Cerita Menjadi Pejuang ASI

1

Wah sudah lama juga ya saya nggak nulis disini. Sejak saya kembali bekerja, energi saya rasanya cepat habis karena pulang malam dan masih harus mengurus perbayian. Makanya setiap pulang kantor, setelah beres-beres, saya langsung tidur. Ketika weekend tiba, saya sibuk mengurusi Gia seharian. Waktu luang saya hanya malam hari ketika Gia sudah tidur dan rasanya capek banget dan malas buka laptop. Satu-satunya waktu yang tepat untuk menulis adalah ketika di kantor. Itu pun juga curi-curi waktu di tengah mengerjakan pekerjaan. Jadi, berhubung waktu yang tepat itu adalah sekarang, oke deh mari kita selesaikan tulisan ini.

Sebenarnya banyak hal-hal yang ingin saya ceritakan, terutama tentang pengalaman yang berhubungan dengan perbayian. Tapi untuk kali ini, saya akan bahas tentang cerita menyusui Gia selama 6 bulan ini.

Dari awal, saya memang ingin memberikan Gia ASI eksklusif dan akan selalu memperjuangkan niat saya ini setidaknya sampai 6 bulan. Alhamdulillah Gia lulus S1 ASI yang artinya Gia berhasil diberikan ASI eksklusif selama 6 bulan. Apakah semuanya berjalan lancar? Hmm sebenarnya nggak juga sih. Proses menyusui Gia ternyata ada dramanya yang kebanyakan datangnya dari ibunya alias saya sendiri.

Jadi, saya masuk ke kategori ibu-ibu yang diberikan anugerah ASI oleh Yang Maha Kuasa hanya dengan jumlah yang cukup menuju sedikit. Hari pertama Gia lahir, alhamdulillah ASI saya sudah keluar. Tapi saya baru memberikan ASI di hari ke-2 karena saya sempat transfusi darah pasca melahirkan. Ketika pertama kali nenenin Gia, dia sudah langsung bisa menghisap dengan benar. Hari demi hari kemudian semuanya berjalan lancar saja. Gia semakin lancar dan tetap mau menyusu langsung walaupun memang dia nggak terlalu banyak nenennya.

Untuk masalah makanan, mendadak saya jadi suka sayur. Mungkin sedikit terpaksa keadaan, jadinya suka ya. Segala macam sayur yang warna hijau saya makan demi ASI yang banyak; bayam, kangkung, buncis, bahkan daun katuk. Tapi ternyata kuantitas ASI saya nggak yang banyak banget seperti orang-orang. Setiap saya pompa, hasilnya hanya mentok di 20-30 ml per-sesi.

2

Karena hasil yang segitu-segitu aja, saya mulai mencoba mengkonsumsi ASI booster. Waktu itu saya minum teh pelancar ASI Mamabear. Hasilnya kuantitas ASI perah saya nggak terlalu yang fantastis seperti testimonial orang-orang. Ditambah mungkin kurang begitu cocok di Gia karena mendadak banyak bruntusan di wajahnya. Yup, sepertinya Gia alergi dengan teh tersebut. Akhirnya saya berhenti pakai booster tersebut.

Saya sempat curiga apakah karena pompa ASI saya yang manual menyebabkan kurangnya stimulus produksi ASI saya. Lagipula pakai pompa manual juga pegel banget dan nyuci perintilannya banyak. Waktu itu pompa manual saya merk Pigeon. Akhirnya saya ganti dengan pompa ASI sejuta umat, Spectra 9+ dengan harapan kuantitas ASI saya meningkat. Walaupun dual pump alias dapat dua buah pompa, waktu itu saya masih pakai satu pompa saja. Saya jadi lebih bersemangat memompa ASI saya karena gampang, nggak capek, dan nyucinya juga nggak begitu banyak.

Lalu, gimana hasilnya? Ya ada peningkatan sedikit tapi masih sekitar 20-40 ml per-sesi. Tapi jujur sih, saya memang nggak terlalu rajin memompa. Kombinasi capek karena kurang tidur, mengurus Gia sendirian, sempat baby blues, PD yang rasanya kosong setelah disedot Gia, dan malas mencuci pompa karena hasilnya sedikit dan effort nyucinya besar adalah penyebabnya. Dalam sehari, saya palingan cuma memompa 2-3 kali. Padahal saya tahu saya harus banyak menabung ASIP karena saya harus bekerja setelah cuti berakhir.

