Persiapan MPASI Gia

Slide1

(Diposting oleh Ibu di usia Gia yang ke 8,5 bulan akibat mood naik turun dan aktivitas yang menguras waktu dan tenaga)

Time flies. Tiba-tiba Gia sudah 6 bulan dan itu lah saatnya Gia dan Ibu mulai belajar lagi. Gia belajar makan, sementara Ibu belajar memasak. Untuk saya yang bisa dibilang nggak bisa masak, fase ini menjadi sebuah tantangan. Makanya sebelum Gia 6 bulan, saya banyak mencari tahu serba serbi MPASI supaya bisa maksimal menjalani masa-masa MPASI dengan baik, benar, dan yang pastinya happy for the both side.

Nah di postingan ini, saya akan bahas segala sesuatunya sebelum saya memulai MPASI. Pertama, saya mau bahas tentang perlengkapan tempur yang saya siapkan.

Slide2

Yak, kita bahas satu-satu ya perlengkapan apa saja yang saya siapkan jauh-jauh hari sebelum MPASI dimulai.

  1. Alat makan
    Pastinya kalau mau makan ya yang disiapkan pertama kali adalah alat makannya yang terdiri dari piring dan sendok. Kalau garpu belum butuh ya buibu. Dan saya pun belum pernah lihat ada garpu dijual dalam satu set alat makan bayi hehe.

    Kalau saya pribadi pakai Pigeon Feeding Set Mini yang konon menjadi alat makan bayi sejuta umat. Saya juga nggak beli, alhamdulillah dapat dari kado waktu Gia lahir.

    Sedikit mau bahas soal Pigeon Feeding Set Mini nih. Jadi, di dalam set itu akan dapat satu piring lebar, satu piring kecil yang mungkin lebih cocok disebut bowl, sendok panjang, dan sendok yang pendek. Saya sendiri kurang tahu kegunaan sendok panjang pendek ini untuk apa, yang jelas sih saya selalu pakai yang panjang karena lebih enak untuk menyuapi Gia. Piringnya pun lebih sering pakai yang berbentuk bowl karena lebih kecil, gampang dibawa-bawa, makanan lebih banyak tertampung, yaaa intinya ergonomis lah. Harganya juga terjangkau. Kalau lihat di beberapa marketplace, harganya berkisar sekitar Rp 60,000 – Rp 75,000.

  2. Slow cooker
    Jauh sebelum MPASI Gia dimulai, saya sudah disarankan untuk beli slow cooker oleh beberapa teman. Slow cooker yang saya pilih adalah Baby Safe Digital Slow Cooker yang harganya cukup terjangkau. Kapasitasnya nggak beigitu besar, hanya 0,8L. Bedanya dengan slow cooker Baby Safe yang lain adalah timer yang disetting secara digital dan jelas pilihan waktu memasaknya; 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan menghangatkan. Untuk harganya, saya beli bervariasi sekitar Rp 150,000 – Rp 170,000 tergantung penjualnya.

    Dengan slow cooker, proses masak memasak terutama bubur sangat mudah dan cocok untuk ibu bekerja seperti saya. Kalau mau masak bubur, malamnya tinggal memasukkan bahan-bahan ke dalam slow cooker, kasih air, atur lama waktu memasak, udah deh bisa ditinggal tidur semalaman dan paginya bubur sudah jadi. Selain bubur, slow cooker juga berguna untuk membuat kaldu. Sejauh ini saya baru sekali membuat kaldu ikan salmon pakai slow cooker.

  3. Baby food maker
    Karena menu untuk Gia nggak selalu bubur, saya pakai food processor/ food maker. Kebetulan saya dikasih yang merk Baby Safe waktu Gia lahiran kemarin (super thanks Gerombolan luv!). Saya sangat bersyukur sekali dikasih Baby Safe Food Maker ini karena fungsinya bisa kukus dan blender sekaligus. Harganya saya nggak tahu pasti karena kado. Tapi saya googling sih sekitar Rp 450,000 – Rp 500,000.

    Caranya gampang banget. Tinggal cemplungin bahan-bahan yang mau dimasak, terus set mau berapa menit mengkukus, abis itu kalau sudah mateng, tinggal buang air kukusan, tambahkan sedikit air, dan langsung deh blender. Simpel banget kan? Bersihinnya juga gampang karena mata pisau blender bisa dilepas dari wadahnya.

