan mengganggu di bagian tersebut.

Kaki bengkak
Sebenarnya saya nggak terlalu sadar kalau kaki saya bengkak, mengingat kaki saya memang dari lahir sudah berukuran jumbo. Saya baru sadar ketika seorang teman memvonis kaki saya bengkak dan sepatu-sepatu saya terasa sempit. Pergelangan kaki menuju ke jari kaki saya benar-benar sudah menggelembung sekarang. Rasanya sebenarnya nggak sakit. Malahan menurut saya lucu banget kakinya bantet gitu. Katanya sih karena kebanyakan makan garam dan saya sudah diwanti-wanti untuk mengurangi garam agar tidak terlalu parah.

Harus tidur miring ke kiri plus bantal
Kebetulan saya kalau tidur memang selalu dalam posisi miring. Jadi, persoalan ‘hamil harus tidur miring ke kiri’ bukan jadi masalah berat untuk saya. Kendalanya cuma satu: kalau tiba-tiba tidurnya miring ke kanan secara nggak sadar, pas bangun sakit banget di bagian tulang rusuknya. Perut juga rasanya nggak enak kalau miringnya ke kanan. Jadi mau nggak mau harus selalu miring ke kiri tanpa pindah posisi. Ohya, tidurnya juga harus pakai bantal di bagian perutnya, karena kalau nggak berat banget kayak ngegantung. Jadi sekarang banyak banget bantal guling yang saya pakai untuk tidur: di kepala, di perut, di kaki, dan di punggung.

The first soft kick
Pertama kali merasakan tendangan dari anak bayi itu kira-kira di usia kehamilan 19-20 minggu ini. Rasanya lucu banget kayak kedutan tapi di perut. Waktu awal-awal, anak bayi paling sering muncul di malam hari. Sekarang doi udah mulai aktif di siang hari. Lucunya kemarin waktu saya naik pesawat, anak bayi bergerak terus. Kayaknya dia kesenengan diajak naik pesawat, persis sama ayahnya hihihi.

Itu tadi beberapa hal yang saya alami sampai pertengahan kehamilan ini. Mohon doanya agar saya dan anak bayi selalu sehat ya.

aaa

Trisemester Pertama Kehamilan

20170525211220_IMG_0065-01

Sebagai pembukaan, saya mau cerita tentang hasil kontrol kedua ke dokter kandungan. Sesuai dengan saran dokter, saya kembali lagi untuk kontrol di usia kehamilan 6 minggu untuk melihat perkembangan janin. Alhamdulillah seperti yang bisa dilihat di atas, seperti itulah bentuk anak bayi di usia 6 minggu. Sudah ada kantong kehamilannya dan sudah ada janinnya kecil banget baru 1 cm kurang hihi. Vitamin yang dikonsumsi masih tetap sama, tapi obat penguat kandungannya sudah tidak harus diminum. Jadwal kontrol kehamilan berikutnya adalah 1 bulan dari hari itu, ya kira-kira awal Juni. Can’t wait!

Nah sekarang alhamdulillah saya sedang memasuki minggu ke-10 kehamilan. Kata orang, trisemester pertama atau 3 bulan pertama (12 minggu pertama) kehamilan adalah masa-masa yang lumayan ‘menyiksa’. Tapi so far, saya menjalaninya dengan senang dan dengan rasa syukur. Berikut ini adalah yang saya alami sendiri mulai dari sekitar usia kehamilan 5 minggu sampai sekarang:

Mual (dan kadang muntah)
Kalau kata orang di awal kehamilan akan merasakan morning sickness, kalau saya kok kayaknya all day long sickness ya? Huhuhu. Nggak pagi, nggak siang, nggak malam, hampir seharian saya bisa mual banget. Kalau pagi, biasanya setelah bangun tidur dan minum air putih pertama di pagi hari langsung mual banget. Kalau siang hari, biasanya di saat makan dan sesudah makan. Mual kembali datang waktu malam hari sebelum dan sesudah makan. Tapi nggak setiap hari sih saya mengalami all day long sickness ini. Yang jelas setiap hari pasti mual tapi kadang waktu datangnya beda-beda.

Mual yang suka datang tiba-tiba ini sebenarnya nggak semuanya berujung muntah. Kadang emang pengen ‘hoek’ aja sih entah kenapa, padahal nggak ada isinya. Tapi muntah beneran bisa kejadian justru kalau saya sedang minum obat/vitamin setelah makan. Emang dasarnya nggak bisa minum obat, karena saya kunyah dan pahit banget, saya jadi terdorong untuk ‘hoek’ dan yaa keluar deh semua makanannya. Hiks.