Sebagai penyemangat, saya sampai niat membeli freezer khusus ASI. Setelah beli, saya memang lebih semangat memompa dan frekuensi meningkat. Apalagi mengingat sudah mendekati hari masuk kerja lagi. Tapi setiap membuka pintu freezer, rasanya hampa banget. Ada perasaan sedih juga kenapa saya nggak bisa menghasilkan ASIP yang banyak kayak orang-orang.

Sampai suatu saat tiba lah saatnya saya harus melatih Gia pakai botol dot. Waktu itu adalah dua minggu sebelum masuk kerja. Iya, saya salah banget baru ngajarin Gia minum dari dot H-2 minggu begitu. Tapi semua ini beralasan: saya nggak mau ‘buang-buang’ ASIP saya yang hanya sedikit itu.

Botol dot yang waktu itu dipakai adalah Pigeon Peristaltic Slim Neck. Saya sudah punya tiga botol, hasil hunting di pameran bayi sebelum Gia lahir. Saya pikir, ya palingan Gia mau lah ya. Eh, ternyata saya salah dong. Gia menolak dikasih dot tipe itu berkali-kali. Padahal saya sudah sampai ganti dotnya supaya lebih besar lubangnya, tapi ya tetep Gia nggak mau sampai ASIP saya terbuang sia-sia sebanyak tiga kantong, yang mana satu kantongnya berisi 50 ml-an. Pada waktu itu udah paling pol banget menghasilkan jumlah segitu. Rasanya mau nangis deh pokoknya.

Akhirnya saya nyobain Pigeon Peristaltic Wide Neck yang lebih lebar dotnya. Dan alhamdulillah di percobaan pertama, Gia langsung mau latch dengan dotnya dan menghisap habis ASIP di dalamnya. Wuaaah rasanya seneng banget. Berkurang deh satu beban pikiran saya. Tinggal mikirin gimana cara meningkatkan produksi ASI.

Singkat cerita, saya sudah masuk kerja lagi. Saya bisa memompa ASI 2-4 kali di kantor. Dan ajaibnya hasilnya lumayan meningkat daripada saya memompa di rumah. Saya mulai menggunakan dual pump-nya juga agar lebih cepat memompa. Nggak lupa saya terus mengkonsumsi air putih sebanyak-banyaknya dan sayur setiap hari. Hasil pompa di awal-awal saya masuk kantor itu paling banyak 70 ml per-sesi. Tapi tetap saja nggak kekejar dengan stok ASIP yang ada di rumah karena memang hanya sedikit, sedangkan Gia minumnya mulai banyak.

3

Kepanikan saya akan hal tersebut akhirnya menghasilkan suatu keputusan: saya harus mencari donatur ASI. Atas izin suami, saya diperbolehkan untuk mencari donatur ASI untuk Gia daripada Gia harus menyerah ke susu formula (sufor). Dengan berbekal search and scroll di Instagram, saya menemukan donatur ASI yang cocok dengan profil yang diinginkan: anaknya perempuan, mengkonsumsi makanan halal, dan golongan darah O.

Beruntung saya menemukan Mbak Tsara, donatur ASI yang baiiik banget. Mbak Tsara welcome banget dan tanpa ragu memberikan 13 kantong ASIPnya kepada saya. Padahal saya sudah pesimis beliau nggak mau ngasih ke saya karena kan kondisi bayi saya bukan yang sakit atau gimana, tapi memang kurang stok karena ASI sedikit dan bekerja. Karena lokasi beliau jauh, beliau pun dengan baik hati mengizinkan saya untuk mengambil pakai kurir ASI.

Setelah mendapat donor ASIP dari Mbak Tsara, hidup saya sedikit tenang, sambil terus berusaha kejar tayang stok ASIP untuk Gia. Tapi, ternyata suppy and demand nggak seimbang. Gia makin banyak minumnya dan ternyata donor dari Mbak Tsara pun nggak cukup. Karena malu, nggak enak, dan jauh minta ke Mbak Tsara lagi, saya pun mencari lagi donatur ASI di Instagram dan ketemu lah dengan Mbak Risca.

Karena lokasinya dekat dengan rumah, saya mengambil sendiri ASIPnya ke rumah Mbak Risca. Kebetulan beliau juga maunya kita yang jemput sendiri ASIPnya, sekalian perkenalan dan tukar informasi karena ke depannya kan status Gia adalah saudara persusuan anak beliau.

