Etika Saat Menjenguk Bayi Yang Baru Lahir

photo-1511948374796-056e8f289f34
Photo credit: @lumapimentel from Unsplash

Ketika mendengar kabar saudara atau teman yang sudah melahirkan, rasanya kita ingin segera menjenguk untuk melihat bayi lucu yang baru lahir. Tapi tahukah kamu bahwa menjenguk bayi baru lahir itu ada etikanya lho. Jujur, sebagai orang yang pernah melahirkan, saya merasa ada beberapa etika–atau mungkin lebih halusnya ‘aturan’– yang seharusnya diperhatikan oleh orang yang akan menjenguk. Maka dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi juga, saya mau berbagi apa saja ‘aturan’ yang harus diperhatikan ketika menjenguk bayi yang baru lahir.

#1. Buat janji sebelumnya
Agar kunjungan terasa nyaman, sebaiknya tanyakan dulu kepada ibu yang punya bayi kapan waktu yang tepat untuk menjenguknya. Jangan pernah datang secara mendadak. Alasannya simpel, karena setelah melahirkan ibu biasanya lelah karena proses persalinan dan harus mengurus bayi. Dengan kondisi baru seperti itu saja, biasanya para ibu sudah kehilangan waktu untuk istirahat bahkan waktu untuk mandi. Maka sebaiknya datang saat ibu benar-benar siap dikunjungi dengan menanyakan jadwal yang tepat untuk berkunjung.

#2. Harus dalam keadaan sehat
Sebaiknya jika sedang tidak dalam kondisi sehat, walaupun hanya batuk atau pilek ringan, jangan datang menjenguk dulu. Bayi itu super sensitif, apalagi yang baru saja lahir. Mereka gampang sekali tertular penyakit yang disebabkan oleh virus. Tentu saja kita tidak ingin bayinya ketularan sakit juga kan? Selain bayi, ibu dan ayah yang kelelahan mengurus bayi juga bisa gampang sakit. Maka dari itu datanglah berkunjung jika kondisi tubuh dalam keadaan sehat.

#3. Minta izin untuk menggendong
Bayi baru lahir memang lucu dan menggemaskan. Tetapi bukan berarti orang lain boleh menyentuhnya apalagi menggendongnya secara spontan. Bayi itu milik ibu dan ayahnya. Biasanya karena lelah melahirkan juga mengurus bayinya, ibu itu sensitif jika anaknya disentuh, digendong, apalagi dicium orang lain karena takut sakit. Karena ya bayi itu memang sensitif dan gampang tertular penyakit. Jadi, sebaiknya minta izin dengan bertanya apakah boleh menggendong bayi kepada ibunya. Juga sebaiknya jangan mencium bayi ya walaupun dalam keadaan sehat. Jangan lupa sebelum menggendong pastikan untuk mencuci tangan ya.

#4. Perhatikan durasi berkunjung
Ketika mengunjungi bayi baru lahir, sebaiknya tidak usah lama-lama. Simpel sih, karena orang tuanya, terutama ibunya, lelah setelah melahirkan juga harus menyusui dan mengurus bayi yang baru lahir. Ketika bayi tidur, disitulah satu-satunya waktu yang tepat untuk ibu ikutan tidur juga. Maka dari itu, perhatikan durasi berkunjung dan tidak usah berlama-lama. Belum lagi kalau tamunya banyak yang ngantri untuk menjenguk. Kasian kan ibunya jadi minim waktu istirahatnya.

#5. Berkata seperlunya
Ingat, ibu yang baru melahirkan itu sensitif lho. Tidak perlu lah bertanya hal-hal yang tidak penting yang bisa mengarah ke mom shaming atau yang bersifat menyudutkan. Tidak perlu juga mengomentari juga memberi nasehat ketika tidak diminta yang mana seolah-olah paling tahu dan berpengalaman. Sebaiknya berkata seperlunya, berikan saran hanya jika ditanya, dan berikan support kepada orang tua si bayi, khususnya ibunya.

#6. Minta izin untuk posting ke media sosial
Ini masalah privasi. Tidak semua orang tua ingin wajah bayinya terpampang ke khalayak ramai. Mintalah izin kepada orang tuanya sebelum memotret atau merekam video dan ketika hendak mengunggah ke media sosial. Jika orang tuanya tidak mengizinkan, hargailah keputusannya.

aaa

 

 

Advertisements

27

photo-1525034839140-53bdec0b0296
Photo Credit: @johnnygold from Unsplash

Bersyukur.

Atas oksigen gratis yang masih bisa saya hirup dan masih bisa bertemu dengan orang-orang yang saya sayang di hari ulang tahun saya.

Kali ini, pertambahan umur saya sangat sederhana namun lengkap. Ucapan ulang tahun hanya datang dari segelintir orang terdekat dan yang benar-benar ingat. Pagi hari, saya dikunjungi ayah, eyang, om-tante, dan sepupu dari Bandung. Siangnya saya kedatangan para sahabat terbaik, Gerombolan, dengan surprise kue ulang tahunnya. Walaupun niat mereka bukan seratus persen merayakan ulang tahun saya, melainkan menengok bayi kembar saya yang baru lahir, saya bahagia.