Nafsu makan naik turun
Sekitar 2 tahun belakangan ini saya termasuk doyan banget makan. Karena hal itu, saya sempat yakin kalau dengan kehamilan ini, nafsu makan saya nggak akan jadi masalah seperti beberapa kasus ibu hamil yang susah makan. Ternyata, saya salah. Saya sama saja dengan ibu hamil lainnya yang tiba-tiba jadi nggak nafsu makan dan jadi pilih-pilih makanan. Ngeliat nasi goreng (iya, nasi goreng, used to be my all-time favorite meal ever) aja rasanya enek banget. Ngeliat keju yang lumer gitu tiba-tiba nggak suka, padahal itu juga salah satu makanan favorit. Mungkin karena mulut juga terasa asam terus, jadi nggak nafsu. Positifnya, saya tiba-tiba jadi suka dan nyari buah dan sayur. Walaupun buahnya ya itu-itu aja sih (baca: jeruk, apel, stroberi, anggur, kiwi) dan sayurnya tetep brokoli, kangkung, daun singkong, dan bayam, tapi jadi cenderung suka dan kalau niat bakal saya cari.

Ngidam
Berhubungan dengan nafsu makan, ada beberapa makanan yang terus-terusan ingin saya makan. Contohnya sosis. Ya ampuuun kalau bisa setiap hari saya makan sosis. Tapi kayaknya nggak bagus ya makan sosis terus karena rata-rata sosis yang dijual di pasaran ada bahan pengawetnya. Selain sosis, saya juga pengen banget makan daging. Mau daging sapi, kambing, bebek, semuanya saya mau. Ohya karena agak susah makan juga, jadi saya kadang suka ngidam makan mie, apapun jenis mienya. Dan yang paling penting, kalau bisa semua makanan yang saya makan pedas.

Lemas, cepat mengantuk, dan pusing
Pada dasarnya saya memang sleepyhead. Setelah hamil, levelnya makin tinggi. Saya gampang banget lemas dan ngantuk. Tapi dari dua hal itu, yang paling saya nggak kuat adalah lemas. Nggak makan dikit, lemas. Jalan jauh dikit, lemas. Bahkan bersih-bersih apartemen dikit, lemas dan ngos-ngosan banget. Capeeek terus bawaannya. Jadi pengen tiduran dan berujung kepada ngantuk dan tidur beneran.

Kepala pusing juga lumayan sering saya rasakan terutama kalau sudah terlalu lemas plus biasanya kalau telat makan dikit. Kalau lemas dan ngantuk dan belum bisa istirahat, kepala langsung pusing dan berujung dengan mual. Makanya sekarang saya selalu sedia kantong plastik dan minyak kayu putih kemanapun saya pergi.

Sensitif terhadap bau
Ternyata benar ya, ibu hamil itu sensitif sekali terhadap bau. Kayaknya kemampuan indera penciuman saya bertambah dua kali lipat lebih tajam terhadap jenis bau. Sejauh ini saya nggak suka bau asap rokok yang pastinya langsung bikin pusing dan mual, bau parfum ibu saya (padahal saya pernah suka banget dan pengen punya parfumnya juga), bau suami saya kalau pulang kerja, bau piring kotor, dan bau lainnya yang nggak enak dan bikin mual.

Berat badan naik 10 kg
Ini akumulasi dari sejak saya ngantor di kantor saya sekarang sih sebenarnya. Saya nggak tahu pasti sejak saya hamil naiknya berapa kilo, mungkin sekitar 5 kiloan. Jadi kira-kira kesimpulannya gendut banget! Super drastis banget biasanya berat normal saya 50 kg, sekarang kaget lihat timbangan kok sudah kepala 6 ya. Hiks. Tapi alhamdulillah deh nggak turun berat badan padahal makannya agak lumayan susah.

Jerawatan dan muka kusam
Kalau jerawatan emang bukan hal baru lagi. Kalau saya nggak pakai obat dokter memang otomatis jerawat bakal panen di muka. Tapi sejak hamil jerawat kayaknya nggak kunjung sembuh. Jarang banget saya bisa merasakan semingguuu aja cuci muka tanpa harus merasakan jendolan jerawat di muka. Pasti jerawat ada aja walaupun cuma satu. Yang bikin gemas adalah muka yang kelihatan lebih kusam dari biasanya. Sudah jerawatan, mukanya kusam pula. Hadeeeh. Ini semua sebenarnya bisa diatasi dengan mudah kalau saya pakai obat dokter tapi sayangnya selama hamil saya harus puasa dulu dari segala macam obat dokter dan obat-obatan aneh lainnya.

Ya kira-kira itu lah yang saya rasakan selama 10 minggu kehamilan ini. Masih ada 2 minggu lagi menuju akhir trisemester awal kehamilan. Semangat aja deh menjalani semua prosesnya. Walaupun rasanya nggak enak banget, kata teman saya yang juga mengalami masa-masa menyiksa di awal kehamilannya, hal-hal seperti ini sangat normal. Katanya juga beruntung kalau kita mengalami mual mual saat hamil, itu tandanya janinnya sedang berkembang. Disyukuri saja kalau memang begitu ya. Semoga saya dan si adik bayi selalu sehat sampai lahiran nanti. Aamiin.

aaa