Review Tissue Basah Bayi

Slide2

Setelah Gia lahir, tissue basah atau baby wipes jadi most wanted item di dalam tas. Kemana pun Gia pergi, tissue basah harus selalu ada. Ya iya lah, kalau nggak, gimana ganti popoknya. Oh iya, saya memang masih pakai tissue basah sebagai media untuk acara ganti popok karena saya belum berani dan belum ngerti banget gimana caranya nyebokin bayi pakai air di toilet. Mungkin nanti kalau Gia udah bisa berdiri dan jalan kali ya.

Oke, balik ke topik dari postingan ini. Saya akan bahas tissue basah yang pernah dipakai Gia. Tadinya saya pikir semua merk tissue basah sama saja; tissue yang sudah basah dalam kemasan dan dipergunakan untuk ganti popok atau lap ini itu. Tapi ternyata merk satu dan lainnya beda. Di postingan ini saya akan bahas perbedaan beberapa merk tissue basah khususnya yang for baby wipes yang pernah saya coba ya.

Slide1

  1. MamyPoko Baby Care Wipes Regular
    Ini adalah merk tissue basah pertama yang saya coba. Bisa dibilang saya sering juga beli merk ini karena setiap ke rak bagian tissue basah bayi, merk ini selalu tersedia dalam 1 bundle buy-1-get-1 dengan harga yang cukup terjangkau yaitu Rp 17,500/ bunlde. Insting mamak-mamak saya pastinya pilih yang modelan kayak gitu dong biar hemat hehe.

    MamyPoko Baby Care Wipes tersedia dalam dua kemasan; yang isi 80 sheets dan 52 sheets. Yang biasanya bundle buy-1-get-1 itu yang isi 52 sheets. Walaupun jumlah lembaran tissuenya terdengar ganjil (kenapa nggak digenapin jadi 60 gitu ya hehe), tapi jumlah ini terbilang cukup. Kalau ditaroh di tas nggak terlalu makan tempat dan bisa bertahan sekitar 4-5 hari.

    Variannya juga ada dua; fragrance dan non-fragrance. Kalau saya sih lebih milih yang non-fragrance karena takut Gia iritasi. Walaupun sebenarnya MamyPoko mengklaim nggak ada alkohol dan kandungannya air murni di tissuenya, tapi tetap prefer yang non-fragrance.  Kadang butuh juga sih ya yang fragrance, soalnya itu lumayan jadi penyelamat hidung dikala membersihkan pup.

    Tissuenya sendiri, ketika dipakaikan ke kulit Gia juga basahnya juga pas. Efeknya nggak yang basah banget kayak abis pakai 3 lembar tissue sekaligus gitu. Ketebalan tissuenya nggak begitu tebal sih tapi nggak tipis juga. Lembaran tissuenya disusunnya juga bagus, jadinya ngambil perlembar gampang dan nggak ngebundle dengan lembaran lainnya. Tissue ini kalau ditinggal terbuka di suhu ruangan juga nggak gampang kering.

    Overall: ★★★★☆

  2. Mitu Baby
    “Ambil Mitu, ambil Mitu, Mitu lagi, Mitu lagi, ambil Mitu.”
    You sing, you lose (and it’s a prove that you’re old enough) hahaha. Saking seringnya denger jingle iklan itu, sampai sekarang tertanam di otak kalau tissue basah ya Mitu. Sejak ada Gia, saya makin sering ketemu sama si Mitu ini.

    Kalau dulu saya taunya Mitu cuma ada yang model tabung dan ditarik ke atas kalau mau ambil tissuenya. Tapi ternyata ada kemasan travel pack yang lebih praktis. Dan Mitu ini banyaaak banget ya rangkaian produknya; ada yang Antiseptic, Fresh & Clean, Changing Diaper, dan New Baby Sensitive. Kalau saya seringnya ambil yang Changing Diaper warna pink dan biru yang memang khusus untuk ganti popok.

    Isinya ada 50 lembar tissue basah yang wangi banget; ada wangi chamomile (kemasan pink) dan chysanthemum (kemasan biru). Tekstur tissuenya lebih berserat, terlihat tipis, dan kalau dipegang basahnya juga pas. Saat dipakaikan ke permukaan kulit Gia terasa pas basahnya dan langsung mengangkat semua kotoran. Kalau pakai Mitu tapi harus ingat untuk segera menutup kembali kemasannya karena gampang banget kering kalau dibiarkan terbuka di suhu ruangan.

