10 Tips Selalu Happy Menjadi Stay-At-Home Mom

supermom-730x511

Kalau kemarin sudah bahas working mom, sekarang saya mau bahas tentang stay-at-home mom yang ke depannya akan saya singkat menjadi SAHM. Saya masih baru banget jadi SAHM. Walaupun masih baru, saya mau kasih tips yang mungkin juga bisa jadi self reminder di kemudian hari kalau sampai saya mendadak bosan dengan peran ini. Jadi, apa saja cara-cara yang bisa dilakukan supaya tetap senang menjalani hari-hari sebagai SAHM?

  1. Buat jadwal kegiatan harian
    Segala sesuatu yang terplanning dengan baik adalah langkah awal untuk menuju kehidupan yang lebih teratur dan bahagia. Dengan membuat jadwal kegiatan setiap harinya, kita akan lebih paham harus melakukan apa pada jam berapa. Hal ini pastinya akan memaksimalkan pencapaian dalam melakukan kegiatan kita dan meminimalisir kebingungan saat ingin beraktivitas.

  2. Hindari keinginan untuk menjadi sempurna
    Perlu ditanamkan dalam diri bahwa menjadi SAHM bukan berarti semua urusan rumah dan anak harus kelar semua dengan sempurna. Rumah yang berantakan itu adalah hal wajar apalagi kalau punya anak-anak yang masih kecil. Setrikaan yang menumpuk dan belum sempat dikerjakan juga bukan berarti gagal menjalankan tugas rumah tangga. SAHM juga manusia biasa yang punya batas kemampuan diri, jadi nggak usah terlalu memaksakan diri untuk bisa mengerjakan semuanya sendiri dengan sempurna karena akan berakibat capek dan berujung emosi. 

  3. Minta bantuan pihak lain
    Menjadi SAHM bukan berarti semua urusan rumah dan anak harus ditangani sendirian. Nggak ada salahnya untuk mempekerjakan asisten rumah tangga untuk membantu mengerjakan pekerjaan rumah atau sekedar menjaga anak. Bisa juga menggunakan jasa orang lain seperti mengganti tugas memasak dengan pesan delivery makanan, mencuci baju dengan laundry kiloan, atau menjaga anak di daycare harian untuk sementara waktu.

  4. Sempatkan me time
    Untuk menjaga kewarasan, selalu sempatkan untuk melakukan me time paling nggak seminggu sekali. Lakukan kegiatan atau hobi yang paling disenangi sendirian. Ingat, namanya juga me time ya pastinya harus sendirian tanpa gangguan siapa pun. Dengan punya kegiatan me time, se-sederhana apapun kegiatannya dan se-sebentar apapun waktunya, pasti akan membuat pikiran lebih segar dan terhindar dari stress.

  5. Cari kegiatan baru di luar rumah
    Menjadi SAHM bukan berarti dikurung 24/7 di dalam rumah. Coba sesekali keluar rumah dan mencari kegiatan baru yang bisa dilakukan dengan anak. Misalnya pergi ke playground sehingga anak bisa bermain dan belajar hal baru juga sekalian mengasah skill sosialnya. Sekedar jalan-jalan keliling sekitar rumah juga sudah cukup untuk menghilangkan kejenuhan diri sendiri dan anak.

  6. Menjaga keharmonisan dengan pasangan
    Sesibuk dan secapek apapun setelah mengurus rumah dan anak, jangan lupakan suami. Tetap berkomunikasi sesimpel menanyakan hal-hal ringan seperti apakah sudah makan siang apa belum. Dengan cara ini suami akan merasa senang diperhatikan. Komunikasikan juga segala hal dengan pasangan, mulai dari kejadian di rumah seharian sampai perasaan yang kita alami beserta keluh kesahnya. Hal ini penting karena dengan menjaga keharmonisan rumah tangga akan membawa energi positif untuk menjalani hari-hari.

  7. Main ke rumah orang tua
    Berkunjung ke rumah orang tua pastinya mendatangkan banyak manfaat. Selain silahturahmi dengan orang tua, pastinya kita senang bisa ketemu dan ngobrol dengan orang dewasa lainnya setelah seharian penuh ngobrolnya sama anak, apalagi bayi. Pastinya orang tua juga akan senang bisa bertemu dengan cucunya dan kadang kita juga bisa beristirahat sedikit karena orang tua biasanya akan menemani cucunya bermain.

  8. Bertemu dengan teman-teman
    Adult talks yang paling seru adalah dengan teman-teman. Luangkan waktu untuk bisa bertemu dengan teman-teman supaya nggak bosan dan bisa tetap keep in touch dengan mereka. Kalau teman-teman kita juga sudah punya anak lebih seru lagi kalau kita ajak playdate bersama. Kita senang ketemu teman-teman, anak-anak pun juga bisa bertemu dengan sesama anak kecil sekalian melatih skill sosialnya.