  4. Food container
    Nama simpelnya mungkin wadah penyimpanan tertutup kali ya. Saya pakai merk Claris dengan tiga macam ukuran; 100 ml, 750 ml, dan 1.350 ml. Ukuran paling kecil yaitu 100 ml adalah wadah makan yang saya siapkan untuk berpergian. Biasanya satu tempat ukuran 100 ml untuk sekali Gia makan. Ukuran berikutnya adalah 750 ml yang saya gunakan untuk menyimpan potongan-potongan buah untuk Gia. Bisa juga dipakai untuk menyimpan wadah yang lebih kecil untuk berpergian. Yang ukuran 1.350 ml ini juga bisa dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan dan untuk berpergian.

    Kelebihan menggunakan food container adalah takaran makanan lebih terukur dan praktis dibawa kemana-mana. Untuk fungsi penyimpanan makanan pun juga lebih hemat plastik dan pastinya lebih aman. Kekurangannya hampir nggak ada ya, palingan capek nyuci aja.

  5. Saringan, wajan, dan talenan
    Untuk tiga barang ini, saya khusus beli untuk menyiapkan makanan Gia. Talenan dan wajan sengaja saya beli karena saya nggak mau tercampur dengan bekas masakan rumah dewasa. Alasannya karena biar higienis dan biar baru aja hehe. Pisaunya juga saya beli lagi khusus untuk motong-motong bahan makanannya Gia.Saringan juga wajib punya ya buibu. Terutama di awal MPASI, saringan ini penting banget. Kalau menunya lagi bubur, saya pasti pakai saringan untuk membuat teksturnya jadi lebih halus. Kalau menu kentang biasanya sudah halus karena saya kukus blender. Saringan juga bisa dipakai untuk menyaring buah-buahan supaya lebih halus.
  6. YouTube & WhatsApp
    Menurut saya, selain peralatan yang akan disimpan di dapur, kita juga perlu persiapan tempur lainnya yang nggak kalah penting, yaitu bekal pengetahuan tentang MPASI itu sendiri. Dua media yang selalu jadi andalan saya adalah YouTube dan WhatsApp.

    Sebelum mulai MPASI, saya rajin nonton YouTube dengan keyword MPASI. Mulai dari peralatan apa saja sampai resep semua ada yang share disana. Saya juga nonton mulai dari yang vlognya bagus dan niat sampai yang cuma slideshow foto-foto yang disertai tulisan bejibun.

    Selain itu untuk menambah ilmu lagi, saya ikutan kulwap alias kuliah WhatsApp lewat grup-grup di WhatsApp. Demi menambah teman dan wawasan, saya ikut grup BC (birth club) bulan Desember 2017 yang mana isinya ibu-ibu dengan bayi seumuran Gia semua dan grup MPASI homemade yang isinya sebenernya nggak tentang MPASI juga sih tapi lumayan membantu kalau mau tanya-tanya.

  7. Perlengkapan pendamping: bib/ slabber, dot, kursi makan
    Baru kepikiran pas nulis, jadinya nggak ada di gambar. Tiga hal ini penting juga sih menurut saya. Bib/ slabber/ celemek saya pilih yang bahan karet supaya gampang dibersihkan dari segala macam noda.

    Untuk media air minum saya pilih dot karena hmm Gia udah pinter ngedotnya sih jadi gampang haha. Sebenernya saya mau memperkenalkan dengan sippy cup tapi belum jadi nih. Mungkin di bulan ke 9 saya mulai coba beralih ke sippy cup dan semoga anaknya juga pinter nyedotnya.

    Terakhir, kursi makan. Saya adalah ibu-ibu dengan paham kalau makan itu ya harus duduk tertib di kursi makan. Nggak ada acara digendong atau dibiarin kesana kemari sambil disuapin. Apapun kondisinya, kalau mau makan ya harus duduk di kursi dan boleh pindah dari kursi kalau acara makan sudah selesai. Jadi, kursi makan ini penting buat saya. Yang saya pakai bukan high chair sih, tapi foldable booster seat supaya gampang dibawa kemana-mana.

Kedua, yang akan saya bahas adalah waktu pemberian makan. Jujur, ini juga yang bikin saya sempat galau dalam menentukan waktunya. Soalnya beda-beda sih ya. Ada yang 2x sehari, ada yang 3x sehari, bahkan ada yang 4x sehari terdiri dari 3x makan besar dan 1x snack. Jamnya pun bervariasi, tergantung masing-masing emak aja gimana.