    Secara harga, Mitu memang agak pricey. Untuk bundle buy-1-get-1 di harga Rp 21,500 dan untuk satuannya Rp 12,500. Walaupun agak mahal sedikit, tapi saya biasanya memilih Mitu kalau nggak ada merk lain yang lebih murah (baca: MamyPoko) dan bagusnya, Mitu ini gampang banget ditemukan di supermarket manapun.

    Overall: ★★★☆☆

  3. Paseo Baby Wipes
    Saya beberapa kali nyoba pakai merk ini karena waktu itu nggak ada merk lain lagi. Paseo Baby Wipes ini nggak di semua tempat ada. Yang saya sering lihat sih di supermarket yang middle to large aja adanya. Kalau yang semacam minimarket gitu kadang suka nggak ada.

    Merk Paseo juga pasti udah pada tau kan ya. Kayaknya kalau tissue ya ingetnya Paseo. Tapi kalau yang tissue basah, saya baru tau waktu udah punya bayi. Sama seperti MamyPoko, Paseo ini juga isinya tanggung banget, 52 lembar. Paseo cuma punya 1 varian tissue basah yang memang khusus untuk baby.

    Beda merk, beda juga spesifikasi tissuenya. Paseo Baby Wipes ini lebih tebal daripada yang lain dan kalau dipegang basah banget. Literally basah sampai bisa keluar tetesan airnya kalau diperas. Kalau diaplikasikan ke kulit, beneran basah banget dan kadang sampai ada busa sabunnya. Jadi rasanya kalau pakai Paseo Baby Wipes, bersih banget acara ganti popok karena tissuenya kayak udah ada sabunnya.

    Paseo Baby Wipes ini ada versi bundle buy-1-get-1 juga, tapi saya nggak pernah nemu sih. Jadi selalu beli satuan yang mana harganya Rp 19,000. Agak lumayan yaa harganya. Tapi kalau dari spesifikasi tissuenya yang bebas alkohol, ada kandungan chamomile, lidah buaya, dan vitamin E yang lembut dan nggak bikin iritasi kulit, cukup oke lah.

    Overall: ★★★★☆

  4. Pigeon Baby Wipes
    Waktu saya datang ke counter Pigeon, saya iseng nyobain beli tissue basahnya karena kebetulan lagi abis juga di diaper bag-nya Gia. Pigeon Baby Wipes punya lima produk yang berbeda-beda tergantung fungsinya; Baby Wipes Chamomile Scented, Baby Wipes Chamomile, Baby Wipes Moisturizing Cloth, Hand and Mouth Wet Tissue, dan Wipes Anti Bacterial. Waktu itu saya belinya yang Wipes Anti Bacterial isi 20 lembar yang kemasannya imut-imut kecil gampang diselipin di diaper bag.

    Walaupun kemasannya imut, ternyata tissuenya cukup lebar, jadi saya biasanya pakai 1 lembar tissue udah cukup banget buat ganti popok Gia. Walaupun menurut saya agak ganggu sih setiap lembaran tissuenya dilipat, jadinya agak kurang praktis kalau buru-buru mau pakai karena harus dibuka dulu lipatan tissuenya.

    Tingkat kebasahan tissuenya sedang sih menurut saya. Kalau dipakaikan ke kulit basahnya pas dan nggak begitu cepat kering. Dan untuk ketebalannya juga pas, nggak terlalu tebal dan nggak terlalu tipis. Tapi saya tetap pakai minimal 2 lembar kalau mau ganti popok Gia pakai Pigeon Baby Wipes ini.

    Kalau soal harga, Pigeon kayaknya paling mahal diantara yang lain. Untuk yang isi 20 lembar saja harganya Rp 16,500. Jadi, kalau saya kadang-kadang aja deh beli merk ini kalau nemu dan perlu banget beli. Soalnya nggak di semua supermarket menjual produk ini.

    Overall: ★★★☆☆

  5. Cussons Baby Wipes
    Tissue basah merk ini kayaknya paling banyak variannya deh. Kalau di rak supermarket pasti banyak banget Cussons Baby Wipes warna-warni bertebaran; warna kuning (Protect Care Antibacterial Wipes), ungu (Fresh & Nourish Baby Wipes), hijau (Naturally Refreshing Baby Wipes), krem (Sensitive Baby Wipes), biru (Mild & Gentle Baby Wipes), dan pink (Soft & Smooth Baby Wipes).