Sederhana. Tapi lengkap karena orang-orang yang saya sayangi ada semua di hari itu, termasuk suami saya yang masih menemani saya di Jakarta (ya begitu lah nasib LDR). Terasa lengkap juga karena kehadiran anak kembar yang sudah ditunggu-tunggu. Ya, walaupun sebenarnya saya ingin melahirkan mereka di hari ulang tahun saya, tetapi Allah punya rencana lain. Yang pasti saya senang. Sangat senang.

Selamat ulang tahun yang ke-27, Feb!

aaa

Cerita Melahirkan Si Kembar

60c5bf00-eb39-4b01-9186-c8428c5bd704
Ki-Ka: Gemi & Gema

Alhamdulillah akhirnya twinnies alias si kembar sudah lahir hari Selasa, 5 Februari 2019 bertepatan dengan Hari Raya Imlek.

Welcome to the world dear, Gemala Arunika Susilo & Gemila Arunima Susilo. Kami menyebutnya Gema dan Gemi. Gema lahir jam 8:15 dengan berat badan 2,2 kg dan panjang 44 cm. Sedangkan Gemi lahir jam 8:17 dengan berat badan 2,0 kg dan panjang 43,5 cm. Alhamdulillah semuanya normal dan sehat. Walaupun lahirnya prematur, tapi alhamdulillah Gema dan Gemi nggak perlu dirawat di NICU atau ruang intensif lainnya.

Kisah melahirkan si kembar ini rasanya berjalan dengan cepat. Hari Senin malam saya masih main laptop untuk menyelesaikan tulisan blog saya yang sebelum ini; What to Pack in Emergency Hospital Bag. Pada kenyataannya, saya sendiri belum packing lho waktu itu hehe.

Baru saja menyelesaikan tulisan, saya ke toilet untuk BAB dan agak kaget waktu menemukan flek warna pink cokelat. Nggak panik sih, tapi jujur bingung. Sempat nggak percaya juga kalau itu flek dan berharap kalau itu bukan flek karena usia kandungan saya masih 34 minggu 2 hari. Tapi karena memang ternyata flek itu ngecap di celana dalam saya, ya sudah saya putuskan untuk menganggap itu flek darah.

Kebetulan ibu saya bangun karena Gia menangis dan saya cerita kalau ada flek itu. Lalu saya inisiatif untuk langsung packing emergency hospital bag, Saya dan ibu memutuskan untuk cek lebih lanjut ke rumah sakit tanpa membawa emergency hospital bag-nya karena pikir saya siapa tahu saya dibolehkan pulang setelah cek. Jadilah kami berangkat jam 11 malam ke RS Siloam Kebon Jeruk.

Sesampai disana, saya langsung naik ke lantai 2 bagian kebidanan. Setelah cerita ada flek, saya langsung dites CTG untuk menghitung kontraksi. Ternyata masih 15 menit sekali. Suster pun mengecek pembukaan dan ternyata nggak ada pembukaan. Rasanya agak lega mendengar hal itu dan berharap dibolehkan pulang. Tapi setelah suster laporan dengan dokter mengenai hasil CTG, saya malah menerima kabar yang lumayan bikin shock setelah saya kembali dari toilet pasca sesi CTG yang cukup bikin pegal.

“Bu, pagi ini kita jadwalkan operasi caesar ya jam 6 pagi.”

Jeder! Saya dikabarin sekitar jam 1:30 pagi. Itu berarti kurang dari 5 jam lagi saya akan dioperasi. Oh iya saya memang sudah diberi tahu dari awal kehamilan bahwa saya pasti akan melahirkan secara operasi caesar karena kondisi kehamilan saya adalah kembar dengan 1 kantong dan 1 plasenta, sehingga nggak memungkinkan untuk melahirkan secara normal. Too risky, they said.

Oke lanjut. Saya sedikit kaget saja sih, tapi saya tetap tenang dan berpikiran positif bahwa semuanya akan baik-baik saja. Yang saya lakukan saat itu adalah menelpon pak suami untuk segera memesan tiket pesawat pulang ke Jakarta dengan penerbangan paling pagi hari itu juga. Walaupun saya tahu bahwa saya nggak mungkin didampingi saat operasi berlangsung karena peraturan rumah sakit, tetapi saya ingin ayahnya langsung yang akan mengadzani si kembar. Dan alhamdulillah pak suami dapat flight jam 7:25 waktu Singapore yang berarti kira-kira sampai di Indonesia jam 8:25 pagi.