Waktu ke rumahnya, saya kaget melihat dua freezer yang penuh dengan kantong ASIP sampai-sampai ketika dibuka pintunya langsung berjatohan saking penuhnya. Dari situ saya beneran takjub sekaligus minder. Alhamdulillah saya diberi jatah 15 kantong ASIP karena walaupun stok Mbak Risca banyak, tapi beliau lebih mementingkan ibu lain yang anaknya kurang beruntung rutin mengambil stok ASIPnya.

Beberapa minggu kemudian, stok dari Mbak Risca pun habis. Stok ASIP saya juga menipis. Saya pun sudah berpikiran untuk menyerah pada idealisme saya yaitu beralih ke sufor. Tapi kemudian saya selalu ingat Gia dan di setiap sesi pompa selalu berdoa supaya hasilnya banyak. Waktu itu saya bisa dapat 80 ml per-sesi.

Di tengah keputusasaan, saya coba mencari donatur lagi di Instagram. Kebetulan langsung ketemu dengan Mbak Shafira. Setelah tanya-tanya dan minta izin, beliau memperbolehkan saya untuk mengambil dengan syarat ke rumahnya. Karena pengalaman sebelumnya hanya diberikan belasan kantong ASIP, saya pun membawa cooler bag kecil yang biasanya saya bawa ke kantor.

Setelah bertemu dengan Mbak Shafira, orangnya ramah sekali. Dan saya kaget banget waktu dikasih satu kantong plastik besar yang berisi kantong ASIP plus ada yang dimasukkan ke cooler bag saya juga sampai penuh sesak. Ternyata setengah isi freezer beliau diberikan spesial untuk saya. Nggak ada yang bisa saya lakukan kecuali berterima kasih berkali-kali. Beliau juga sharing pengalaman menyusuinya dan juga berbagi tips and trick untuk meningkatkan jumlah ASI yaitu dengan cara power pumping diantara jam 12 malam sampai 5 pagi. Pokoknya terbaik banget deh Mbak Shafira ini.

Pulang dari rumahnya, saya benar-benar malu. Saya bertekad untuk tidak meminta donor ASI lagi dari siapapun. Saya harus benar-benar bisa berjuang sendiri kali ini. Ya iyalah, udah dikasih setengah isi freezer, masa mau minta lagi? Ya saya harus bisa dong. Pelan-pelan saya mulai berusaha lebih keras dan berdoa.

4

Saya mulai konsumsi ASI booster lagi; Herbs of Gold dan Mamanduy. Jadwal memompa juga dirutinkan 3-4 jam sekali. Setiap hari makan makanan bergizi dan banyak, nggak lupa juga air putihnya yang buanyaaak. Ya, alhamdulillah sekarang bisa menghasilkan sampai 160 ml per-sesi walaupun nggak selalu segitu sih. Tapi in total, sehari bisa menghasilkan 350-450 ml ASIP di kantor. Jumlah yang sangat besar versi saya.

Begitu lah kisah menyusui Gia selama 6 bulan ini. Berikutnya, selain terus maintain persediaan ASI, saya juga harus memikirkan menu MPASI untuk Gia. Karena perjalanan masih panjang, mohon doakan saya dan Gia ya gaes.

aaa

Advertisements

26

photo-1504288041952-91e61c2ebc6e

Sebelum saya menulis postingan ini, saya membaca postingan beberapa tahun yang lalu yang saya tulis setelah hari ulang tahun saya. Ya, postingan ‘wajib’ yang selalu saya tulis dalam rangka memperingati bertambahnya umur saya. Sewaktu membaca postingan tahunan dengan angka 25 di judulnya, saya terkejut. Itu berarti saya akan menulis postingan dengan angka 26 di judulnya. Seriusan nih saya sudah 26 tahun?!

Jujur, saya nggak menanti-nanti hari ulang tahun saya. Saat hari itu tiba, ya biasa saja. Kejadiannya ketebak. Ucapan selamat ulang tahun pertama saya datang dari suami saya di jam 3 pagi. Berikutnya, ucapan datang dari Papi jam 6 pagi. Ya, sudah ketebak juga. Ucapan selamat ulang tahun lainnya datang dalam bentuk teks yang dikirimkan lewat WhatsApp, LINE, atau direct message di Instagram.

Seiring bertambahnya usia, mengucapkan selamat ulang tahun di jam 12 malam nampaknya sesuatu yang nggak penting-penting amat karena yaaa ngapain juga gitu ngantuk, mendingan tidur kan ya. Ucapan yang diterima juga semakin sedikit. Hanya orang-orang terdekat yang memang ingat hari ulang tahun saya ditambah segelintir orang yang diingatkan oleh notifikasi di social media saya.

