Road to Mrs.

tumblr_nr8qkugkrn1s5a5oyo1_500

A week to go!

Pertanyaan-pertanyaan seperti “gimana persiapan pernikahannya?”, “udah mulai deg-degan belum?”, sampai pertanyaan seperti “gimana udah siap belum jadi istri orang?” banyak bermunculan menjelang hari H pernikahan.

Dan jawabannya?

Untuk persiapan pernikahan insya Allah sudah aman terkendali karena ditangani dengan baik oleh wedding organizer dan tentunya Ibu saya. Ibu saya adalah orang yang mengurus persiapan pernikahan saya dari A sampai Z. Mulai dari menghubungi vendor-vendor, pemilihan menu katering, pemilihan dan pembelian souvenir pernikahan, sampai ke detail-detail untuk acara lamaran dan pengajian menjelang pernikahan. I can’t thank her enough for every single effort she did. 

Kalau masalah deg-degan, sampai saat ini sih belum. Detak jantung masih normal, namun otak sudah bekerja dengan sangat keras memikirkan banyak hal dimulai dari sekitar satu bulan yang lalu. Saya tidak terlalu memikirkan bagaimana acara pernikahan nanti berlangsung. Saya lebih memikirkan persiapan untuk menjadi seorang istri, karena itu lah yang harus saya jalani ke depannya sampai maut memisahkan saya dan suami.

Akhir-akhir ini saya sering mendengar nasihat berupa cerita pengalaman orang lain maupun nasihat umum mengenai pernikahan. Tidak jarang, apa yang saya dengar justru jauh dari kata ‘menyenangkan’. Maksud saya bukan cerita perpisahan yang menyedihkan, tetapi bagaimana kehidupan pernikahan itu dijalani dengan penuh perjuangan.

“Feb, nikmati masa-masa sekarang ini. Setelah kamu menikah nanti, your life will be totally different.”

Itu lah yang diucapkan oleh Bapak Bos saya di kantor ketika beliau menerima undangan dari saya.

“Pernikahan itu berat. Tidak semudah yang dibayangkan dan disaksikan di film-film. Menikah itu tidak ada lagi ‘aku’, tetapi semua diganti menjadi ‘kita’. Maka dari itu, susahnya menikah adalah ketika harus menyatukan persepsi dan pendapat ‘aku’ dan ‘kamu’ menjadi ‘kita’. Itu bukan hal yang mudah karena butuh banyak kompromi dan kesepakatan bersama,”

Lanjut Bapak Bos saya, “Lebih bagus kalau kalian sudah langsung tinggal terpisah dari orang tua. Jadi kalian bisa merasakan suka duka berdua menjalani hari-hari kalian. Tidak masalah jika rumah yang kalian tinggali itu masih ngontrak dan sempit, yang penting terpisah dari orang tua. Kelak itu akan mendewasakan kalian.”

Begitu lah nasihat dari Bapak Bos yang sampai detik ini masih melekat erat di kepala saya. Saya terus menerus merenungkan makna dari sebuah pernikahan. Sepertinya memang tidak semudah yang selama ini saya bayangkan; hidup hanya berdua dengan suami, tidak lagi ada jam malam sehingga saya bebas pulang jam berapa pun bersama suami, tidak ada lagi kecanggungan ketika ingin bermesra-mesraan, punya rumah sendiri dan aturan-aturan sendiri, dll. Namun sepertinya bayangan saya terlalu dangkal memaknai sebuah pernikahan. Mungkin tidak akan selalu enak dan berjalan lurus. Untuk itu, diperlukan sebuah kemantapan batin dan kesiapan yang sangat matang untuk menghadapi pernikahan yang diharapkan hanya sekali seumur hidup.

Saya pribadi, insya Allah siap menjadi istri dari calon suami saya, Bimo. Walaupun saya belum pernah menikah (baru minggu depan insya Allah resmi menikah), sepertinya beberapa hal sudah harus mulai ditanamkan dalam diri saya untuk menjadi seorang istri idaman, antara lain:

Menjalin komunikasi yang baik dengan (sekarang masih calon) suami. Jujur saja, saya memang kurang dapat menjalin komunikasi yang baik dengan pasangan. Hmm, mungkin bisa dibilang saya kurang terbuka dengan pasangan. Saya masih suka malu-malu bahkan ragu untuk menyampaikan isi kepala saya kepada pasangan. Di dalam otak saya, selalu ada delay untuk menyampaikan isi hati dan kepala saya dikarenakan takut menyinggung perasaan pasangan dan memperburuk suasana. Setelah saya disadarkan oleh beberapa nasihat, akhirnya saya mengerti bahwa terbuka adalah suatu hal penting dalam menjaga komunikasi yang baik dengan pasangan. Untuk itu, mulai saat ini saya sedang berusaha keras untuk selalu terbuka dengan calon suami.