  9. Ikut komunitas dengan ibu-ibu lain
    Sosialisasi setelah menjadi SAHM pasti akan berbeda dengan working mom. Kalau social circle para working mom biasanya sudah terbentuk karena lingkungan kantor, kalau SAHM biasanya harus cari sendiri. Bisa saja sih tetangga sebelah rumah atau teman-teman. Tapi sepertinya guna memperluas pergaulan dan menambah ilmu, nggak ada salahnya ikut komunitas yang isinya sesama ibu-ibu. Selain bisa sharing seputar masalah motherhood, kadang suka ada acara kopdarnya dan bisa playdate juga sesama anak-anaknya.

  10. Rewarding yourself
    Setelah 24/7 siap siaga mengurus rumah dan anak tanpa jatah cuti dan hari libur, wajar kalau kamu perlu memberi penghargaan kepada diri sendiri atas kerja keras selama ini. Sebulan sekali coba beri reward dengan cara membeli barang yang selama ini kamu idam-idamkan atau membelikan anak mainan/ buku yang bagus karena sudah bekerjasama dengan baik. Atau reward besar seperti jalan-jalan ke luar kota sekeluarga.

 

Perlu diingat kembali bahwa menjadi SAHM adalah pilihan pribadi yang mana kita sudah paham betul konsekuensi serta suka dukanya. Jadi, tetap semangat ya. Insya Allah kalau kita terus menjalaninya dengan ikhlas, sabar, dan enjoy, mudah-mudahan akan selalu dibukakan pintu kebahagiaan serta keberkahan. Stay happy, moms!

aaa

Advertisements

5 Alasan Untuk Tetap Menjadi Working Mom

happy-businesswoman-working-on-her-laptop-in-the-office_b0zxvt7ke_thumbnail-full01

Setelah menikah dan punya anak, nggak sedikit wanita bekerja yang merasa prioritasnya berubah disertai perasaan galau antara anak atau karir. Saya juga gitu dulu. Galaunya berbulan-bulan sampai akhirnya memutuskan untuk resign. Tapi, apakah benar resign adalah satu-satunya jalan yang terbaik untuk para wanita yang sudah menjadi ibu dan masih bekerja?

Setiap keluarga pasti punya prioritas dan masalahnya masing-masing. Jadi, kasus di keluarga saya nggak bisa disamakan dengan kasus keluarga lain dalam menentukan apakah peran sebagai ibu bekerja atau working mom adalah sebuah pilihan yang tepat atau tidak.

Seperti yang kita tahu, peran ibu sekarang dibagi menjadi tiga; working mom, working-at-home mom, dan stay-at-home mom. Apapun peran yang dijalani pasti ada konsekuensi dan suka dukanya masing-masing. Jadi, nggak ada tuh yang namanya salah satu peran itu adalah yang paling benar atau paling hebat. Karena kita semua sama: seorang ibu. Dan menjadi seorang ibu, apapun titel yang disandangnya adalah yang manusia yang hebat.

Di tulisan kali ini saya mau bahas untuk para working mom yang sedang galau tetapi masih menimbang-nimbang untuk resign atau nggak, saya mau kasih beberapa alasan kenapa sebaiknya ibu-ibu harus mikir ulang lagi sampai matang untuk tetap melanjutkan bekerja. Apa saja alasannya?

#1. Mendukung ekonomi keluarga
Sudah menjadi kewajiban suami untuk mencari nafkah. Tapi ada beberapa keluarga yang mengikutsertakan istrinya dalam mencari penghasilan karena tujuan finansial keluarga yang berbeda-beda. Kalau kamu adalah working mom dengan alasan masih bekerja untuk mendukung perekonomian keluarga, sebaiknya dipikirkan lagi untuk berhenti menjalankan peran working mom. Atau jika perlu, bicarakan lagi dengan suami tentang keuangan keluarga kalian

#2. Nggak bisa diam di rumah
Karakter orang beda-beda. Ada yang senang di rumah, ada juga yang nggak betah di rumah dan bawaannya ingin keluar rumah terus. Kalau kamu adalah tipe yang gampang bosan dan jenuh berdiam diri lama di rumah, sebaiknya buang jauh-jauh pikiran untuk convert dari peran working mom. Jika dipaksakan harus berada di rumah dalam waktu lama akan berdampak stress yang mana juga berakibat negatif terutama pada anak. Niat ingin mengurus anak malah adanya emosi dan marah-marah terus.