Kalau ditanya mau kado apa, hmm beneran nggak tahu mau kado apa. Kehadiran Gia sudah lebih dari cukup sebagai kado di umur ke-26 ini. Sejak ada Gia juga saya lebih jarang ingin beli ini itu untuk diri sendiri. Rasanya setiap punya uang lebih, saya ingin belanjakan untuk keperluan Gia saja, entah baju atau sepatu baru. Kayaknya memang semakin bertambah umur, semakin merasa kado itu bukan suatu kewajiban. Tapi ya kalau ada yang maksa mau kasih kado sih saya terima dengan senang hati.

Di umur 26 ini saya hanya inginkan adalah sehat selalu, rezekinya selalu dilancarkan oleh Allah, keluarganya selalu dilindungi oleh Allah, semakin terasah kedewasaannya, bisa menjadi ibu yang baik untuk Gia, dan di-amin-kan setiap doanya.

Amin.

aaa

Cerita Melahirkan

20171211_113023-01

Alhamdulillah hari Sabtu, 9 Desember 2017 kemarin telah lahir anak pertama saya dan suami yang kami beri nama Gianni Amirandria Susilo, atau yang akan selalu kami panggil Gia. Di postingan kali ini saya mau cerita tentang hari bersejarah itu, dimana saya akhirnya merasakan juga yang namanya melahirkan.

Dimulai jam 7 pagi, saya bangun tidur dan ternyata suami sudah nggak ada di tempat tidur. Saya bangun dari tempat tidur perlahan dan BLESSS! tiba-tiba saya kayak pipis banyak banget sampai netes ke lantai. Pipisnya keluar dengan sendirinya dan memang nggak tertahankan. Setelah saya cek, cairan yang barusan keluar itu nggak berbau dan warnanya bening. Pikiran saya waktu itu, ‘wah jangan-jangan ini air ketuban’. Tapi saya juga teringat seorang teman yang bilang kalau air ketuban itu baunya kayak pemutih pakaian.

Saya sempat ragu tapi entah kenapa mulai yakin dan sedikit takut kalau itu adalah air ketuban beneran. Saya langsung menelpon suami yang ternyata sedang lari pagi sekitar 1,5 km dari rumah dan meminta suami untuk segera pulang. Sementara itu saya langsung mandi dan dandan. Untungnya beberapa hari sebelumnya saya dan suami sudah menyiapkan tas darurat untuk saya, bayi, dan suami, jaga-jaga kalau sudah harus ke rumah sakit.

Sampai di rumah sakit sekitar jam 8 pagi dan kami langsung ke bagian kebidanan. Setelah menceritakan soal pipis tadi pagi, seorang suster menyuruh saya untuk tes kontraksi dengan CTG. 30 menit kemudian, hasil CTG keluar dan ternyata kontraksinya masih 15 menit sekali. Kebetulan banget tiba-tiba dokter kandungan saya, Dr. Maria, ada di tempat. Langsung deh minta tolong Dr. Maria untuk cek ini itu. Ternyata setelah dicek pembukaan, saya sudah pembukaan 1 menuju 2! Saya sudah nggak boleh pulang dan suami akhirnya mengurus untuk kamar rawat inapnya.

Dokter bilang akan dilihat perkembangannya dalam waktu 2 sampai 3 jam ke depan. Kalau pembukaannya belum nambah juga, disarankan untuk induksi saja. Karena dari awal saya ingin lahiran normal, saya pun jalan-jalan di sekitar rumah sakit supaya pembukaannya cepat bertambah. Saya juga diberikan obat supaya semua kotoran saya keluar. Kan nggak lucu ya kalau pas lahiran pupnya ikutan keluar.

Usaha saya untuk jalan kaki bolak-balik sana sini nggak membuahkan hasil. Setelah 3 jam dan dicek pembukaan lagi, ternyata belum bertambah pembukaannya. Akhirnya saya kembali jalan kaki bolak-balik sana sini dan rasanya seneng banget waktu pipis dan menemukan bercak darah. Saya semakin semangat untuk jalan-jalan lagi dan berharap supaya perut segera mules dan pembukaan bertambah.

Tapi ternyata setelah 6 jam sejak dinyatakan sudah pembukaan pertama itu, saya masih stuck di pembukaan yang sama. Memang nggak ada kontraksi yang kata orang-orang mules banget sampai pengen pup sih. Kontraksi yang saya rasakan masih sekedar perut yang mengeras dan mules biasa saja (saya bisa nulis gini setelah merasakan mules yang lebih dahsyat hahaha). Suster sudah menyarankan untuk induksi saja. Keputusan sebenarnya ada di tangan saya, apakah saya mau menunggu kontraksi alami saja atau induksi supaya cepat pembukaannya.

