Menjadi Ibu

photo-1449104532935-d9209c70e2b6
Photo credit: @westbeach013 from Unsplash

Waktu saya masih single dan lebih muda, saya selalu punya pikiran ini di otak dan hati saya: ibu saya cerewet dan pikirannya selalu berbeda dengan saya sehingga saya kesal dan berujung dengan nada tinggi di setiap percakapan saya ke beliau. Pikiran itu membuat saya dan ibu tidak dekat. Sampai suatu hari saya melahirkan, punya anak, dan resmi menjadi seorang ibu.

Proses persalinan menjadi titik balik saya dalam memandang sosok ibu saya. Setelah merasakan sendiri betapa sakitnya melahirkan itu, saya jadi merasa berdosa kepada ibu atas segala perlakuan dan perkataan saya selama ini. Begitu pun dengan pikiran yang dulu selalu ada tentang beliau. Seketika, pikiran itu hilang dan saya pun mengerti bahwa yang beliau pernah lakukan dan katakan kepada saya tidak lain dan tidak bukan adalah wujud rasa sayang kepada anaknya.

Ketika saya menjadi ibu, tidak ada manual book yang mengajarkan bagaimana menjadi ibu yang baik, benar, dan sempurna. Semuanya butuh proses yang harus dilewati sendiri. Tetapi saya tahu, ada dua kunci utama yang menjadi modal; cinta dan sabar. Mungkin ibu sering memarahi saya, tapi tidak pernah membenci saya. Ada kesabaran dan cinta yang tulus di dalam hatinya. Apalagi ibu saya seorang single parent, dibutuhkan kesabaran yang ekstra pastinya menghadapi anak-anaknya. Disitu letak kehebatan beliau yang ingin saya miliki juga sebagai seorang ibu. Dan itu tidak mudah.

Anak saya sudah tiga. Jelas ini menjadi sebuah tantangan besar bagi saya untuk bisa mengasuh dan mendidik mereka agar menjadi orang yang sukses di dunia dan akhirat. Dengan stok kesabaran saya yang terbatas ini, semoga saya bisa menuntun mereka ke jalan kesuksesan sesuai harapan dan dicintai oleh anak-anaknya.

(Ditulis oleh ibu yang sedang lelah mengurusi tiga bocah bayi)

aaa

Advertisements

Etika Saat Menjenguk Bayi Yang Baru Lahir

photo-1511948374796-056e8f289f34
Photo credit: @lumapimentel from Unsplash

Ketika mendengar kabar saudara atau teman yang sudah melahirkan, rasanya kita ingin segera menjenguk untuk melihat bayi lucu yang baru lahir. Tapi tahukah kamu bahwa menjenguk bayi baru lahir itu ada etikanya lho. Jujur, sebagai orang yang pernah melahirkan, saya merasa ada beberapa etika–atau mungkin lebih halusnya ‘aturan’– yang seharusnya diperhatikan oleh orang yang akan menjenguk. Maka dari itu, berdasarkan pengalaman pribadi juga, saya mau berbagi apa saja ‘aturan’ yang harus diperhatikan ketika menjenguk bayi yang baru lahir.

#1. Buat janji sebelumnya
Agar kunjungan terasa nyaman, sebaiknya tanyakan dulu kepada ibu yang punya bayi kapan waktu yang tepat untuk menjenguknya. Jangan pernah datang secara mendadak. Alasannya simpel, karena setelah melahirkan ibu biasanya lelah karena proses persalinan dan harus mengurus bayi. Dengan kondisi baru seperti itu saja, biasanya para ibu sudah kehilangan waktu untuk istirahat bahkan waktu untuk mandi. Maka sebaiknya datang saat ibu benar-benar siap dikunjungi dengan menanyakan jadwal yang tepat untuk berkunjung.