    Karena terbiasa ambil tissue basah yang warna pink, jadi lah saya belinya yang Soft & Smooth Baby Wipes. Pertama kali dibuka langsung ada semerbak wangi bunga, jadi nyaman di hidung saat membersihkan kotoran. Tissuenya lumayan tebal dan kalau diusapkan ke kulit basahnya pas. Kandungan almond oil di tissuenya juga yang bikin tissuenya lembuuut banget.

    Cussons Baby Wipes yang saya beli biasanya yang isi 50 lembar. Harga satuannya Rp 19,500, hmm a bit pricey ya. Tapi oke lah kalau kepepet harus beli.

    Overall: ★★★☆☆

Nah itu dia review tissue basah ala saya. Jadi sebenernya tiap merk itu punya spesifikasi tissue masing-masing dengan harga yang berbeda-beda juga hehe. Kalau saya pribadi sih tetep pilih yang nggak terlalu mahal dengan kualitas yang oke. Karena kan untuk ganti popok bayi masa sih kita kasih yang nggak bagus hehe. Semoga bermanfaat ya review-an saya kali ini.

aaa

Advertisements

Persiapan MPASI Gia

Slide1

(Diposting oleh Ibu di usia Gia yang ke 8,5 bulan akibat mood naik turun dan aktivitas yang menguras waktu dan tenaga)

Time flies. Tiba-tiba Gia sudah 6 bulan dan itu lah saatnya Gia dan Ibu mulai belajar lagi. Gia belajar makan, sementara Ibu belajar memasak. Untuk saya yang bisa dibilang nggak bisa masak, fase ini menjadi sebuah tantangan. Makanya sebelum Gia 6 bulan, saya banyak mencari tahu serba serbi MPASI supaya bisa maksimal menjalani masa-masa MPASI dengan baik, benar, dan yang pastinya happy for the both side.

Nah di postingan ini, saya akan bahas segala sesuatunya sebelum saya memulai MPASI. Pertama, saya mau bahas tentang perlengkapan tempur yang saya siapkan.

Slide2

Yak, kita bahas satu-satu ya perlengkapan apa saja yang saya siapkan jauh-jauh hari sebelum MPASI dimulai.

  1. Alat makan
    Pastinya kalau mau makan ya yang disiapkan pertama kali adalah alat makannya yang terdiri dari piring dan sendok. Kalau garpu belum butuh ya buibu. Dan saya pun belum pernah lihat ada garpu dijual dalam satu set alat makan bayi hehe. Kalau saya pribadi pakai Pigeon Feeding Set Mini yang konon menjadi alat makan bayi sejuta umat. Saya juga nggak beli, alhamdulillah dapat dari kado waktu Gia lahir.

    Sedikit mau bahas soal Pigeon Feeding Set Mini nih. Jadi, di dalam set itu akan dapat satu piring lebar, satu piring kecil yang mungkin lebih cocok disebut bowl, sendok panjang, dan sendok yang pendek. Saya sendiri kurang tahu kegunaan sendok panjang pendek ini untuk apa, yang jelas sih saya selalu pakai yang panjang karena lebih enak untuk menyuapi Gia. Piringnya pun lebih sering pakai yang berbentuk bowl karena lebih kecil, gampang dibawa-bawa, makanan lebih banyak tertampung, yaaa intinya ergonomis lah. Harganya juga terjangkau. Kalau lihat di beberapa market place, harganya berkisar sekitar Rp 60,000 – Rp 75,000.

  2. Slow cooker
    Jauh sebelum MPASI Gia dimulai, saya sudah disarankan untuk beli slow cooker oleh beberapa teman. Slow cooker yang saya pilih adalah Baby Safe Digital Slow Cooker yang harganya cukup terjangkau. Kapasitasnya nggak beigitu besar, hanya 0,8L. Bedanya dengan slow cooker Baby Safe yang lain adalah timer yang disetting secara digital dan jelas pilihan waktu memasaknya; 2 jam, 3 jam, 4 jam, dan menghangatkan. Untuk harganya, saya beli bervariasi sekitar Rp 150,000 – Rp 170,000 tergantung penjualnya.

    Dengan slow cooker, proses masak memasak terutama bubur sangat mudah dan cocok untuk ibu bekerja seperti saya. Kalau mau masak bubur, malamnya tinggal memasukkan bahan-bahan ke dalam slow cooker, kasih air, atur lama waktu memasak, udah deh bisa ditinggal tidur semalaman dan paginya bubur sudah jadi. Selain bubur, slow cooker juga berguna untuk membuat kaldu. Sejauh ini saya baru sekali membuat kaldu ikan salmon pakai slow cooker.