Akhirnya setelah cari tau kesana kemari dan pengalaman praktek langsung, saya akhirnya mendapatkan jadwal yang tepat untuk saya dan Gia, yaitu makan 3x sehari (makan pagi, siang, dan sore). Jamnya juga saya tetapkan jam 08:00, jam 12:00, dan jam 16:00, sesuai dengan jadwal kegiatan Gia.

Ketiga, yang nggak kalah penting adalah teknik pemberian makan. Ngebahas hal ini umumnya mengacu kepada dua opsi: spoon-feeding alias nyuapin anak atau BLW (Baby Lead Weaning) alias biarin anak makan pakai tangannya sendiri. Dan buanyaaak banget perdebatan soal hal ini di kalangan mommies. Tapi saya pribadi sih nggak ambil pusing karena dari awal saya dan suami sudah memutuskan untuk ambil teknik yang tersimpel untuk diaplikasikan: anaknya disuapin aja lah.

Semuanya memang ada plus dan minusnya ya. Tapi setelah baca sana sini dan diskusi, inilah beberapa pertimbangan saya memilih spoon-feeding ketimbang BLW;

  1. Gampang dan praktis
    Walaupun di awal-awal emang susah ya nyuapin bayi karena kan mereka belajar mengunyah dan menelan. Tapi asli, teknik spoon-feeding ini gampang banget dan bisa diaplikasikan oleh siapa saja.
  2. Mengejar ketertinggalan BB
    Berat badan Gia memang nggak kayak bayi-bayi lain yang sudah mencapai bahkan melebihi rata-rata. Gia termasuk bayi yang BB-nya perlu dikejar. Makanya saya pilih spoon-feeding supaya asupan nutrisi yang masuk lebih maksimal.
  3. Lebih rapi
    Sebenarnya mau spoon-feeding atau BLW ya namanya bayi pasti kalau makan ya berantakan. Tapi menurut saya kalau dengan disuapin, sekitar bayi bisa lebih rapi. Kalau ada yang tumpah bisa segera dilap dan jarak makanan yang jatuh nggak begitu jauh-jauh. Karena saya kurang begitu suka sama yang berantakan gitu, jadi poin ini penting juga untuk menjaga kewarasan saya.

Sekali lagi, teknik ini pilihan lho ya. Jadi sebaiknya udah nggak perlu lah debat antar emak-emak karena merasa teknik pilihannya yang terbaik sedunia. Karena pasti setiap anak kan beda-beda ya treatmentnya dan hanya emaknya lah yang paling tau yang terbaik.

Keempat, dan yang terakhir akan saya bahas sedikit adalah menu makanan. Mau cerita sedikit, sebelum MPASI dimulai saya sudah punya gambaran akan memberikan menu apa ke Gia. Tapi kenyataannya waktu praktek, rencana itu gagal semua saking dirasa terlalu idealis haha. Kebetulan waktu Gia mulai MPASI pas banget waktu lagi mudik. Jadi saya nggak sempat masak ini itu. Jadinya kasih yang instan deh. Dan berakhir di tempat sampah dong karena waktu itu kebanyakan dan Gia belum pinter makannya.

Setelah Gia mulai pinter makan, saya sudah mulai menemukan menu makanan apa yang pas untuk Gia. Yang pasti Gia makan 3x sehari. Kadang paginya buah, kadang langsung makanan berat. Kalau siang dan sore pastinya makanan berat. Menunya sendiri beragam, tergantung saya lagi mau pakai blender atau slow cooker. Kalau blender, biasanya bahan pokoknya kentang. Sedangkan slow cooker, pastinya beras putih jadi bahan utamanya. Setiap memasak saya usahakan menunya 4 bintang alias ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur.

Setiap memasak saya nggak lupa selalu kasih lemak tambahan juga. Karena saya menganut paham bayi di bawah 12 bulan nggak makan gula dan garam, yang paling sering saya pakai unsalted butter dan keju untuk menambah rasa gurih juga. Dijamin banget Gia pasti lahap apapaun menu makanannya kalau pakai dua lemak tambahan tersebut.

Sekian dulu cerita tentang per-MPASI-an Gia. Semoga bermanfaat untuk yang membacanya. Ibunya Gia masih perlu banyak belajar nih. Apalagi sebentar lagi Gia udah mau 9 bulan, artinya Gia udah harus perlu dikenalkan dengan tekstur baru yang lebih kasar. It will be more challenging.

aaa

Advertisements

leave your steps...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s