#2. Harus dalam keadaan sehat
Sebaiknya jika sedang tidak dalam kondisi sehat, walaupun hanya batuk atau pilek ringan, jangan datang menjenguk dulu. Bayi itu super sensitif, apalagi yang baru saja lahir. Mereka gampang sekali tertular penyakit yang disebabkan oleh virus. Tentu saja kita tidak ingin bayinya ketularan sakit juga kan? Selain bayi, ibu dan ayah yang kelelahan mengurus bayi juga bisa gampang sakit. Maka dari itu datanglah berkunjung jika kondisi tubuh dalam keadaan sehat.

#3. Minta izin untuk menggendong
Bayi baru lahir memang lucu dan menggemaskan. Tetapi bukan berarti orang lain boleh menyentuhnya apalagi menggendongnya secara spontan. Bayi itu milik ibu dan ayahnya. Biasanya karena lelah melahirkan juga mengurus bayinya, ibu itu sensitif jika anaknya disentuh, digendong, apalagi dicium orang lain karena takut sakit. Karena ya bayi itu memang sensitif dan gampang tertular penyakit. Jadi, sebaiknya minta izin dengan bertanya apakah boleh menggendong bayi kepada ibunya. Juga sebaiknya jangan mencium bayi ya walaupun dalam keadaan sehat. Jangan lupa sebelum menggendong pastikan untuk mencuci tangan ya.

#4. Perhatikan durasi berkunjung
Ketika mengunjungi bayi baru lahir, sebaiknya tidak usah lama-lama. Simpel sih, karena orang tuanya, terutama ibunya, lelah setelah melahirkan juga harus menyusui dan mengurus bayi yang baru lahir. Ketika bayi tidur, disitulah satu-satunya waktu yang tepat untuk ibu ikutan tidur juga. Maka dari itu, perhatikan durasi berkunjung dan tidak usah berlama-lama. Belum lagi kalau tamunya banyak yang ngantri untuk menjenguk. Kasian kan ibunya jadi minim waktu istirahatnya.

#5. Berkata seperlunya
Ingat, ibu yang baru melahirkan itu sensitif lho. Tidak perlu lah bertanya hal-hal yang tidak penting yang bisa mengarah ke mom shaming atau yang bersifat menyudutkan. Tidak perlu juga mengomentari juga memberi nasehat ketika tidak diminta yang mana seolah-olah paling tahu dan berpengalaman. Sebaiknya berkata seperlunya, berikan saran hanya jika ditanya, dan berikan support kepada orang tua si bayi, khususnya ibunya.

#6. Minta izin untuk posting ke media sosial
Ini masalah privasi. Tidak semua orang tua ingin wajah bayinya terpampang ke khalayak ramai. Mintalah izin kepada orang tuanya sebelum memotret atau merekam video dan ketika hendak mengunggah ke media sosial. Jika orang tuanya tidak mengizinkan, hargailah keputusannya.

aaa

 

 

27

photo-1525034839140-53bdec0b0296
Photo Credit: @johnnygold from Unsplash

Bersyukur.

Atas oksigen gratis yang masih bisa saya hirup dan masih bisa bertemu dengan orang-orang yang saya sayang di hari ulang tahun saya.

Kali ini, pertambahan umur saya sangat sederhana namun lengkap. Ucapan ulang tahun hanya datang dari segelintir orang terdekat dan yang benar-benar ingat. Pagi hari, saya dikunjungi ayah, eyang, om-tante, dan sepupu dari Bandung. Siangnya saya kedatangan para sahabat terbaik, Gerombolan, dengan surprise kue ulang tahunnya. Walaupun niat mereka bukan seratus persen merayakan ulang tahun saya, melainkan menengok bayi kembar saya yang baru lahir, saya bahagia.

Sederhana. Tapi lengkap karena orang-orang yang saya sayangi ada semua di hari itu, termasuk suami saya yang masih menemani saya di Jakarta (ya begitu lah nasib LDR). Terasa lengkap juga karena kehadiran anak kembar yang sudah ditunggu-tunggu. Ya, walaupun sebenarnya saya ingin melahirkan mereka di hari ulang tahun saya, tetapi Allah punya rencana lain. Yang pasti saya senang. Sangat senang.

Selamat ulang tahun yang ke-27, Feb!

aaa