  3. Baby food maker
    Karena menu untuk Gia nggak selalu bubur, saya pakai food processor/ food maker. Kebetulan saya dikasih yang merk Baby Safe waktu Gia lahiran kemarin (super thanks Gerombolan luv!). Saya sangat bersyukur sekali dikasih Baby Safe Food Maker ini karena fungsinya bisa kukus dan blender sekaligus. Harganya saya nggak tahu pasti karena kado. Tapi saya googling sih sekitar Rp 450,000 – Rp 500,000.

    Caranya gampang banget. Tinggal cemplungin bahan-bahan yang mau dimasak, terus set mau berapa menit mengkukus, abis itu kalau sudah mateng, tinggal buang air kukusan, tambahkan sedikit air, dan langsung deh blender. Simpel banget kan? Bersihinnya juga gampang karena mata pisau blender bisa dilepas dari wadahnya.

  4. Food container
    Nama simpelnya mungkin wadah penyimpanan tertutup kali ya. Saya pakai merk Claris dengan tiga macam ukuran; 100 ml, 750 ml, dan 1.350 ml. Ukuran paling kecil yaitu 100 ml adalah wadah makan yang saya siapkan untuk berpergian. Biasanya satu tempat ukuran 100 ml untuk sekali Gia makan. Ukuran berikutnya adalah 750 ml yang saya gunakan untuk menyimpan potongan-potongan buah untuk Gia. Bisa juga dipakai untuk menyimpan wadah yang lebih kecil untuk berpergian. Yang ukuran 1.350 ml ini juga bisa dipergunakan untuk menyimpan bahan makanan dan untuk berpergian.

    Kelebihan menggunakan food container adalah takaran makanan lebih terukur dan praktis dibawa kemana-mana. Untuk fungsi penyimpanan makanan pun juga lebih hemat plastik dan pastinya lebih aman. Kekurangannya hampir nggak ada ya, palingan capek nyuci aja.

  5. Saringan, wajan, dan talenan
    Untuk tiga barang ini, saya khusus beli untuk menyiapkan makanan Gia. Talenan dan wajan sengaja saya beli karena saya nggak mau tercampur dengan bekas masakan rumah dewasa. Alasannya karena biar higienis dan biar baru aja hehe. Pisaunya juga saya beli lagi khusus untuk motong-motong bahan makanannya Gia.

    Saringan juga wajib punya ya buibu. Terutama di awal MPASI, saringan ini penting banget. Kalau menunya lagi bubur, saya pasti pakai saringan untuk membuat teksturnya jadi lebih halus. Kalau menu kentang biasanya sudah halus karena saya kukus blender. Saringan juga bisa dipakai untuk menyaring buah-buahan supaya lebih halus.

  6. YouTube & WhatsApp
    Menurut saya, selain peralatan yang akan disimpan di dapur, kita juga perlu persiapan tempur lainnya yang nggak kalah penting, yaitu bekal pengetahuan tentang MPASI itu sendiri. Dua media yang selalu jadi andalan saya adalah YouTube dan WhatsApp.

    Sebelum mulai MPASI, saya rajin nonton YouTube dengan keyword MPASI. Mulai dari peralatan apa saja sampai resep semua ada yang share disana. Saya juga nonton mulai dari yang vlognya bagus dan niat sampai yang cuma slideshow foto-foto yang disertai tulisan bejibun.

    Selain itu untuk menambah ilmu lagi, saya ikutan kulwap alias kuliah WhatsApp lewat grup-grup di WhatsApp. Demi menambah teman dan wawasan, saya ikut grup BC (birth club) bulan Desember 2017 yang mana isinya ibu-ibu dengan bayi seumuran Gia semua dan grup MPASI homemade yang isinya sebenernya nggak tentang MPASI juga sih tapi lumayan membantu kalau mau tanya-tanya.

  7. Perlengkapan pendamping: bib/ slabber, dot, kursi makan
    Baru kepikiran pas nulis, jadinya nggak ada di gambar. Tiga hal ini penting juga sih menurut saya. Bib/ slabber/ celemek saya pilih yang bahan karet supaya gampang dibersihkan dari segala macam noda.

