Becoming Mother

liv-bruce-361672

Pertama, saya nggak pernah kebayang bakal jadi seorang ibu. Bisa main sama anak kecil saja sudah suatu achievement buat saya. Ehm, ralat sedikit. Bisa ngerasa nggak awkward sama anak kecil saja sudah suatu prestasi buat saya. Makanya, saya masih nggak nyangka kalau dalam waktu dekat ini saya akan menjadi ibu. Punya anak yang lahir dari rahim saya sendiri.

Kedua, saya takut melahirkan. Saya sudah baca-baca blog orang, bertanya pada para ibu di kantor, dan mendengar cerita dari teman-teman tentang melahirkan baik secara normal maupun c-section. Waktu itu saya sudah tahu dari jauh-jauh hari, sekitar hamil 6 bulan. Pada saat itu, semuanya terdengar menyeramkan. Sekarang tambah horor lagi kedengarannya. Nggak ada satu pun cerita mereka yang menggambarkan betapa mudahnya melewati proses persalinan. Walaupun di ujung cerita, 99% dari mereka mengatakan hal yang sama: it’s not something traumatic, every woman in this world have passed it successfully, so you can do it! 

Tapi sejujur-jujurnya, jauh dari dalam lubuk hati saya yang paling dalam, saya sudah rindu dengan anak saya. Sebelum ia terbentuk dengan sempurna, saat baru saja saya dinyatakan akan memiliki seorang anak, saya sudah jatuh cinta dengannya. Saya ingin cepat-cepat bisa memeluk, mencium, merawat anak saya. Pemikiran ini selalu berhasil membuat ketakutan-ketakutan saya hilang; proses melahirkan khususnya normal, takut akan merasa awkward dengan anak, dan bagaimana merawatnya nanti.

Dalam waktu yang sudah sangat dekat ini, saya selalu berdoa agar saya dan anak bayi diberikan keselamatan dan kemudahan ketika melalui proses persalinan. Saya berjanji akan berjuang sekuat tenaga demi bertemu dengan anak bayi. Mungkin nanti saya bukanlah seorang ibu yang sempurna untuk anak saya, tapi saya berjanji akan merawat, mendidik, membesarkan anak saya dengan penuh perjuangan agar ia kelak menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat.

Minggu ini saya memasuki 38 minggu usia kehamilan. Kalau ditanya, bagaimana perasaan saya, jawabannya insya Allah saya siap untuk bertemu anak saya. See you soon, kiddo luv.

(Photo credit: Liv Bruce from unsplash.com)

aaa

Advertisements

Review Jasa GO-CLEAN

20171118_100243-01

Pasca pindah rumah, masih banyak hal-hal yang harus diatur di dalam rumah. Setiap akhir pekan, hampir jarang saya berada di rumah saja untuk bersantai. Pasti ada aja deh yang harus dibeli untuk mengisi rumah, mulai dari yang penting seperti perlengkapan untuk anak bayi, lemari penyimpanan, sampai hal-hal yang menurut kita kecil tapi ternyata esensial juga seperti satu set perkakas rumah.

Akibatnya, rumah jadi nggak terawat. Selama sebulan lebih ini, bisa dihitung dengan jari frekuensi saya dan suami bersih-bersih rumah secara menyeluruh. Makanya pas akhir pekan kemarin ada waktu di rumah, saya sempatkan untuk membersihkan rumah. Karena space yang harus dibersihkan banyak dan saya sedang hamil besar, saya memutuskan untuk pakai GO-CLEAN, sebuah jasa bersih-bersih rumah dari GO-JEK.

Saat masuk ke aplikasi GO-JEK dan memilih GO-CLEAN, saya diarahkan untuk men-download aplikasi GO-LIFE yang berisi kumpulan jasa oleh tenaga profesional yang memberikan solusi untuk kategori lifestyle. Setelah klik GO-CLEAN, saya diberikan pilihan untuk memakai jasa tanpa tools alias kita sendiri yang menyediakan alat pembersihnya (Rp 35,000/jam) atau menggunakan tools dari tenaga pembersihnya (Rp 45,000/jam). Karena saya merasa peralatan bersih-bersih saya kurang maksimal, saya memilih menggunakan peralatan dari pihak GO-CLEAN saja.