Hidup serba apa adanya, dalam artian hidup sederhana. Saya tidak pernah hidup sendiri terpisah dari orang tua. Sejak kecil, kuliah, bahkan sampai sekarang kerja, saya masih hidup menumpang di rumah orang tua. Tidak pernah sekali pun saya mendapat kesempatan untuk ngekos. Jujur saja, hal ini membentuk suatu comfort zone pada diri saya. Di rumah segalanya serba ada. Sehingga, hidup ‘susah’ adalah suatu hal yang baru bagi saya. Namun, hal ini harus saya latih terus menerus walaupun jujur saja masih susah bagi saya untuk keluar dari zona nyaman itu.

Mengubah lifestyle. Saya termasuk orang yang royal dalam hal makanan. Pengeluaran saya sebagian besar adalah untuk makan. Saya bukan tipe orang yang doyan belanja make up, baju, sepatu, atau barang fashion lainnya. Hanya satu: makanan. Tidak menjadi masalah besar jika saya mengeluarkan sejumlah uang untuk seporsi makanan enak. Tapi jelas saja gaya hidup seperti ini harus saya hilangkan segera dari kehidupan saya. Ke depannya, makan enak mungkin tidak lagi menjadi prioritas pengeluaran dalam hidup saya (tentunya dengan suami). Karena kami akan hidup terpisah dari orang tua, banyak hal yang harus dianggarkan seperti biaya bulanan apartemen, cicilan rumah, dan tabungan untuk masa depan. Terus terang, hal ini beraaat sekali. Tapi saya yakin saya pasti bisa demi keluarga kami ke depannya.

Belajar memasak. Wah, untuk ukuran seperti saya yang jarang (bisa dibilang tidak pernah) ke dapur, belajar memasak akan menjadi sebuah pelajaran baru yang sangat menantang. Berhubungan dengan poin kedua di atas, saya terbiasa hidup serba ada. Jadi, memasak sendiri adalah hal yang sangat jarang (ehm, ya itu tadi, hampir tidak pernah) saya lakukan. Sebenarnya, Bimo tidak mengharuskan saya bisa memasak dan memasak setiap hari (bener kan ya, sayang?). Tapi sebagai istri yang baik, setidaknya saya harus menyiapkan hidangan di tempat tinggal kami. Dan inilah momen pada hidup saya dimana saya akhirnya harus memaksakan diri untuk bisa memasak. Persiapan saya sampai saat ini? Download app Cookpad di smartphone, nonton video-video Tasty, dan googling resep hahaha.

Yang terakhir, mengatur keuangan. Ada yang bilang, kesuksesan rumah tangga bergantung kepada seberapa pintar pengelolaan keuangan dalam rumah tangga tersebut. Setelah kami berdiskusi, setelah menikah, saya lah yang akan mengatur keuangan rumah tangga. Sebagai orang yang dari dulu tidak pernah bisa matematika dan selalu dapat nilai jelek di pelajaran financial management, hal ini sangat menantang sekali. Tapi saya sih optimis untuk hal ini, karena pada dasarnya saya sudah mendapatkan bekal untuk masalah uang. Dari kecil, saya diajarkan menabung oleh orang tua. Pengalokasian rekening untuk berbagai macam keperluan sudah saya lakukan sejak saya kuliah, sehingga saya tidak perlu berpikir keras bagaimana memisahkan akun untuk tabungan, keperluan A, dan keperluan B. Setiap hari saya selalu mencatat pengeluaran dan pemasukan untuk beberapa akun saya; mulai dari cash, rekening A, rekening B, sampai deposito, menggunakan aplikasi finansial di smartphone. Jadi, untuk hal ini saya masih optimis bisa mengatur keuangan dengan baik. Hanya saja tinggal lifestyle saja yang harus diubah agar keuangan selalu surplus.

Setiap orang mungkin berbeda-beda ya dalam perjalanan menjelang hari pernikahannya. Ada yang lebih memikirkan acara di hari H, ada pula yang lebih memikirkan setelah hari H resmi menjadi istri orang, seperti saya ini. Ya begitu lah road to Mrs. versi saya. Tidak ada maksud apa pun kecuali sharing isi otak. Semoga bermanfaat.