    Untuk media air minum saya pilih dot karena hmm Gia udah pinter ngedotnya sih jadi gampang haha. Sebenernya saya mau memperkenalkan dengan sippy cup tapi belum jadi nih. Mungkin di bulan ke 9 saya mulai coba beralih ke sippy cup dan semoga anaknya juga pinter nyedotnya.

    Terakhir, kursi makan. Saya adalah ibu-ibu dengan paham kalau makan itu ya harus duduk tertib di kursi makan. Nggak ada acara digendong atau dibiarin kesana kemari sambil disuapin. Apapun kondisinya, kalau mau makan ya harus duduk di kursi dan boleh pindah dari kursi kalau acara makan sudah selesai. Jadi, kursi makan ini penting buat saya. Yang saya pakai bukan high chair sih, tapi foldable booster seat supaya gampang dibawa kemana-mana.

Kedua, yang akan saya bahas adalah waktu pemberian makan. Jujur, ini juga yang bikin saya sempat galau dalam menentukan waktunya. Soalnya beda-beda sih ya. Ada yang 2x sehari, ada yang 3x sehari, bahkan ada yang 4x sehari terdiri dari 3x makan besar dan 1x snack. Jamnya pun bervariasi, tergantung masing-masing emak aja gimana.

Akhirnya setelah cari tau kesana kemari dan pengalaman praktek langsung, saya akhirnya mendapatkan jadwal yang tepat untuk saya dan Gia, yaitu makan 3x sehari (makan pagi, siang, dan sore). Jamnya juga saya tetapkan jam 08:00, jam 12:00, dan jam 16:00, sesuai dengan jadwal kegiatan Gia.

Ketiga, yang nggak kalah penting adalah teknik pemberian makan. Ngebahas hal ini umumnya mengacu kepada dua opsi: spoon-feeding alias nyuapin anak atau BLW (baby lead weaning) alias biarin anak makan pakai tangannya sendiri. Dan buanyaaak banget perdebatan soal hal ini di kalangan mommies. Tapi saya pribadi sih nggak ambil pusing karena dari awal saya dan suami sudah memutuskan untuk ambil teknik yang tersimpel untuk diaplikasikan: anaknya disuapin aja lah.

Semuanya memang ada plus dan minusnya ya. Tapi setelah baca sana sini dan diskusi, inilah beberapa pertimbangan saya memilih spoon-feeding ketimbang BLW;

  1. Gampang dan praktis
    Walaupun di awal-awal emang susah ya nyuapin bayi karena kan mereka belajar mengunyah dan menelan. Tapi asli, teknik spoon-feeding ini gampang banget dan bisa diaplikasikan oleh siapa saja.
  2. Mengejar ketertinggalan BB
    Berat badan Gia memang nggak kayak bayi-bayi lain yang sudah mencapai bahkan melebihi rata-rata. Gia termasuk bayi yang BB-nya perlu dikejar. Makanya saya pilih spoon-feeding supaya asupan nutrisi yang masuk lebih maksimal.
  3. Lebih rapi
    Sebenarnya mau spoon-feeding atau BLW ya namanya bayi pasti kalau makan ya berantakan. Tapi menurut saya kalau dengan disuapin, sekitar bayi bisa lebih rapi. Kalau ada yang tumpah bisa segera dilap dan jarak makanan yang jatuh nggak begitu jauh-jauh. Karena saya kurang begitu suka sama yang berantakan gitu, jadi poin ini penting juga untuk menjaga kewarasan saya.

Sekali lagi, teknik ini pilihan lho ya. Jadi sebaiknya udah nggak perlu lah debat antar emak-emak karena merasa teknik pilihannya yang terbaik sedunia. Karena pasti setiap anak kan beda-beda ya treatmentnya dan hanya emaknya lah yang paling tau yang terbaik.

Keempat, dan yang terakhir akan saya bahas sedikit adalah menu makanan. Mau cerita sedikit, sebelum MPASI dimulai saya sudah punya gambaran akan memberikan menu apa ke Gia. Tapi kenyataannya waktu praktek, rencana itu gagal semua saking dirasa terlalu idealis haha. Kebetulan waktu Gia mulai MPASI pas banget waktu lagi mudik. Jadi saya nggak sempat masak ini itu. Jadinya kasih yang instan deh. Dan berakhir di tempat sampah dong karena waktu itu kebanyakan dan Gia belum pinter makannya.