#3. Berorientasi pada karier
Bagi sebagian working mom pasti ada yang dari dulu punya cita-cita untuk berkarier setinggi mungkin. Walaupun sudah berkeluarga dan punya anak, nggak salah lho punya cita-cita mengembangkan karier asal tahu batas dan prioritas. Tentu akan berat sekali meninggalkan dunia pekerjaan di saat orientasi dan cita-cita seorang working mom adalah terus berkarier, terlebih jika posisi kariernya sudah tinggi. Dan mengubah cita-cita serta orientasi dalam waktu singkat itu nggak mudah dan bisa menyebabkan stress.

#4. Percaya diri saat aktualisasi diri di pekerjaan
Ada orang yang lebih percaya diri saat ia bisa menunjukkan kepada dunia siapa dirinya, dalam hal ini aktualisasi diri dalam pekerjaan. Ketika harus berhenti bekerja, ada kesempatan yang hilang seperti mengimplementasikan ilmu pada bidang pekerjaan dan bersosialisasi dengan banyak orang. Memang benar aktualisasi diri nggak terus hanya di pekerjaan kantoran, tapi nggak ada salahnya untuk tetap bertahan jika memang kepercayaan diri yang tinggi dan kenyamanan justru timbul saat kamu berkarya dan punya karier yang bagus.

#5. Masih suka shopping ini dan itu
Nah ini nih. Paham lah ya sebagai perempuan, pasti shopping alias belanja adalah kegiatan atau malah hobi yang menyenangkan. Sebagai working mom yang punya penghasilan sendiri, tentu nggak ragu ya kalau mau beli ini itu karena pakai uang sendiri, yang mana sebagian besar barangnya sebenarnya nggak penting-penting amat hehe. Kalau kamu masih suka belanja macam-macam dan masih belum bisa mengontrol hasrat belanja kamu, pikirkan lagi deh. Ketika kamu berhenti bekerja, otomatis uang yang kamu dapat hanya dari suami. Kan nggak enak dong kalau minta suami terus-terusan hanya untuk memenuhi kebutuhan belanja kamu.

Jadi, kalau kira-kira masih banyak checklist pada alasan-alasan di atas, maka sebaiknya dipikir lagi ya untuk mengakhiri peran sebagai working mom-nya. Karena jujur pengalaman pribadi, perubahan dari working mom ke stay-at-home mom itu benar-benar 180 derajat. Makanya, kalau masih belum bisa ‘ikhlas’, sebaiknya dipertahankan dulu ya. Tapi kalau hati sudah bisa menerima segala konsekuensinya di kemudian hari, ya sok atuh mangga.

Semangat ya buat para ibu dalam menjalani peran apapun. Insya Allah kalau dijalani dengan sepenuh hati dan enjoy, akan mendatangkan keberkahan. Amin.

aaa

5 Hal Yang Perlu Dipersiapkan Sebelum Menikah

photo-1515934751635-c81c6bc9a2d8(Photo credit: Beatriz Pérez Moya from unsplash.com)

Baru-baru ini ada seorang teman yang cerita kalau dia ingin menikah tahun depan. Sebelum dia menikah, dia nanya sama saya tentang pernikahan itu seperti apa, bagaimana persiapannya, dan apa saja sih hal-hal essentials yang harus dipikirkan matang-matang sebelum benar-benar menikah. Karena itu, terciptalah postingan ini sekalian saya mau sharing juga dari sudut pandang saya soal menikah.

Menikah itu apa sih?

Menikah itu bukan cuma serangkaian acara sehari penuh dengan dekorasi bagus, gaun mewah, dan makanan enak. Bukan sekedar akad, resepsi lalu dilanjutkan dengan acara honeymoon. Juga bukan hanya hubungan sah sebagai suami dan istri. Marriage is way beyond those things.

In my definition, marriage is all about sharing and learning. Yup, menikah itu berbagi dan terus belajar setiap harinya dengan pasangan. Berbagi emosi, finansial, kisah sehari-hari, tugas dan kewajiban, dan masih banyak lagi. Belajar untuk membagi prioritas, menomorduakan ego, memahami karakter pasangan, dan menerima segala kelebihan dan kekurangan pasangan kita. Wah kedengarannya berat dan ‘dewasa’ banget ya. But that’s the reality dealing with marriage.

Menjalani pernikahan itu bukan hal yang mudah dan nggak selalu penuh dengan kisah ‘happily ever after’ ala cerita negeri dongeng. Malah menurut saya tanggung jawab ketika dua orang berkomitmen untuk menikah itu berat lho. Makanya menurut saya perlu adanya persiapan matang sebelum benar-benar menikah. Apa saja yang harus dipersiapkan sebelum menikah?