Dan bismillah untuk minggu depan. Mohon doanya agar acara pernikahan saya dan Bimo berjalan dengan lancar tanpa kurang suatu apapun. Dan semoga saya dapat menjadi Mrs. Bimo yang baik sejak kata-kata ‘sah’ terucap dari penghulu. Aamiin.

aaa

Engagement Day

2

1

3

4

SK1C0179

SK1C0187

SK1C0203

SK1C0207

SK1C0221

SK1C0240

SK1C0200

SK1C0273

SK1C0282

SK1C0450

SK1C0320

SK1C0478

SK1C0480

SK1C0506

SK1C0503

SK1C0514

SK1C0539

SK1C0496

SK1C0458

Alhamdulillah. I’m officially engaged to Bimo now.😀

May 22, 2016. One of my favorite days in 2016 that I couldn’t ever forget. Bimo and his big family came to my house with an intention: to ask my dad’s permission to propose his one and only daughter. Actually, Bimo and his family has done this proposal thingy informally on March.

The engagement day was going well. My make up artist, Tyas, who is my college friend, and her team were ready to start the make up process at 5. I liked her work, but I guess she needs to learn how to draw eyebrows properly. But overall, I looked different, in a good way (read: pretty slash beautiful slash fab). Thank you, Tyas.

During make up session, Mas Artha and his team from Adiza Photography, my photography vendor came to my room at 9, took some pictures. Done with make up thingy, I felt so nervous as hell. I checked my phone for hundred times, greeted all of guests I met downstairs, read the proposal answer text, texted my brother asking if Bimo’s squad had invaded my house, and texted my best friend telling her that I was so nervous I could poop my pants at that time.

Minutes later, I heard someone cough on the mic and greet the audience. God! He just really came! The event started with Om Eddi, Bimo’s dad, told the intention and purpose of his big family coming. Then I heard Bimo seized the mic, told the intention and purpose once again and… he asked my dad’s permission to propose me. I laughed to his trembling voice upstairs. Unfortunately I couldn’t see how his face look like while he was on the mic. The mic was returned back to my dad and he called me.

I went downstairs accompanied by my cousin. I couldn’t hide my amusement. I laughed and smiled to the moment I was at. I grabbed the mic and read the paper in my hand (sorry honey, I couldn’t get the right sentences though I read the text thousand times)

It was a big yes.

Like the most engagement event, the next session was the ring exchange. Tante Hermi, Bimo’s mom, put the ring on my left fourth finger, so my mom did to Bimo. We couldn’t stop laughing to Bimo’s trembling hands while my mom started to put the ring on his finger. One of the favorite parts of the day was the moment when Mas Artha took some pics of us wearing the rings. God! I really have a fiancé now.

The next agenda were family introduction, photo session with family, and lunch. The day was ended by du’a and farewell with his big family. Alhamdulillah I saw happy faces all day long. Lot of smiles upon people’s face, especially upon my parents’, my families’, Bimo’s, and his families’ faces. It really made my day. Thank you!

I’m so happy and still couldn’t believe that a man that has ticked all the box of my ideal soulmate list really exists on earth. And he just proposed me to be his wife. This is beyond a ‘dreams come true’.

Glass and Soy Sauce phase have been through well, alhamdulillah. We’re ready for the next journey to Salt phase, our biggest day on September 2016.

aaa

I Wish:

10093-Dandelions

/ I knew how to get along with children, especially infants and toddlers. I don’t know why I always find myself hard to communicate with them, though they can’t speak fluently. It’s totally awkward and little bit uncomfortable being around them, I prefer being in the middle of new group who talk about uninteresting stuffs (uhm, not really, but I guess it’s better)

/ I could be more warm and friendly to everyone. Like do simple things such as greeting people, throwing smiles to people, making small talks, even just asking how they’re doing. Showing a good manner in social life. The next level, I wish I could talk to people easier without being socially awkward.

/ Every rules I made wouldn’t be broken. Set a list of rules of life in order to have a better life is easy. The hardest part is to be consistent and not cross the limits. Oh God, give me a combination of strengths and patience to get through this (read: sticking to the rules I made for myself)

/ I could stop being selfish, ignorant, and silly. I want to think about others first than mine. I want to be more curious about people and their different kind of interests. I want to be interested to something that I’ve never been interested before. I want to stop making fun and laughing at inappropriate events. I want to be a-more-serious kind of person.

/ I could meet everyone’s expectations, especially my parents, my soon-to-be-husband, and his family. I just wanna be a goddamn perfect to them. In any single aspects. At least, I wanna see their happy and proud faces as I’m being a person they are looking for.

aaa