Setelah Gia mulai pinter makan, saya sudah mulai menemukan menu makanan apa yang pas untuk Gia. Yang pasti Gia makan 3x sehari. Kadang paginya buah, kadang langsung makanan berat. Kalau siang dan sore pastinya makanan berat. Menunya sendiri beragam, tergantung saya lagi mau pakai blender atau slow cooker. Kalau blender, biasanya bahan pokoknya kentang. Sedangkan slow cooker, pastinya beras putih jadi bahan utamanya. Setiap memasak saya usahakan menunya 4 bintang alias ada karbohidrat, protein hewani, protein nabati, dan sayur.

Setiap memasak saya nggak lupa selalu kasih lemak tambahan juga. Karena saya menganut paham bayi di bawah 12 bulan nggak makan gula dan garam, yang paling sering saya pakai unsalted butter dan keju untuk menambah rasa gurih juga. Dijamin banget Gia pasti lahap apapaun menu makanannya kalau pakai dua lemak tambahan tersebut.

Sekian dulu cerita tentang per-MPASI-an Gia. Semoga bermanfaat untuk yang membacanya. Ibunya Gia masih perlu banyak belajar nih. Apalagi sebentar lagi Gia udah mau 9 bulan, artinya Gia udah harus perlu dikenalkan dengan tekstur baru yang lebih kasar. It will be more challenging.

aaa

Cerita Menjadi Pejuang ASI

1

Wah sudah lama juga ya saya nggak nulis disini. Sejak saya kembali bekerja, energi saya rasanya cepat habis karena pulang malam dan masih harus mengurus perbayian. Makanya setiap pulang kantor, setelah beres-beres, saya langsung tidur. Ketika weekend tiba, saya sibuk mengurusi Gia seharian. Waktu luang saya hanya malam hari ketika Gia sudah tidur dan rasanya capek banget dan malas buka laptop. Satu-satunya waktu yang tepat untuk menulis adalah ketika di kantor. Itu pun juga curi-curi waktu di tengah mengerjakan pekerjaan. Jadi, berhubung waktu yang tepat itu adalah sekarang, oke deh mari kita selesaikan tulisan ini.

Sebenarnya banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan, terutama tentang pengalaman yang berhubungan dengan perbayian. Tapi untuk kali ini, saya akan bahas tentang cerita menyusui Gia selama 6 bulan ini.

Dari awal, saya memang ingin memberikan Gia ASI eksklusif dan akan selalu memperjuangkan niat saya ini setidaknya sampai 6 bulan. Alhamdulillah Gia lulus S1 ASI yang artinya Gia berhasil diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Apakah semuanya berjalan lancar? Hmm sebenarnya nggak juga sih. Proses menyusui Gia ternyata ada dramanya yang kebanyakan datangnya dari ibunya alias saya sendiri.

Jadi, saya masuk ke kategori ibu-ibu yang diberikan anugerah ASI oleh Yang Maha Kuasa hanya dengan jumlah yang cukup menuju sedikit. Hari pertama Gia lahir, alhamdulillah ASI saya sudah keluar. Tapi saya baru memberikan ASI di hari ke-2 karena saya sempat transfusi darah pasca melahirkan. Ketika pertama kali nenenin Gia, dia sudah langsung bisa menghisap dengan benar. Hari demi hari kemudian semuanya berjalan lancar saja. Gia semakin lancar dan tetap mau menyusu langsung walaupun memang dia nggak terlalu banyak nenennya.

Untuk masalah makanan, mendadak saya jadi suka sayur. Mungkin sedikit terpaksa keadaan, jadinya suka ya. Segala macam sayur yang warna hijau saya makan demi ASI yang banyak; bayam, kangkung, buncis, bahkan daun katuk. Tapi ternyata kuantitas ASI saya nggak yang banyak banget seperti orang-orang. Setiap saya pompa, hasilnya hanya mentok di 20-30 ml per-sesi.

2

Karena hasil yang segitu-segitu aja, saya mulai mencoba mengkonsumsi ASI booster. Waktu itu saya minum teh pelancar ASI Mamabear. Hasilnya kuantitas ASI perah saya nggak terlalu yang fantastis seperti testimonial orang-orang. Ditambah mungkin kurang begitu cocok di Gia karena mendadak banyak bruntusan di wajahnya. Yup, sepertinya Gia alergi dengan teh tersebut. Akhirnya saya berhenti pakai booster tersebut.