Saya diberikan sabun mandi steril dan disuruh mandi saat itu juga. Dan di kamar mandinya nggak ada air panasnya dong. Jadi saya agak kedinginan mandi tengah pagi begitu. Sementara itu ibu saya mengurus administrasinya. Agak shock juga sih waktu dikabarkan bahwa harga jasa dokter naik 50% dikarenakan saya akan melahirkan di hari libur nasional. Tapi karena nggak mungkin ditunda, ya sudah deh kita setuju saja uang melayang karena lahiran di tanggal merah haha. Setelah itu saya disuruh baringan lagi dan dites CTG lagi, diberikan obat pematang paru-paru, dan diambil darahnya untuk tes Hb.

Empat setengah jam waktu yang terasa lama dan pegal. Berbaring dengan posisi tidur terlentang yang super duper berat plus sakit kontraksi yang sudah 7-10 menit sekali bukanlah hal yang menyenangkan. Waktu itu saya rasanya ingin cepat-cepat jam 6 pagi saja supaya cepat dioperasi dan kelar semua. Tapi ternyata jam 6 pagi saya dikabarkan bahwa Hb saya rendah, hanya 6. Padahal harusnya minimal 10. Karena hal itu saya harus menunggu bank darah buka karena akan menggunakan 2 kantong darah selama operasi berlangsung. Jadi, operasi ditunda sampai jam 7. Pegal.

Singkat cerita saya dibawa ke poliklinik dokter kandungan. Saya diperiksa lewat USG dan disuruh tanda tangan surat operasi. Isinya kita setuju dengan jadwal operasi, perlengkapan operasi (dalam case saya pakai 2 kantong darah), dan resiko-resiko yang mungkin terjadi kalau operasinya gagal dan itu serem-serem banget deh isinya. Setelah itu saya diantar ke ruangan untuk dioleskan sabun steril lagi di bagian perut sambil ngobrol dengan dokter anestesinya. Beliau menjelaskan bahwa saya akan disuntik di punggung bawah untuk obat biusnya.

Nggak lama saya sudah diantar ke ruang operasi. Jujur, saya nggak deg-degan sama sekali. Yang saya rasakan hanya pasrah saja sambil terus berpikiran positif bahwa operasinya akan berhasil dan saya akan segera bertemu si kembar. Mungkin karena hampir semua orang yang pernah operasi caesar bilang kalau operasinya nggak sakit, jadi saya santai saja. Saya hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi sakit pasca operasinya tapi nggak terlalu memikirkan.

Di ruang operasi saya disuruh ganti baju operasi dan setelah naik ke atas kasurnya, saya disuruh duduk bungkuk ke depan dan disuntik obat bius di punggung bawah. Ternyata benar sih, nggak sakit. Ya sakit cus dikit kayak disuntik biasa saja. Setelah itu setengah badan ke bawah langsung kebas. Saya lihat ada dokter kandungan saya, dokter anak, dokter anestesi, dua suster, dan satu orang yang saya nggak tahu siapa tapi sepertinya asisten si dokter anestesi itu. Setelah kebas, saya diajak ngobrol dan operasi dimulai jam 7:30 tepat.

Perut saya seperti digoyang-goyang sekitar 20 menitan dan tiba-tiba dokter bilang “selamat anaknya perempuan ya.” Saya mendengar sedikit tangisnya. Lanjut lagi saya diajak ngobrol dan sesekali dzikir. Nggak lama saya mendengar lagi dokter bilang kalau anak kedua juga perempuan. Saya mengucap alhamdulillah karena akhirnya kedua anak saya sudah lahir.

Setelah itu tiba-tiba saja kepala saya pusing sekali dan badan atas saya pegal luar biasa. Mungkin ini dia efek penambahan darah dari kantong darah yang disediakan. Saya pernah dikasih tahu kalau ada darah masuk ke tubuh kita memang rasanya pegal. Nah ini yang masuk sekantong-kantong, pasti banget dong ya pegalnya ekstra. Karena super pegal, saya jadi nggak menikmati momen IMD dengan si kembar. Yang ada malah saya kayak pingsan nggak sadar.

Saya sempat agak setengah sadar setelah operasi. Sepertinya saya sedang di ruangan observasi dan nggak lama nggak sadar lagi. Tiba-tiba saya sudah ada di kamar dan baru sadar sekitar jam 15:00. Itu juga setelah sadar saya masih ngantuk berat dan pusing banget. Malah saya sempat muntah karena sempat makan dan minum kebanyakan. Baru deh agak sorean si bayi kembar dibawa ke ruangan dan proses IMD diulang lagi.

Jadi, kapan kah rasa sakit pasca caesar itu saya rasakan? Ternyata besokannya permisa. Rasanya mantap juga ya. Untuk yang mau tahu rasanya, let me describe it for you: rasanya nyeri nyut-nyutan di bawah perut, di atas vagina. Dan sekitar 2 hari ke depan rasanya bukan cuma nyut-nyutan, tapi juga perih. Terutama kalau ganti posisi dari tiduran ke duduk, dari duduk ke berdiri. Wow maknyus deh hehe.

Dengan ini lengkap sudah experience saya dalam melahirkan. Normal pernah, operasi caesar pernah. Kalau ditanya mending yang mana, saya langsung jawab normal!

aaa