   Screenshot_20171121-092808  Screenshot_20171121-092821

Selanjutnya saya dihadapkan dengan pilihan ruangan apa saja yang mau dibersihkan dan jumlah ruangannya. Ada pilihan kamar tidur, kamar mandi, dan ruangan lainnya. In my case, saya memilih 3 kamar tidur, 1 kamar mandi, dan 1 ruangan lainnya alias ruang keluarga, dapur, dan ruang tamu. Setelah itu muncul opsi untuk penggunaan jasa lainnya seperti menyetrika, mencuci piring, dan membersihkan area-area rumah seperti kabinet, kulkas, kitchen set, dan kompor. Di bawahnya sudah ada total dan estimasi waktu pengerjaannya.

Next, kita diminta untuk memilih gender pekerja dan jumlah orangnya. Ternyata menambah jumlah pekerja free dan dapat berubah sesuai dengan banyaknya jenis pekerjaan dan jumlah waktu pengerjaan. Lalu ada keterangan untuk pekerjanya mengenai bagaimana mereka bisa masuk ke bangunan yang akan dibersihkan, apakah kita sendiri yang akan membukakan pintu atau misalnya kalau kita nggak ada di rumah, bisa kasih keterangan kuncinya ada dimana supaya pekerjanya bisa masuk.

   Screenshot_20171121-093423  Screenshot_20171121-093427

Berikutnya, kita diberikan rincian harga untuk setiap pekerjaan yang kita inginkan beserta pengisian alamat dan waktu pengerjaan. Enaknya pakai GOCLEAN, kita bisa order pengerjaan untuk esok hari dan jam yang bisa kita sesuaikan. Selanjutnya akan ada konfirmasi detil pekerja dan total pembayarannya. Kalau sudah oke semua, kita langsung tekan tombol order saja dan tunggu sampai ada pekerja GO-CLEAN yang mengambil order kita.

Dari pengalaman saya, nggak sampai semenit sudah ada pekerja yang mengambil orderan kita. Disitu langsung tertera nama pekerjanya dan tombol untuk menghubungi pekerjanya by message or by phone. Kemarin yang mengambil orderan saya namanya Mbak Wahyuni. Setelah SMSan, kita sepakat untuk memulai pekerjaan bersih-bersih esok harinya jam 10 pagi.

Besok paginya, Mbak Wahyuni sudah datang jam 9:30 pagi dengan seragam GO-CLEAN dan seperangkat alat pembersih. Setelah menjelaskan ulang jenis pekerjaan dan areanya, Mbak Wahyuni mengeluarkan vacuum cleaner dari kotak besar yang berisi peralatan bersih-bersih yang ternyata adalah pengganti sapu. Setelah divacuum, Mbak Wahyuni mengepel seluruh lantai di area yang sudah dijanjikan. Lantai-lantai saya yang penuh dengan noda-noda yang membandel diberikan bubuk pembersih oleh Mbak Wahyuni sehingga semuanya hilang seketika dan lantai jadi super bersih. Wow!

Yang saya suka dari Mbak Wahyuni adalah kerjaannya yang rapi, bersih, detail, cepat, dan punya inisiatif untuk membersihkan yang lainnya seperti lap kaca, meja, dan lemari tanpa diminta. Saya juga suka dengan ide mengganti sapu dengan vacuum cleaner karena debu lebih terangkat dibandingkan nyapu dengan pengki. Selain itu untuk beberapa sudut tembok yang sempit juga terjangkau dengan vacuum cleaner dan lebih nggak menguras tenaga. Untuk masalah harga, menurut saya sebanding dengan pekerjaannya dan termasuk harga yang kompetitif dan masih tergolong affordable.

Kekurangan dari jasa GO-CLEAN ini menurut saya adalah payment methodnya yang masih harus menggunakan cash. Sebagai orang yang malas ambil uang di ATM, GO-PAY adalah metode pembayaran yang menurut saya sangat efektif. Namun sayangnya untuk jasa GO-CLEAN belum bisa pakai GO-PAY. Mungkin ke depannya pihak GO-JEK bisa mempertimbangkan hal ini.

Overall, saya puas dengan jasa GO-CLEAN dan alhamdulillah dapat pekerja yang sesuai dengan harapan. Super recommended and obviously will make another order next time. 

aaa

Trisemester Ketiga Kehamilan

20171102_074009-01
USG 4D Anak Bayi

Wah nggak kerasa saya sudah masuk ke trisemester ketiga. Saat saya menulis ini, usia kandungan saya sudah 33 minggu. It means, insya Allah I’ll meet my baby in approximately 7 weeks (or less)!