Saya sempat curiga apakah karena pompa ASI saya yang manual menyebabkan kurangnya stimulus produksi ASI saya. Lagipula pakai pompa manual juga pegel banget dan nyuci perintilannya banyak. Waktu itu pompa manual saya merk Pigeon. Akhirnya saya ganti dengan pompa ASI sejuta umat, Spectra 9+ dengan harapan kuantitas ASI saya meningkat. Walaupun dual pump alias dapat dua buah pompa, waktu itu saya masih pakai satu pompa saja. Saya jadi lebih bersemangat memompa ASI saya karena gampang, nggak capek, dan nyucinya juga nggak begitu banyak.

Lalu, gimana hasilnya? Ya ada peningkatan sedikit tapi masih sekitar 20-40 ml per-sesi. Tapi jujur sih, saya memang nggak terlalu rajin memompa. Kombinasi capek karena kurang tidur, mengurus Gia sendirian, sempat baby blues, PD yang rasanya kosong setelah disedot Gia, dan malas mencuci pompa karena hasilnya sedikit dan effort nyucinya besar adalah penyebabnya. Dalam sehari, saya palingan cuma memompa 2-3 kali. Padahal saya tahu saya harus banyak menabung ASIP karena saya harus bekerja setelah cuti berakhir.

Sebagai penyemangat, saya sampai niat membeli freezer khusus ASI. Setelah beli, saya memang lebih semangat memompa dan frekuensi meningkat. Apalagi mengingat sudah mendekati hari masuk kerja lagi. Tapi setiap membuka pintu freezer, rasanya hampa banget. Ada perasaan sedih juga kenapa saya nggak bisa menghasilkan ASIP yang banyak kayak orang-orang.

Sampai suatu saat tiba lah saatnya saya harus melatih Gia pakai botol dot. Waktu itu adalah dua minggu sebelum masuk kerja. Iya, saya salah banget baru ngajarin Gia minum dari dot H-2 minggu begitu. Tapi semua ini beralasan: saya nggak mau ‘buang-buang’ ASIP saya yang hanya sedikit itu.

Botol dot yang waktu itu dipakai adalah Pigeon Peristaltic Slim Neck. Saya sudah punya tiga botol, hasil hunting di pameran bayi sebelum Gia lahir. Saya pikir, ya palingan Gia mau lah ya. Eh, ternyata saya salah dong. Gia menolak dikasih dot tipe itu berkali-kali. Padahal saya sudah sampai ganti dotnya supaya lebih besar lubangnya, tapi ya tetep Gia nggak mau sampai ASIP saya terbuang sia-sia sebanyak tiga kantong, yang mana satu kantongnya berisi 50 ml-an. Pada waktu itu udah paling pol banget menghasilkan jumlah segitu. Rasanya mau nangis deh pokoknya.

Akhirnya saya nyobain Pigeon Peristaltic Wide Neck yang lebih lebar dotnya. Dan alhamdulillah di percobaan pertama, Gia langsung mau latch dengan dotnya dan menghisap habis ASIP di dalamnya. Wuaaah rasanya seneng banget. Berkurang deh satu beban pikiran saya. Tinggal mikirin gimana cara meningkatkan produksi ASI.

Singkat cerita, saya sudah masuk kerja lagi. Saya bisa memompa ASI 2-4 kali di kantor. Dan ajaibnya hasilnya lumayan meningkat daripada saya memompa di rumah. Saya mulai menggunakan dual pump-nya juga agar lebih cepat memompa. Nggak lupa saya terus mengkonsumsi air putih sebanyak-banyaknya dan sayur setiap hari. Hasil pompa di awal-awal saya masuk kantor itu paling banyak 70 ml per-sesi. Tapi tetap saja nggak kekejar dengan stok ASIP yang ada di rumah karena memang hanya sedikit, sedangkan Gia minumnya mulai banyak.

3

Kepanikan saya akan hal tersebut akhirnya menghasilkan suatu keputusan: saya harus mencari donatur ASI. Atas izin suami, saya diperbolehkan untuk mencari donatur ASI untuk Gia daripada Gia harus menyerah ke susu formula (sufor). Dengan berbekal search and scroll di Instagram, saya menemukan donatur ASI yang cocok dengan profil yang diinginkan: anaknya perempuan, mengkonsumsi makanan halal, dan golongan darah O.