Saya sempat WhatsApp beberapa teman dan juga browsing mengenai induksi. Beberapa dari teman-teman saya nggak pernah merasakan induksi dan nggak menyarankan untuk induksi. Karena yang saya dan mereka tahu, induksi itu katanya sakit banget. Tapi mengingat sudah 6 jam lamanya masih gitu-gitu saja, ya sudah lah akhirnya saya bertekad untuk induksi saja dengan syarat mencoba untuk berjalan keliling rumah sakit lagi selama 1 jam.

Akhirnya tiba lah saatnya untuk diinduksi. Suster mempersilahkan saya untuk masuk ke ruang bersalin yang ternyata adalah kamar pasien. Saya pikir ruangannya akan horor seperti ruang operasi yang mana nggak boleh banyak orang yang masuk. Nyatanya yang menemani saya ada 3 orang; suami, Ibu saya, dan kakak ipar saya.

Dengan bermodal pasrah, saya tiduran di tempat tidur sambil menunggu suster mencari pembuluh darah untuk diinfus cairan induksinya. Eh tiba-tiba saja saya mendadak mules banget sampai ke tulang belakang, padahal infusnya belum masuk. Itu rasanya beneran sakit sakit banget satu badan. Setelah itu yang saya ingat adalah betapa sakitnya kontraksi yang makin menjadi-jadi plus cek pembukaan yang makin terasa sakit.

Entah jam berapa itu, tiba-tiba saya sudah pembukaan 4. Setelah itu kontraksi makin sakit dan saya cuma bisa minta tolong suami supaya terus di samping saya. Rasanya kesel banget waktu suami berdiri sebentar untuk mengambilkan saya minum dan waktu bilang ‘tarik nafas, buang’ terus menerus, padahal niatnya menyemangati ya haha maaf ya sayang.

Perasaan waktu berjalan lama banget dan saya hampir menyerah saking sakitnya. Dengan sotoynya saya minta ke suster untuk pakai ILA saja dan rasanya mau caesar saja. Tapi suster bilang nggak boleh dan terus menyemangati sampai tiba-tiba saya sudah pembukaan 9. Rasanya beneran pengen ngeden dan mules banget tapi nggak boleh. Itu rasanya kesel banget sih. Dan sedikit lega waktu susternya bilang sudah boleh latihan ngeden. Ya, latihan doang. Ngeden benerannya nanti masih nunggu dokter yang ternyata masih beberapa kilometer dari rumah sakit.

Dan ternyata ngeden itu nggak gampang saudara-saudara. Susternya sempat nanya apakah saya pernah ikut senam hamil atau nggak. Karena nggak pernah sama sekali, akhirnya saya otodidak belajar nafas disitu dibantu suster. Ternyata ngeden melahirkan itu nggak boleh merem, bukan ngeden di leher, dan nggak boleh bersuara apalagi teriak-teriak. Ngeden harus fokus mendorong bayi yang ada di vagina. Nah loh bingung nggak sih?

Saya mulai sedikit lega waktu suster bilang kalau kepala bayinya sudah mulai kelihatan. Tapi lagi-lagi saya belum boleh ngeden terlalu keras. Sampai akhirnya Dr. Maria datang terburu-buru dan entah apa yang dia lakukan di bawah sana, saya sudah nggak kerasa sakitnya. Saya hanya ingin ngeden dan mengeluarkan bayi ini secepatnya. Rasanya seneng banget waktu dokter menyuruh saya untuk ngeden dan tiba-tiba…

BLARRRRR!

Jam 18:40, bayi perempuan itu akhirnya lahir. Rasanya seperti ada yang keluar dengan cepat, pecah, basah, dan yang pasti lega banget. Disitu saya langsung nangis, apalagi waktu denger bayinya nangis dan diletakkan di atas dada saya. Alhamdulillah…

Akhirnya saya merasakan juga yang namanya melahirkan. Sekarang saya tahu, melahirkan itu memang perjuangan antara hidup dan mati, menyakitkan tapi nggak bikin trauma. Jadi, untuk para calon ibu yang mau melahirkan, selamat berjuang dan nggak usah takut. Insya Allah dengan doa, dukungan dari keluarga, dan semangat untuk bertemu adek bayi, proses melahirkan akan terlewati dengan selamat dan lancar. Aaamiin.

aaa