1) Kemantapan hati
Nomor satu yang pasti harus benar-benar punya niat yang kuat untuk melangkah ke jenjang pernikahan. Selain niat, kemantapan hati juga diukur dari seberapa mantapnya kamu menikahi pasangan kamu. Coba direnungkan lagi, apakah kamu benar-benar sudah mempertimbangkan segala baik buruknya calon pasangan? Apakah kamu benar-benar sudah mantap dengannya? Nah, ini hanya kamu sendiri yang tahu jawabannya.

Jangan lupa untuk selalu berdoa minta petunjuk dari Tuhan, berdoa agar diberikan jalan yang lancar dalam mewujudkan niat baik untuk menikah. Dan yang pasti juga minta doa restu dari orang tua agar semua berjalan dengan lancar tanpa suatu kurang apapun.

2) Kesiapan mental dan fisik
Ini fundamental yang wajib banget kamu punya. Menikah itu butuh mental yang kuat disertai dengan kedewasaan yang matang. Mental yang kuat disini adalah bagaimana cara kamu bisa mengatur emosi kamu, cara merendahkan egomu untuk orang lain, cara kamu menerima kelebihan dan kekurangan pasangan, cara kamu untuk selalu berorientasi pada pembelajaran diri sendiri, serta cara menghadapi masalah yang akan muncul. Kalau kamu sudah punya kesiapan diri untuk hal-hal tersebut, go ahead.

Fisik juga nggak kalah penting dipersiapkan. Jaga kesehatan dengan cara mengatur pola makan, olahraga, dan istirahat yang cukup agar fisik kuat dalam menjalani rumah tangga nantinya. Ingat lho, kamu nggak sendiri lagi nanti. Kamu juga harus mengurus pasangan, maka dari itu jaga fisik supaya tetap sehat dan bugar.

3) Komunikasi yang baik
Komunikasi ini terbagi dua; dengan pasangan dan dengan keluarganya. Komunikasi yang baik antar pasangan pastinya adalah kunci utama dalam kesuksesan sebuah hubungan. Ketika menikah, semua hal yang dirasakan dan dialami bukan lagi menjadi rahasia pribadi. Pasangan wajib tahu supaya nggak ada yang dipendam sendiri yang mana akan jadi bom waktu. Maka dari itu bicarakan segala hal dengan pasangan secara terbuka, suka atau nggak suka, menyenangkan atau menyakitkan.

Ketika kamu menikah, kamu nggak cuma menikahi pasangan kamu, tapi juga keluarganya. Maka dari itu kamu sebaiknya juga menjalin relationship yang baik pula dengan keluarganya. Sebaiknya kamu sudah mulai mendekat dengan keluarganya sebelum menikah sekalian belajar memahami karakter calon keluarga serta adat dan kebiasaan yang diterapkan dalam keluarga. Komunikasi yang lancar dan baik dengan keluarga pasangan juga akan membawamu ke pernikahan yang bahagia karena pastinya pasangan lebih senang karena kamu dekat dengan keluarganya.

4) Finansial yang cukup
Saya nggak bilang harus mapan, tapi cukup. Sekedar cinta dan mental yang kuat belum cukup untuk membangun sebuah rumah tangga. Logika aja sih, pasti lah sebuah keluarga harus punya finansial yang cukup, at least untuk dua orang. Maka sebelum menikah, pastikan kamu sudah berhitung secara finansial untuk kebutuhan rumah tanggamu kelak.

Karena isu soal uang ini sensitif banget, sebaiknya kamu melakukan simulasi perhitungan finansial berdua dengan pasangan agar saling terbuka dalam mengatur keuangan. Bicarakan juga tentang siapa yang akan mengatur keuangan dan cara-caranya supaya nggak kaget dan bertanya-tanya kemana larinya uang setiap bulannya nanti waktu sudah menikah.

5) Agama yang kuat
Sebagai orang yang beragama, poin ini penting menurut saya. Menikah itu bagian dari ibadah. Maka sebaiknya sebelum menikah, persiapkan lah diri sebaik-baiknya dengan mengisi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Terutama untuk yang laki-laki, sebaiknya perdalam ilmu agama yang kuat agar bisa membimbing istrinya kelak saat berumah tangga.

Menurut saya, orang yang punya agama kuat juga lebih besar kemungkinannya untuk berbuat yang dilarang agama, yang mana pastinya akan mendatangkan kebahagiaan dalam rumah tangga. Jadi, persiapan dunia dan akhirat harus seimbang ya supaya selalu tercipta keluarga sejahtera dan harmonis.   

 

Nah, itu dia beberapa hal yang harus dipersiapkan sebelum menikah versi saya. Ingat, menikah itu pilihan, bukan sebuah pencapaian. Semoga bermanfaat dan selamat mempersiapkan pernikahan ya! Good luck!

aaa