Beruntung saya menemukan Mbak Tsara, donatur ASI yang baiiik banget. Mbak Tsara welcome banget dan tanpa ragu memberikan 13 kantong ASIPnya kepada saya. Padahal saya sudah pesimis beliau nggak mau ngasih ke saya karena kan kondisi bayi saya bukan yang sakit atau gimana, tapi memang kurang stok karena ASI sedikit dan bekerja. Karena lokasi beliau jauh, beliau pun dengan baik hati mengizinkan saya untuk mengambil pakai kurir ASI.

Setelah mendapat donor ASIP dari Mbak Tsara, hidup saya sedikit tenang, sambil terus berusaha kejar tayang stok ASIP untuk Gia. Tapi, ternyata suppy and demand nggak seimbang. Gia makin banyak minumnya dan ternyata donor dari Mbak Tsara pun nggak cukup. Karena malu, nggak enak, dan jauh minta ke Mbak Tsara lagi, saya pun mencari lagi donatur ASI di Instagram dan ketemu lah dengan Mbak Risca.

Karena lokasinya dekat dengan rumah, saya mengambil sendiri ASIPnya ke rumah Mbak Risca. Kebetulan beliau juga maunya kita yang jemput sendiri ASIPnya, sekalian perkenalan dan tukar informasi karena ke depannya kan status Gia adalah saudara persusuan anak beliau.

Waktu ke rumahnya, saya kaget melihat dua freezer yang penuh dengan kantong ASIP sampai-sampai ketika dibuka pintunya langsung berjatohan saking penuhnya. Dari situ saya beneran takjub sekaligus minder. Alhamdulillah saya diberi jatah 15 kantong ASIP karena walaupun stok Mbak Risca banyak, tapi beliau lebih mementingkan ibu lain yang anaknya kurang beruntung rutin mengambil stok ASIPnya.

Beberapa minggu kemudian, stok dari Mbak Risca pun habis. Stok ASIP saya juga menipis. Saya pun sudah berpikiran untuk menyerah pada idealisme saya yaitu beralih ke sufor. Tapi kemudian saya selalu ingat Gia dan di setiap sesi pompa selalu berdoa supaya hasilnya banyak. Waktu itu saya bisa dapat 80 ml per-sesi.

Di tengah keputusasaan, saya coba mencari donatur lagi di Instagram. Kebetulan langsung ketemu dengan Mbak Shafira. Setelah tanya-tanya dan minta izin, beliau memperbolehkan saya untuk mengambil dengan syarat ke rumahnya. Karena pengalaman sebelumnya hanya diberikan belasan kantong ASIP, saya pun membawa cooler bag kecil yang biasanya saya bawa ke kantor.

Setelah bertemu dengan Mbak Shafira, orangnya ramah sekali. Dan saya kaget banget waktu dikasih satu kantong plastik besar yang berisi kantong ASIP plus ada yang dimasukkan ke cooler bag saya juga sampai penuh sesak. Ternyata setengah isi freezer beliau diberikan spesial untuk saya. Nggak ada yang bisa saya lakukan kecuali berterima kasih berkali-kali. Beliau juga sharing pengalaman menyusuinya dan juga berbagi tips and trick untuk meningkatkan jumlah ASI yaitu dengan cara power pumping diantara jam 12 malam sampai 5 pagi. Pokoknya terbaik banget deh Mbak Shafira ini.

Pulang dari rumahnya, saya benar-benar malu. Saya bertekad untuk tidak meminta donor ASI lagi dari siapapun. Saya harus benar-benar bisa berjuang sendiri kali ini. Ya iyalah, udah dikasih setengah isi freezer, masa mau minta lagi? Ya saya harus bisa dong. Pelan-pelan saya mulai berusaha lebih keras dan berdoa.

4

Saya mulai konsumsi ASI booster lagi; Herbs of Gold dan Mamanduy. Jadwal memompa juga dirutinkan 3-4 jam sekali. Setiap hari makan makanan bergizi dan banyak, nggak lupa juga air putihnya yang buanyaaak. Ya, alhamdulillah sekarang bisa menghasilkan sampai 160 ml per-sesi walaupun nggak selalu segitu sih. Tapi in total, sehari bisa menghasilkan 350-450 ml ASIP di kantor. Jumlah yang sangat besar versi saya.

Begitu lah kisah menyusui Gia selama 6 bulan ini. Berikutnya, selain terus maintain persediaan ASI, saya juga harus memikirkan menu MPASI untuk Gia. Karena perjalanan masih panjang, mohon doakan saya dan Gia ya gaes.

aaa