Sebelum trisemester tiga ini berakhir, saya mau berbagi pengalaman yang saya rasakan mulai dari minggu ke-25 sampai sekarang. Intinya sih sekarang saya baru mengerti kenapa menjadi ibu itu begitu istimewanya sampai Rasululah meninggikan derajat ‘ibu’ sampai tiga kali di atas ‘ayah’.

Kaki semakin bengkak dan seperti ditusuk-tusuk
Kalau di trisemester kedua kaki saya baru keliatan bengkak-bengkak lucu, ternyata hal itu sudah nggak lucu lagi sekarang. Semakin bertambahnya berat badan, semakin bengkak kaki karena menopang beban. Saya sampai harus beli sepatu dengan ukuran tiga kali lebih besar. Karena kaki bengkak itu lah saya sekarang mengalami kesulitan ketika sholat terutama posisi duduk diantara dua sujud. Kaki saya benar-benar sudah nggak bisa ditekuk lagi karena sakitnya minta ampun. Akhirnya sekarang kalau bisa sholatnya duduk saja haha.

Ternyata nggak sampai disitu saja. Makin lama kaki saya rasanya seperti ditusuk-tusuk. Awalnya hanya pagi saja setelah bangun tidur. Lama-lama kok jadi setiap saat, sampai tarik-buang nafas kadang terasa sakitnya hiks. Sekarang kalau mau tidur juga jadi susah karena kaki dan telapak kaki rasanya seperti ditusuk terus. Dokter saya menyarankan untuk meminum Biolectra Magnesium untuk mengurangi rasa sakit. Semoga berhasil deh nanti.

Keluar cairan dari payudara
Hal ini baru saya alami ketika memasuki usia kehamilan 25 minggu. Awalnya saya merasa ada yang aneh dengan baju tidur saya yang selalu ada noda-noda kecil yang agak lengket di daerah payudara. Sampai suatu hari saya melihat sendiri ada cairan kental berwarna putih kekuningan pekat keluar dari payudara kiri saya. Dari payudara kanan saya juga pernah keluar cairan, kadang berwarna putih kadang bening. Sebelum keluarnya cairan, puting rasanya seperti digigit semut dan payudara rasanya kencang. Bisa dibayangkan ya rasanya gimana, lumayan lah ya rasanya.

Setelah saya cari tahu, kemungkinan cairan tersebut adalah kolostrum, yaitu cairan bernutrisi tinggi yang diproduksi payudara sebelum ASI dibentuk. Keluarnya kolostrum dari payudara saat hamil adalah hal yang normal. Biasanya kolostrum keluar pada ibu hamil di usia kehamilan 20 mingguan. Hal ini membuat saya tenang dan senang karena kemungkinan payudara sedang memproduksi ASI dan semoga selalu bisa memenuhi kebutuhan anak bayi kelak.

Mules atau kontraksi?
Di bulan ke-delapan ini saya sering merasa mules. Kalau kata orang dan beberapa artikel yang saya baca sih sudah mulai kontraksi. Ada yang bilang kalau kontraksi ini adalah kontraksi palsu atau Braxton Hicks karena frekuensinya nggak teratur dan nyerinya belum sampai ke pinggang seperti kontraksi asli. Rasa mulesnya tuh seperti ada yang muter-muter di dalam, perut terasa kencang, dan mirip dengan sakit perut ketika haid. Kadang mulesnya nggak begitu sakit, malah lucu geli-geli dari atas ke bawah gitu. Tapi kebanyakan sih mulesnya agak terasa sakit. Apalagi kalau lagi lewat polisi tidur atau lobang di jalan, wah mantap!

Ngos-ngosan dan berkeringat
Semakin besar perut, semakin pendek nafasnya. Rasanya engap banget sehingga sering ngos-ngosan. Duduk saja bisa ngos-ngosan lho kalau posisinya nggak tegak sempurna. Kalau jalan dengan jarak yang cukup jauh dan naik turun tangga sudah pasti ngos-ngosannya parah.

Keringat juga masih sering mengucur dengan deras sehingga kemana-mana saya harus bawa kipas kalau nggak di ruangan ber-AC. Kalau masuk ke mobil, fan AC pasti minimal tiga bar biar nggak gerah. Kadang juga di ruangan AC saya bisa merasa gerah kalau fan-nya kecil. Yang ajaib adalah saya bisa berkeringat seperti orang habis olahraga berat setelah membersihkan tempat tidur dan menyapu kamar berukuran kecil.

Kulit sekitar paha gatal
Seperti kebanyakan ibu hamil, saya juga merasa gatal pada perut yang membesar. Tapi mungkin berkat lotion yang saya pakai setiap habis mandi di perut, jadinya saya jarang menggaruk perut. Kecuali saya memakai celana bahan tertentu, kadang nggak kuat sama gatalnya jadinya saya garuk sedikit. Alhamdulillah nggak ada stretchmark di perut saya.

Yang parah adalah mulai dari (maaf) pantat sampai paha bagian bawah. Wah yang namanya guratan stretchmark udah banyak banget. Awalnya memang nggak gatal, tapi belakangan gatalnya parah. Sebisa mungkin saya menahan diri untuk nggak garuk bagian gatalnya karena kalau digaruk pasti PR saya semakin banyak setelah melahirkan nanti.

Tulang rusuk kiri sakit
Selama hamil saya selalu tidur miring ke kiri. Di trisemester kedua, hal tersebut nyaman sekali. Kalau tidur miring ke kanan malah jadinya sakit tulang rusuknya. Nah, semenjak trisemester ketiga dengan perut yang semakin bulat ke depan dan posisi anak bayi yang kepalanya sudah turun, tidur miring ke kiri sama menyiksanya dengan tidur miring ke kanan. Tulang rusuk kiri sakit sekali. Rasanya tuh kayak perih dan panas di dalam. Menurut dokter, karena posisi bayi yang sudah memutar ke bawah dan kakinya ke atas, maka tulang rusuk serasa ditendang anak bayi.

Tidur dan bangun tidur nggak nyaman
Ternyata yang saya baca di blog orang-orang tentang tidur yang nggak nyaman di saat hamil tua terjadi juga pada saya. Sekarang kalau mau tidur ribet banget. Pertama, harus menyiapkan formasi bantal dan guling yang tepat. Kedua, naik ke tempat tidur yang penuh perjuangan karena tulang selangkangan semakin hari semakin sakit. Ketiga, memutar badan ke posisi tidur yang benar. Keempat, secara perlahan merebahkan badan ke tempat tidur dan langsung miring ke kiri. Kelima, tidur dengan posisi itu sampai pagi. Perlu diketahui kalau tidur miring ke kiri tanpa gerak sampai pagi itu pegelnya super dahsyat. Kaki pegel, badan pegel.

Kalau ritual bangun tidurnya juga lumayan ribet. Pertama melek dulu dong ya. Kedua, ancang-ancang untuk mendorong badan ke atas untuk bangun. Ketiga, mendorong badan ke atas untuk bangun. Keempat, memutar kaki dan badan ke pinggir tempat tidur untuk bersiap turun dari tempat tidur. Nah, dari empat proses ini yang super sakit adalah proses ketiga dan keempat. Mendorong badan untuk bangun sekarang rasanya berat banget karena perutnya sudah besar plus tulang rusuk kiri yang perih itu terasa sakit. Memutar kaki juga sama sakitnya karena tulang selangkangan yang semakin renggang.

Sering buang air kecil
Selama hamil saya mencoba untuk banyak minum air putih supaya nggak dehidrasi. Karena sering minum, saya jadi sering bolak-balik toilet untuk buang air kecil. Hal ini bagus sih sebenarnya. Cuma ya rasanya capek aja setiap 10 menit sekali harus ke toilet. Ini semua karena posisi anak bayi yang sudah di bawah sehingga tekanan di kandung kemih semakin meningkat. Nggak apa-apa deh yang penting anak bayi nggak kehausan di dalam sana.

Jari tangan kaku
Hal ini baru saya alami sekitar 2 minggu lalu. Jari tangan saya kaku semua tepat saat bangun tidur. Seperti biasa saya coba cari tahu di forum-forum ibu hamil dan ternyata saya nggak sendirian. Jari tangan kaku ternyata wajar terjadi di bulan ke-8 menuju ke-9. Penyebabnya adalah penimbunan cairan di dalam tubuh yang berlebih, melonjaknya berat badan, dan mengkonsumsi makanan yang asin. Tapi susah sih bagi saya untuk mengurangi makanan asin huhu gimana ya.

 

Seperti itu lah hal-hal yang saya alami selama 33 minggu hamil ini. Semoga selalu diberi kesabaran menghadapi gejala-gejala yang nggak enak tersebut. Yang penting sih anak bayi selalu dalam keadaan sehat di dalam sana. Nggak apa-apa deh saya menderita kesakitan yang penting anak saya tumbuh kembangnya baik. Ibu-ibu banget yah? Hehehe.

aaa